
Mempersiapkan dana pensiun sejak masih produktif akan bisa bantu menjaga kondisi keuangan kamu ketika penghasilan dari pekerjaan mulai berkurang. Ada berbagai produk dana pensiun yang bisa dipilih. Tentu saja, masing-masing punya aturan, manfaat, biaya, dan mekanisme pengelolaan yang berbeda.
So, pilihan produk sebaiknya disesuaikan dengan kondisi keuangan dan rencana pensiun masing-masing.
Menentukan pilihan juga perlu melihat kebutuhan dalam jangka panjang. Produk yang terlihat menarik dari sisi imbal hasil belum tentu cocok dengan target usia pensiun, kemampuan menyisihkan uang setiap bulan, atau tingkat risiko yang sanggup ditanggung.
Supaya enggak cuma ikut-ikutan pilihan orang lain, ada beberapa hal yang bisa diperiksa sebelum menentukan produk.
Table of Contents
Kenali Karakter Produk Dana Pensiun Sebelum Memilih

Setiap produk dana pensiun punya karakteristik sendiri. Makanya penting buat kamu untuk memahami cara kerja produk dana pensiun. Dengan begitu, kamu bisa menilai apakah produk tersebut sesuai dengan rencana keuangan kamu atau enggak.
Berikut beberapa langkah yang bisa kamu lakukan.
1. Tentukan Target Dana Pensiun Terlebih Dahulu
Sebelum memilih produk, tentukan dulu berapa target dana pensiunmu. Angkanya bisa dihitung dari kebutuhan hidup saat ini, perkiraan usia pensiun, inflasi, serta sumber penghasilan yang masih mungkin diterima setelah berhenti bekerja.
Misalnya, kamu pengin pensiun di usia 55 tahun. Setelah dihitung-hitung, kamu sepertinya akan butuh sekitar Rp8 juta per bulan untuk hidup. Nah, ini hitungan sekarang. Untuk beberapa tahun ke depan, ya kudu diproyeksikan ke masa depan karena harga barang dan jasa dapat meningkat.
Target dana juga perlu mempertimbangkan berapa lama masa pensiunnya. Kalau kamu pengin berhenti kerja di usia 55 tahun, terus angka harapan hidupnya di usia 80 tahun, nah, berarti ada sekitar 25 tahun pengeluaran yang perlu disiapkan.
Perhitungan seperti ini membantu menentukan besarnya kontribusi yang perlu disisihkan secara rutin. Kalau enggak ada target, nominal setoran bisa saja cuma ngikutin kemampuan saat ini. Untuk kebutuhan nanti, enggak tahu cukup apa enggak.
Baca juga: Sudah Bertahun-tahun Bekerja tapi Belum Siap Pensiun, Harus Mulai dari Mana?
2. Periksa Siapa Pengelola dan Bagaimana Mekanismenya
Saat memilih produk dana pensiun, lihat siapa lembaga yang mengelolanya dan bagaimana mekanisme pengelolaan dana tersebut.
Di Indonesia, terdapat beberapa bentuk dana pensiun dengan karakteristik yang berbeda, termasuk Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) dan Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK).
DPPK dibentuk oleh pemberi kerja untuk menyelenggarakan program pensiun bagi karyawannya. Sementara itu, DPLK dibentuk oleh bank atau perusahaan asuransi jiwa untuk menyelenggarakan program pensiun iuran pasti bagi perorangan maupun kelompok pekerja.
Informasi mengenai pengelola penting diperiksa karena dana akan ditempatkan dalam jangka panjang. Jadi, cari tahu status lembaga, aturan kepesertaan, hak peserta, mekanisme pembayaran manfaat, serta ketentuan kalau misalnya nanti kamu pengin berhenti kerja atau pengin mengubah kepesertaan.
3. Sesuaikan Iuran dengan Kondisi Keuangan
Besarnya iuran perlu disesuaikan dengan arus kas bulanan. Jangan sampai setoran dana pensiun malah bikin pos kebutuhan rutin atau kewajiban keuangan lain jadi keganggu.
Coba hitung berapa nominal yang bisa disisihkan secara konsisten. Untuk pekerja dengan penghasilan tetap, perencanaan iuran bulanan bisa dibuat lebih teratur. Tapi, kalau penghasilanmu masih belum stabil, naik turun atau enggak tetap, pakai angka rata-rata yang realistis.
Produk dana pensiun akan lebih bermanfaat jika kontribusinya bisa dilakukan secara konsisten dalam waktu panjang. Kalau kadang setor kadang enggak, ya hasilnya juga enggak akan maksimal.
Perhatikan juga apakah ada kontribusi dari perusahaan. Pada program pensiun tertentu, pemberi kerja ikut memberikan iuran untuk karyawan. Kalau fasilitas ini ada, pahami aturan kontribusi dan hak yang akan diperoleh sebagai peserta.

4. Cek Pilihan Investasi dan Tingkat Risikonya
Dana pensiun umumnya ditempatkan pada instrumen investasi tertentu sesuai dengan ketentuan dan pilihan yang tersedia. Nah, komposisinya ini bisa memengaruhi hasil.
Kalau usia pensiun masih cukup jauh, ya bisa saja masih cukup longgar risiko fluktuasi investasinya. Tapi begitu masa pensiun mendekat, nah, risikonya juga akan semakin tinggi.
So, jangan hanya melihat angka imbal hasil historis. Periksa juga instrumen yang digunakan, tingkat risikonya, kebijakan investasi, serta bagaimana perubahan pilihan investasi dapat dilakukan jika fasilitas tersebut tersedia.
Ingat ya, hasil investasi masa lalu enggak jadi jaminan hasil pada masa mendatang lho. Informasi kayak gini tuh lebih tepat kalau dipakai untuk memahami karakter produk dan rekam jejak pengelola. Bukan untuk menghitung hasil, apalagi mengharapkan kepastian.
5. Bandingkan Biaya yang Dikenakan
Kalau lagi memilih produk dana pensiun, kebanyakan orang cuma fokus ke tabel ilustrasi imbal hasil. Jarang yang lihat sampai ke detail biayanya.
Padahal, dana akan dikelola dalam jangka panjang. Jadi, biasanya ya ada biaya rutin, yang nantinya bisa memengaruhi nilai dana yang terkumpul.
So, jangan sampai kelewat ya. Periksa jenis biaya yang berlaku, misalnya biaya administrasi, biaya pengelolaan investasi, biaya pengalihan, atau biaya lain sesuai ketentuan produk. Jangan hanya melihat nominal biaya dalam satu periode.
Coba lihat dampaknya dalam jangka panjang. Misalnya, terdapat dua produk dana pensiun dengan karakter investasi serupa, tetapi salah satunya mengenakan biaya lebih tinggi. Selisih biaya yang terlihat kecil dalam satu tahun bisa menjadi lebih berarti jika berlangsung selama belasan atau puluhan tahun.
Informasi biaya sebaiknya dibaca dari dokumen resmi produk. Kalau ada istilah yang belum dipahami, ya segera tanyakan, sebelum menjadi peserta.
6. Pelajari Aturan Pencairan dan Manfaat Pensiun
Ada aturan mengenai kapan dan bagaimana manfaat dana pensiun dapat diterima. Bagian ini perlu kamu perhatikan sejak awal. Pasalnya, dana pensiun memang dirancang untuk kebutuhan masa pensiun, sehingga penggunaannya enggak sebebas tabungan biasa.
Cari tahu usia pensiun yang ditetapkan, bentuk manfaat yang diberikan, ketentuan pencairan, serta kondisi yang memungkinkan manfaat diterima sebelum usia pensiun. Periksa juga ketentuan apabila peserta meninggal dunia dan bagaimana hak atas dana tersebut diberikan kepada yang berhak.
Informasi ini penting terutama bagi pekerja yang memiliki rencana keuangan lain. Jangan sampai dana yang diperkirakan bisa digunakan pada usia tertentu ternyata memiliki aturan pencairan yang berbeda dari perkiraan.

7. Cocokkan dengan Rencana Pensiun secara Keseluruhan
Memilih produk dana pensiun ini kan seharusnya memang jadi bagian dari perencanaan keuangan yang luas, yang mencakup seluruh hidup kita nih. Jadi, dana pensiun sebaiknya juga enggak jadi satu-satunya sumber yang bisa kamu gunakan untuk memenuhi kebutuhan setelah berhenti bekerja nanti.
Kamu bisa melihat seluruh aset dan sumber pendapatan yang diproyeksikan ada saat pensiun. Misalnya, kamu punya tabungan, investasi, aset properti, jaminan pensiun dari pekerjaan, atau sumber penghasilan pasif. Nah, bikin deh daftar selengkapnya.
Dari sini, kebutuhan terhadap produk pensiun bisa terlihat lebih jelas. Kalau sebagian kebutuhan sudah dipenuhi oleh sumber lain, kekurangannya bisa dirancang untuk dipenuhi oleh program pensiun yang mau kamu pilih ini.
Nah, tapi, kalau dana pensiun jadi sumber utama untuk biaya hidup setelah berhenti bekerja, target kontribusi perlu diperhitungkan dengan lebih serius.
Perencanaan juga sebaiknya direview berkala. Penghasilan, usia, kondisi keluarga, target pensiun, dan kemampuan investasi bisa berubah. Ketika kondisi berubah, strategi menyiapkan dana pensiun mungkin perlu disesuaikan.
Baca juga: Pentingnya Dana Pensiun bagi Karyawan agar Tetap Mandiri di Hari Tua
Pilih Produk Berdasarkan Angka dan Rencana Pensiun
Memilih produk dana pensiun bukan sekadar mencari produk dengan potensi hasil investasi tertentu. Ada target dana yang perlu dihitung, kemampuan membayar iuran, risiko yang sanggup ditanggung, biaya pengelolaan, aturan pencairan, serta kondisi keuangan secara keseluruhan.
Dengan melihat faktor-faktor tersebut, pilihan produk bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan rencana pensiun yang ingin dicapai.
Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.
Follow juga Instagram QM Financial, untuk berbagai tip, informasi, dan jadwal kelas terbaru setiap bulannya, supaya nggak ketinggalan update!




