
Mempersiapkan masa pensiun perlu dimulai sejak masih produktif. Salah satu langkah awalnya adalah memahami contoh dana pensiun dan cara mengelolanya agar kebutuhan hidup tetap terpenuhi ketika sudah berhenti bekerja.
Dana ini bisa digunakan untuk membayar kebutuhan sehari-hari, biaya kesehatan, tempat tinggal, hingga kegiatan yang ingin dilakukan saat memasuki usia lanjut. Dengan persiapan yang tepat, masa pensiun bisa dijalani dengan kondisi keuangan yang lebih terjaga.
Sayangnya, menghitung kebutuhan dana pensiun itu kadang rasanya rumit betul, karena harus mempertimbangkan banyak hal, dari mulai inflasi, usia harapan hidup, sampai sumber penghasilan setelah berhenti bekerja. Padahal, perhitungannya bisa dimulai dari kebutuhan bulanan saat ini, kemudian disesuaikan dengan perkiraan kondisi keuangan pada masa mendatang.
Dengan mengetahui target dana yang perlu dikumpulkan, kamu bisa menyusun strategi menabung dan berinvestasi sejak sekarang.
Table of Contents
Contoh Dana Pensiun yang Perlu Diketahui

Dana pensiun bisa berasal dari berbagai sumber, mulai dari program yang disediakan perusahaan sampai tabungan dan investasi pribadi. Setiap jenis memiliki mekanisme, manfaat, serta ketentuan yang perlu dipahami sebelum menentukan pilihan. Berikut beberapa contoh dana pensiun yang bisa dipertimbangkan untuk mempersiapkan kebutuhan hidup pada masa tua.
1. Dana Pensiun dari Perusahaan
Beberapa perusahaan menyediakan program pensiun bagi karyawannya melalui Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK). Program ini membantu karyawan mengumpulkan dana selama masa kerja sesuai ketentuan yang berlaku. Besaran manfaat yang diterima saat pensiun bergantung pada jenis program dan aturan yang ditetapkan.
Baca juga: Tip Memilih Perusahaan Dana Pensiun buat Karyawan yang Ingin Pensiun Mandiri
2. Dana Pensiun dari BPJS Ketenagakerjaan
Program Jaminan Pensiun (JP) dari BPJS Ketenagakerjaan memberikan manfaat berupa uang yang dibayarkan secara berkala atau sekaligus sesuai persyaratan program. Ada pula Jaminan Hari Tua (JHT) yang berfungsi sebagai tabungan jangka panjang bagi peserta. Keduanya memiliki ketentuan dan mekanisme pencairan berbeda, sehingga perlu dipahami agar perencanaannya sesuai kebutuhan.
3. Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK)
DPLK merupakan contoh dana pensiun yang diselenggarakan oleh bank atau perusahaan asuransi jiwa. Peserta dapat menyisihkan sebagian penghasilan secara berkala untuk membentuk dana pensiun. Pilihan ini bisa dimanfaatkan oleh karyawan maupun pekerja mandiri yang ingin memiliki program pensiun di luar fasilitas perusahaan.
4. Tabungan Khusus untuk Pensiun
Menyediakan rekening tabungan khusus bisa membantu memisahkan uang pensiun dari dana untuk kebutuhan sehari-hari. Misalnya, kamu menyisihkan Rp1 juta setiap bulan selama 20 tahun. Tanpa memperhitungkan bunga, jumlah tabungan yang terkumpul mencapai Rp240 juta. Hasil akhirnya bisa lebih besar jika tabungan memperoleh bunga, tetapi nilainya tetap perlu memperhitungkan biaya administrasi dan pajak jika ada.
5. Investasi Jangka Panjang
Investasi bisa menjadi sumber dana pensiun melalui pertumbuhan nilai aset atau pendapatan yang dihasilkan. Instrumennya antara lain reksa dana, obligasi, dan saham, dengan tingkat risiko yang berbeda-beda. Pilihan investasi sebaiknya disesuaikan dengan jangka waktu menuju pensiun, toleransi risiko, serta kebutuhan likuiditas.
6. Properti yang Menghasilkan Pendapatan
Rumah kontrakan, indekos, atau properti sewaan dapat memberikan pemasukan setelah memasuki usia pensiun. Pendapatan tersebut bisa digunakan untuk membiayai kebutuhan rutin. Namun, perhitungannya perlu memasukkan biaya perawatan, pajak, kemungkinan properti kosong, dan pengeluaran lain yang dapat mengurangi hasil sewa.
7. Usaha yang Tetap Berjalan saat Pensiun
Usaha kecil yang dikelola secara mandiri atau dengan bantuan orang lain juga bisa menjadi sumber penghasilan pada masa tua. Contohnya, usaha katering, toko kelontong, atau bisnis daring. Agar usaha dapat mendukung keuangan pensiun, perencanaan modal, biaya operasional, dan keberlanjutan bisnis perlu diperhitungkan sejak awal.
Berbagai contoh dana pensiun tersebut bisa dikombinasikan sesuai kemampuan finansial dan target masa pensiun. Misalnya, kamu sebagai karyawan, kamu bisa mengandalkan manfaat program pensiun dari perusahaan, lalu menambah tabungan pribadi dan investasi secara rutin. Kombinasi sumber dana ini dapat membantumu mengurangi ketergantungan pada satu jenis penghasilan ketika sudah tidak bekerja.
Cara Menghitung Kebutuhan di Hari Tua

Menghitung kebutuhan dana pensiun bisa dimulai dengan memperkirakan pengeluaran bulanan setelah berhenti bekerja. Angka tersebut menjadi dasar untuk menentukan target dana yang perlu dikumpulkan. Supaya hasilnya lebih mendekati kondisi nyata, perhitungan juga perlu memasukkan inflasi, lama masa pensiun, dan sumber pendapatan yang diperkirakan masih tersedia.
1. Hitung Kebutuhan Hidup Bulanan Saat Ini
Catat seluruh pengeluaran rutin, seperti makanan, listrik, air, transportasi, tempat tinggal, dan kebutuhan rumah tangga. Jangan lupa memasukkan biaya kesehatan, hiburan, serta kebutuhan lain yang mungkin tetap ada setelah pensiun.
Misalnya, total pengeluaran bulanan saat ini mencapai Rp5 juta. Angka tersebut bisa menjadi titik awal untuk memperkirakan biaya hidup ketika memasuki usia pensiun.
2. Perkirakan Pengeluaran saat Pensiun dengan Memperhitungkan Inflasi
Harga barang dan jasa cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Karena itu, kebutuhan Rp5 juta per bulan saat ini belum tentu cukup untuk membiayai kehidupan dengan standar serupa 20 tahun mendatang.
Kamu bisa menggunakan rumus berikut untuk memperkirakan kebutuhan bulanan pada masa pensiun:
Kebutuhan masa depan = kebutuhan saat ini × (1 + inflasi)^jumlah tahun
Sebagai contoh, pengeluaran Rp5 juta per bulan diproyeksikan dengan asumsi inflasi rata-rata 3% per tahun selama 20 tahun.
Perhitungannya:
Rp5.000.000 × (1 + 0,03)^20 = sekitar Rp9,03 juta.
Artinya, kebutuhan bulanan yang setara dengan Rp5 juta saat ini diperkirakan menjadi sekitar Rp9,03 juta dalam 20 tahun mendatang. Angka ini didapat berdasarkan asumsi inflasi ya, bukan prediksi pasti. Dan ingat pesan Financial Trainers QM Financial, bahwa asumsi selalu salah.
3. Tentukan Perkiraan Lama Masa Pensiun
Usia saat berhenti bekerja dan perkiraan usia harapan hidup menentukan berapa lama dana perlu mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Misalnya, kamu berencana pensiun pada usia 60 tahun dan memperkirakan kebutuhan hidup harus terpenuhi sampai usia 85 tahun. Berarti, ada sekitar 25 tahun masa pensiun yang perlu dibiayai.
Semakin panjang masa pensiun yang direncanakan, semakin besar pula dana yang perlu disiapkan. Perhitungan ini juga perlu mempertimbangkan kemungkinan biaya kesehatan meningkat seiring bertambahnya usia.

4. Hitung Total Kebutuhan Dana selama Masa Pensiun
Setelah memperoleh perkiraan pengeluaran bulanan pada masa pensiun, kalikan angka tersebut dengan 12 untuk mendapatkan kebutuhan tahunan. Selanjutnya, kalikan dengan jumlah tahun masa pensiun.
Dengan kebutuhan bulanan sekitar Rp9,03 juta dan masa pensiun selama 25 tahun, simulasinya sebagai berikut:
- Kebutuhan per bulan: Rp9,03 juta.
- Kebutuhan per tahun: Rp9,03 juta × 12 = sekitar Rp108,36 juta.
- Total kebutuhan selama 25 tahun: Rp108,36 juta × 25 = sekitar Rp2,71 miliar.
Berdasarkan simulasi tersebut, total kebutuhan hidup selama masa pensiun mencapai sekitar Rp2,71 miliar.
Perlu diingat, angka ini merupakan estimasi kasar dengan asumsi pengeluaran tahunan tetap pada tingkat yang dihitung untuk tahun pertama masa pensiun. Perhitungan tersebut belum memasukkan kenaikan harga selama masa pensiun, hasil investasi, pajak, maupun perubahan kebutuhan hidup. Karena itu, angka akhirnya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
5. Kurangi Kebutuhan Dana dengan Sumber Penghasilan saat Pensiun
Enggak semua kebutuhan hidup harus ditutup menggunakan tabungan pribadi. Jika kamu memperkirakan akan menerima manfaat pensiun dari perusahaan, BPJS Ketenagakerjaan, pendapatan sewa properti, atau sumber lainnya, masukkan pendapatan tersebut ke dalam perhitungan.
Contohnya, jika penghasilan pensiun diperkirakan mencapai Rp3 juta per bulan, sementara kebutuhan bulanan mencapai Rp9,03 juta, selisih yang perlu dipenuhi adalah Rp6,03 juta per bulan.
Dengan begitu, target dana pribadi bisa dihitung berdasarkan kebutuhan yang belum tertutup oleh pendapatan pensiun. Pastikan perkiraan manfaat yang digunakan sesuai ketentuan program dan perhitungkan kemungkinan perubahan nilai pendapatan pada masa mendatang.
6. Tentukan Target Tabungan dan Investasi Bulanan
Setelah mengetahui perkiraan kebutuhan dana, hitung berapa banyak uang yang perlu disisihkan setiap bulan sampai usia pensiun. Besarnya setoran bergantung pada usia saat mulai menabung, jumlah dana yang sudah tersedia, serta perkiraan hasil pengembangan investasi.
Sebagai gambaran, menabung Rp1 juta per bulan selama 20 tahun akan menghasilkan Rp240 juta kalau enggak memperhitungkan bunga atau hasil investasi. Jika dana ditempatkan pada instrumen investasi, nilainya dapat berkembang, tetapi hasilnya tidak dijamin dan tetap dipengaruhi risiko.
Kamu bisa mengevaluasi target tabungan secara berkala, terutama ketika penghasilan meningkat, pengeluaran berubah, atau waktu menuju pensiun semakin dekat. Perhitungan yang diperbarui secara rutin membantu menjaga rencana keuangan tetap sesuai dengan kebutuhan.
Baca juga: Memilih Produk Dana Pensiun yang Sesuai dengan Kebutuhan, Apa Saja Pertimbangannya?
Mengetahui contoh dana pensiun dan cara menghitung kebutuhan masa tua dapat membantu kamu menyusun target keuangan yang lebih terarah.
Semakin awal persiapan dilakukan, semakin panjang waktu yang tersedia untuk membangun tabungan dan mengembangkan investasi demi memenuhi kebutuhan hidup pada masa pensiun.
Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.
Follow juga Instagram QM Financial, untuk berbagai tip, informasi, dan jadwal kelas terbaru setiap bulannya, supaya nggak ketinggalan update!




