
Ngikutin perdebatan soal gaya hidup vs kebutuhan hidup di media sosial enggak? Ada yang menganggap ngopi di kafe sekarang itu jadi kebutuhan karena dilakukan hampir setiap hari. Biar waras, katanya. Tapi ada juga yang downgrade ke kopi saset, karena ngopi di kafe itu dirasa gaya hidup saja.
Nah, kamu tim mana nih kalau soal ngopi?
Perdebatan semacam ini menarik karena setiap orang punya kebiasaan dan prioritas masing-masing, dan enggak ada yang benar 100% ataupun salah 100% juga.
Bagi kamu, makan di luar mungkin sudah jadi bagian dari rutinitas karena sibuk bekerja. Namun, bagi orang lain, pengeluaran itu bisa dianggap sebagai sesuatu yang masih dapat dikurangi.
Lha terus, gimana ya caranya membedakan gaya hidup dan kebutuhan hidup supaya pengeluaran tetap terkendali?
6 Perbedaan Gaya Hidup dan Kebutuhan Hidup dalam Keseharian

Sekilas, keduanya memang bisa saling beririsan. Kamu mungkin membeli sesuatu karena merasa membutuhkannya, padahal ada pilihan lain yang lebih hemat. Sebenarnya juga enggak masalah sih, kan kamu juga punya pertimbangan pribadi. Hanya saja memang perlu dikenali dan diatur, sehingga keuangan juga tetap terkendali. Apalagi in this economy, ya kan?
Supaya tidak bingung, coba lihat beberapa perbedaan gaya hidup vs kebutuhan hidup berikut melalui contoh yang sering ditemui sehari-hari.
1. Kebutuhan Hidup Berhubungan dengan Keperluan Sehari-hari
Makan, tempat tinggal, pakaian, transportasi, dan biaya kesehatan termasuk kebutuhan yang perlu dipenuhi setiap hari. Tanpa hal-hal tersebut, aktivitas sehari-hari bisa terganggu. Kamu perlu makan agar punya energi, membayar tempat tinggal agar punya ruang untuk beristirahat, dan menyiapkan ongkos untuk pergi bekerja.
Tentu, kebutuhan setiap orang bisa berbeda. Orang yang bekerja dari rumah mungkin enggak perlu ada ongkos transportasi setiap hari. Sementara itu, pekerja yang harus berpindah tempat untuk menemui klien bisa membutuhkan biaya perjalanan lebih besar.
Baca juga: 5 Cara Agar Gaya Hidup Sejalan dengan Gaji
2. Gaya Hidup Dipengaruhi Kebiasaan dan Selera
Gaya hidup terlihat dari pilihan yang kamu lakukan sehari-hari. Misalnya, kamu suka mencoba restoran baru, rutin membeli kopi dari kafe favorit, atau senang mengganti ponsel setiap kali ada model terbaru.
Kegiatan tersebut sah-sah saja dilakukan selama sesuai dengan kemampuan keuangan. Namun, kamu perlu tahu alasan di balik setiap pengeluaran. Apakah barang itu memang dibutuhkan, atau kamu membelinya karena sedang tren dan teman-temanmu juga memilikinya?
3. Kebutuhan Perlu Didahulukan saat Mengatur Uang
Bayangkan kamu baru menerima gaji bulanan. Ada tagihan kos yang harus dibayar, uang belanja untuk makan, ongkos kerja, dan keinginan untuk membeli sepatu baru. Semuanya membutuhkan uang, tetapi tingkat kepentingannya berbeda.
Kamu bisa menyelesaikan kebutuhan rutin terlebih dahulu, kemudian menghitung sisa uang untuk keperluan lain. Belanja buat makan, tagihan kos, dan ongkos pastinya harus dipenuhi dulu. Sementara, kalau sepatu lama masih nyaman dipakai, ya enggak perlu beli sepatu baru dulu. Uangnya bisa dialihkan untuk menabung atau disimpan sebagai dana darurat.

4. Gaya Hidup Bisa Berubah Seiring Kondisi Keuangan
Saat penghasilan bertambah, kamu mungkin mulai lebih sering makan di luar, lebih sering nongkrong di kafe, atau memilih layanan transportasi yang lebih nyaman. Nah, sebaliknya, kalau penghasilan sedang berkurang, ada yang bisa di-downgrade.
Perubahan gaya hidup seperti ini wajar saja sebenarnya. Prinsipnya, kamu hanya perlu memastikan pengeluaran tetap sejalan dengan kemampuan finansial.
5. Yang bagi Kita Gaya Hidup, Bisa Saja Jadi Kebutuhan bagi Orang Lain, dan Itu Enggak Salah
Enggak semua pengeluaran bisa dinilai dengan ukuran yang sama. Namanya juga personal finance, makanya ya berlaku secara personal.
Ambil contoh laptop. Bagi pekerja seperti para programmer, desainer grafis, analis data, dan sejenisnya, laptop dengan spek tinggi adalah kebutuhan penting. Sementara, untuk profesi yang lain ya bisa menyesuaikan saja.
Contoh lain adalah kendaraan pribadi. Bagi orang yang tinggal jauh dari transportasi umum, kendaraan akan jadi kebutuhan. Namun, bagi orang yang tinggal dekat kantor dan memiliki akses transportasi memadai, punya kendaraan tambahan itu pilihan.
So, sebenarnya kita enggak bisa memperdebatkan misalnya barang A dan barang B itu gaya hidup atau kebutuhan. Karena, tergantung masing-masing orang.

6. Menikmati Hidup Tetap Bisa Dilakukan Tanpa Boros
Mengatur keuangan bukan berarti kamu harus berhenti nongkrong, membeli barang kesukaan, atau menikmati hiburan. Kamu tetap bisa melakukan semua itu dengan menetapkan batas pengeluaran yang sesuai dengan penghasilan.
Misalnya, kamu mengalokasikan sejumlah uang setiap bulan untuk makan di luar. Kalau anggarannya sudah habis, kamu bisa memilih memasak di rumah sampai bulan berikutnya. Cara ini membantu kamu menikmati kesenangan dan gaya hidup tanpa mengganggu anggaran kebutuhan.
Baca juga: Cara Tetap Menikmati Hidup Tanpa Harus Boros di Masa Ekonomi Sulit
Membedakan gaya hidup dan kebutuhan hidup bisa membantu kamu mengambil keputusan keuangan dengan lebih bijak. Kamu tetap boleh menikmati hal-hal yang disukai, selama kebutuhan utama terpenuhi dan pengeluaran masih sesuai kemampuan.
Sebelum membeli sesuatu, coba tanyakan kepada diri sendiri apakah barang itu memang diperlukan atau sekadar diinginkan. Jawabannya bisa membantumu menentukan prioritas tanpa harus menghilangkan kesenangan dalam keseharian.
Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.
Follow juga Instagram QM Financial, untuk berbagai tip, informasi, dan jadwal kelas terbaru setiap bulannya, supaya nggak ketinggalan update!




