
Utang kadang dipilih jadi solusi kalau ada kebutuhan mendesak atau pengeluaran besar yang belum sanggup ditanggung dari tabungan. Ya sebenarnya enggak masalah, selama kita bisa bayarnya. Tapi, kalau bayarnya pakai pinjaman baru, ya jadinya masalah besar. Pola gali lubang tutup lubang seperti ini bisa bikin kita terjebak utang yang enggak ada habisnya.
Kalau hal ini berlangsung berbulan-bulan, kondisi keuangan bakalan semakin sulit dikendalikan. Lama kelamaan, utang bisa mengganggu kebutuhan pokok dan membuat kamu terus mencari sumber pinjaman berikutnya.
Table of Contents
Apa Itu Gali Lubang Tutup Lubang?

Gali lubang tutup lubang adalah kondisi ketika utang baru digunakan untuk membayar utang yang sudah ada. Misalnya, kamu punya cicilan Rp1 juta yang jatuh tempo minggu ini, tetapi uang di rekening hanya Rp600 ribu. Kekurangannya kemudian ditutup dengan pinjaman dari aplikasi, kartu kredit, teman, atau sumber lain. Bulan berikutnya, muncul kewajiban baru yang harus dibayar bersama cicilan sebelumnya.
Masalahnya ada pada siklus yang terus berulang. Gali lubang tutup lubang membuat utang enggak benar-benar berkurang karena pembayaran hanya memindahkan beban dari satu sumber ke sumber lain.
Jika pinjaman baru memiliki bunga, biaya layanan, denda, atau tenor yang pendek, total uang yang harus dikeluarkan bisa semakin besar. Penghasilan pun makin banyak tersedot untuk membayar utang.
Baca juga: 8 Langkah Mengelola Utang agar Tidak Menumpuk
Cara Mencegah Gali Lubang Tutup Lubang

Mencegah kondisi ini akan butuh perubahan pada cara mengatur utang dan arus kas. Kamu perlu melihat berapa uang yang masuk, berapa kewajiban yang harus dibayar, serta apakah cicilan yang dimiliki masih sanggup ditanggung dari penghasilan rutin.
Beberapa langkah berikut bisa membantu menghentikan pola gali lubang tutup lubang sebelum utang semakin sulit dikendalikan.
1. Catat Seluruh Utang yang Masih Berjalan
Mulailah dengan membuat daftar semua utang. Catat nama pemberi pinjaman, jumlah sisa pokok, cicilan per bulan, bunga atau biaya tambahan, serta tanggal jatuh temponya.
Jangan hanya mencatat utang dengan nominal besar. Cicilan kecil yang tersebar di beberapa tempat juga perlu dimasukkan. Setelah semuanya terkumpul, kamu bisa melihat jumlah kewajiban secara utuh. Angka tersebut sering kali lebih berguna daripada sekadar mengingat nominal cicilan satu per satu.
Daftar ini juga membantu menentukan utang mana yang harus mendapat perhatian lebih dulu. Utang dengan bunga tinggi atau denda besar dapat menjadi prioritas agar biayanya enggak terus membengkak.
2. Berhenti Mengambil Pinjaman untuk Menutup Cicilan
Selama masih ada pemasukan yang bisa digunakan untuk membayar kewajiban, usahakan jangan menambah pinjaman baru hanya supaya cicilan lama lunas. Kebiasaan gali lubang tutup lubang bakalan susah berhenti kalau setiap kekurangan kas langsung diselesaikan dengan utang berikutnya.
Kalau uang yang tersedia memang belum cukup, cari tahu dulu penyebabnya. Apakah cicilan terlalu besar? Apakah pengeluaran rumah tangga meningkat? Atau ada pembayaran lain yang mengambil porsi penghasilan terlalu besar?
Jawaban tersebut penting karena solusi harus menyentuh sumber masalahnya. Menambah pinjaman hanya membuat jumlah kewajiban semakin panjang.
3. Buat Anggaran Khusus untuk Pembayaran Utang
Pisahkan uang untuk cicilan segera setelah menerima penghasilan. Dengan cara ini, dana yang mau dipakai untuk bayar utang enggak bercampur dengan uang untuk makan, transportasi, tagihan rumah, atau kebutuhan lain.
Misalnya, penghasilan bersih kamu Rp6 juta per bulan dan total cicilan mencapai Rp2 juta. Sisihkan Rp2 juta tersebut lebih dulu sesuai jadwal pembayaran. Sisa Rp4 juta baru digunakan untuk kebutuhan lain.
Kalau nominal cicilan sudah mengambil porsi yang terlalu besar, catatan anggaran akan bisa kasih kamu data riilnya. Kamu bisa tahu berapa banyak uang yang masih tersedia untuk kebutuhan harian dan apakah ada ruang untuk membayar utang lebih cepat.

4. Pangkas Pengeluaran yang Bisa Ditunda
Saat cicilan mulai menekan arus kas, pengeluaran konsumtif perlu diperiksa satu per satu. Bukannya mau bikin pengeluaran menjadi serba ketat sih. Tapi, kamu kan lagi mencari ruang supaya penghasilan bisa lebih banyak diarahkan untuk kebutuhan utama dan pembayaran utang.
Jadi, enggak apa hemat kecil-kecil. Ingat kan, pepatah sedikit-sedikit jadi bukit? So, selama beberapa bulan, hemat kecil-kecil ini bisa menambah dana juga, eventually. Uang Rp20 ribu atau Rp30 ribu yang enggak jadi keluar juga lumayan jumlahnya kalau bisa kekumpul konsisten.
5. Hubungi Pemberi Pinjaman jika Cicilan Mulai Sulit Dibayar
Jangan menunggu sampai jatuh tempo kelewat berkali-kali. Kalau kondisi keuangan berubah dan cicilan mulai sulit dipenuhi, hubungi pihak pemberi pinjaman untuk menanyakan pilihan yang tersedia.
Ya, barangkali ada fasilitas restrukturisasi, perubahan jadwal pembayaran, atau opsi lain sesuai ketentuan mereka, ya kan? Enggak semua permintaan pastinya akan disetujui ya, tetapi seenggaknya komunikasi lebih baik daripada menghilang lalu mengambil pinjaman baru untuk membayar tagihan lama.
Sebelum menyetujui perubahan apa pun, periksa kembali total biaya yang harus dibayar, tenor, bunga, dan konsekuensi lainnya.
6. Sisihkan Dana Darurat setelah Kondisi Mulai Stabil
Dana darurat punya fungsi penting ketika penghasilan tiba-tiba berkurang atau ada kebutuhan mendesak. Tanpa cadangan uang, pengeluaran tak terduga bisa bikin kamu cari pinjaman lagi, soalnya.
Kamu bisa memulainya dengan nominal kecil setelah kewajiban utama mulai terkendali. Misalnya Rp100 ribu atau Rp200 ribu setiap kali menerima penghasilan. Simpan di tempat yang terpisah dari rekening untuk kebutuhan sehari-hari supaya enggak mudah terpakai.
Dana ini bukan pengganti anggaran bulanan. Fungsinya sebagai bantalan ketika muncul pengeluaran yang memang enggak bisa ditunda.
7. Evaluasi Kemampuan Membayar sebelum Mengambil Utang Baru
Sebelum mengajukan pinjaman, hitung dulu cicilan baru bersama seluruh cicilan yang sudah berjalan. Jangan hanya melihat apakah kamu bisa membayar cicilan pada bulan pertama.
Perhitungkan juga biaya hidup, tagihan rutin, kebutuhan keluarga, tabungan, serta kemungkinan pengeluaran tak terduga. Kalau setelah semua dihitung uang bulanan nyaris habis, pinjaman tersebut berisiko membuat arus kas semakin sempit.
Pertanyaan yang perlu dijawab adalah, apakah cicilan baru masih bisa dibayar dari penghasilan tanpa mengorbankan kebutuhan utama? Kalau jawabannya meragukan, lebih baik tunda keputusan tersebut dan cari pilihan lain.
Baca juga: Strategi Melunasi Utang Paylater yang Efektif
Utang bukan selalu tanda kondisi finansial yang buruk. Masalah muncul ketika cicilan mulai menghabiskan sebagian besar penghasilan dan membuat kamu harus meminjam lagi untuk membayar kewajiban sebelumnya.
Kalau pola gali lubang tutup lubang kayak gini mulai muncul, segera lihat kembali seluruh utang, pengeluaran, dan kemampuan membayar. Semakin cepat siklus tersebut dihentikan, semakin besar peluang untuk mengembalikan kondisi keuangan ke keadaan yang lebih terkendali.
Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.
Follow juga Instagram QM Financial, untuk berbagai tip, informasi, dan jadwal kelas terbaru setiap bulannya, supaya nggak ketinggalan update!




