
Di tengah kondisi ekonomi yang masih dalam ketidakpastian, bikin dana darurat memang jadi PR besar. Betul apa betul? BBM naik, harga kebutuhan pokok dan tagihan rumah tangga terus bertambah, sementara penghasilan masih saja stagnan atau bahkan berkurang.
Akibatnya, menabung harus diturunkan prioritasnya, karena kebutuhan sehari-hari terasa lebih mendesak. Padahal, saat situasi ekonomi sedang enggak pasti seperti sekarang, tabungan cadangan justru menjadi salah satu benteng keuangan yang paling penting.
Table of Contents
Cara Tetap Menabung untuk Dana Darurat in This Economy

Kabar baiknya, membangun dana darurat itu enggak selalu harus dimulai dengan nominal besar. Dengan strategi yang tepat dan disiplin yang konsisten, kita tetap bisa kok bikin tabungan ini meskipun kondisi keuangan sedang ketat.
1. Hitung Kebutuhannya secara Realistis
Langkah pertama adalah mengetahui berapa target dana darurat yang perlu dikumpulkan. Jangan langsung terpaku pada angka besar yang membuat kamu merasa terbebani.
Jika kondisi keuangan sedang ketat, fokuslah pada target awal yang lebih kecil, misalnya dana untuk kebutuhan satu bulan terlebih dahulu. Satu minggu juga enggak apa lho.
Setelah target pertama tercapai, kamu bisa menambahnya secara bertahap. Cara ini membuat proses menabung terasa lebih ringan dan enggak mengganggu kebutuhan sehari-hari. Yang terpenting, tabungan ini mulai terbentuk meskipun nominalnya belum besar.
Baca juga: Dana Darurat di Era Sekarang: Masih Relevan atau Perlu Disesuaikan?
2. Sisihkan Uang di Awal, Bukan Menunggu Sisa
Kadang kita memang bisa menabung dari uang yang tersisa di akhir bulan. Cuma, sayangnya, lebih sering enggak ada uang sisa.
So, karena jarang ada uang sisa belanja, lebih baik biasakan menyisihkan dana segera setelah menerima gaji atau penghasilan saja. Rp10.000 sampai Rp20.000 juga bagus, daripada enggak menabung sama sekali. Dengan begini, dana darurat dapat tumbuh perlahan tanpa terasa terlalu membebani.
3. Kurangi Pengeluaran yang Enggak Benar-Benar Penting
Saat kondisi keuangan sedang sulit, setiap rupiah menjadi lebih berharga. Coba periksa kembali pengeluaran bulanan dan cari pos yang masih bisa dikurangi. Misalnya mengurangi frekuensi membeli kopi di luar, langganan digital yang jarang digunakan, atau belanja impulsif.
Uang yang berhasil dihemat dapat langsung dialihkan ke dana darurat. Meskipun jumlahnya terlihat kecil, akumulasi penghematan tersebut bisa cukup signifikan dalam beberapa bulan.
4. Manfaatkan Pendapatan Tambahan
Kalau punya penghasilan yang pas-pasan, pertimbangkan mencari sumber pendapatan tambahan. Mulai dari menjual barang yang sudah enggak dipakai, menerima pekerjaan freelance, membuka jasa yang simpel, atau menjual makanan rumahan bisa menjadi pilihan.
Sebagian atau seluruh pendapatan tambahan tersebut dapat dialokasikan khusus untuk dana darurat. Cara ini membantu mempercepat pencapaian target tanpa mengganggu kebutuhan rutin.

5. Simpan Dana Darurat di Rekening Terpisah
Menyimpan dana darurat di rekening yang sama dengan rekening harian akan memperbesar peluang untuk kita sabotase sendiri. Jadi lebih baik gunakan rekening terpisah agar dana tersebut enggak tercampur dengan uang belanja dan kebutuhan lainnya.
Semakin sulit akses untuk menggunakannya secara impulsif, semakin besar peluang tabungan ini tetap utuh. Tapi ya jangan yang susah banget dicairinnya, kalau butuh pas mendesak nanti pusing sendiri. Pilih tempat penyimpanan yang aman dan mudah dicairkan saat benar-benar dibutuhkan. Biar dana tetap tersedia ketika situasi darurat terjadi.
6. Gunakan Bonus atau Rezeki Tak Terduga
Saat menerima bonus, THR, insentif, cashback, atau pengembalian dana tertentu, jangan langsung menghabiskannya untuk konsumsi. Sisihkan sebagian untuk memperkuat dana darurat.
Karena uang ini enggak termasuk pendapatan rutin, mengalokasikannya ke tabungan akan terasa lebih mudah. Strategi ini juga dapat mempercepat pencapaian target tanpa mengurangi anggaran bulanan yang sudah terbatas. Semakin sering memanfaatkan pemasukan tak terduga, semakin cepat tabungan terkumpul.
7. Terapkan Metode Menabung Bertahap
Enggak semua orang mampu menyisihkan jumlah yang sama setiap bulan. Jika kondisi keuangan belum stabil, gunakan metode menabung bertahap sesuai kemampuan. Ada bulan ketika kamu bisa menyimpan Rp50.000, ada juga saat hanya mampu Rp20.000. Enggak masalah selama masih bisa terus jalan.
Dana darurat itu memang urgent, tapi enggak harus terkumpul dalam waktu singkat. Yang penting, kebiasaan menabung tetap terjaga dan target terus bergerak maju.

8. Hindari Menggunakan Dana Darurat untuk Keinginan
Dana darurat hanya boleh digunakan untuk kebutuhan mendesak dan enggak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, biaya kesehatan, atau perbaikan penting yang enggak bisa ditunda. Jangan diambil buat liburan, beli gadget baru, atau FOMO yang enggak penting lainnya.
Kalau dana darurat sering digunakan untuk kebutuhan konsumtif, proses pengumpulannya akan lebih susah, kayak balik lagi ke titik awal terus. Menjaga disiplin penggunaan dana sama pentingnya dengan proses mengisinya. Dengan begitu, dana darurat benar-benar dapat berfungsi sebagai pelindung keuangan saat masa sulit datang.
Baca juga: Cara Membentuk Dana Darurat dan Menghitung Kebutuhannya
Mengisi dana darurat saat kondisi keuangan sedang ketat memang bukan perkara mudah. Namun, bukan berarti mustahil juga.
Enggak masalah kok kalau jumlah yang bisa disisihkan masih kecil, karena yang terpenting adalah membangun kebiasaan dan menjaga konsistensi. Dana darurat memang enggak akan terkumpul dalam semalam, melainkan dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara terus menerus.
In this economy, punya dana darurat bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan yang dapat membantu menjaga stabilitas keuangan di masa sulit.
Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.
Follow juga Instagram QM Financial, untuk berbagai tip, informasi, dan jadwal kelas terbaru setiap bulannya, supaya nggak ketinggalan update!




