Investasi Konten: Cara Bijak Berinvestasi untuk Konten Kreator
Konten kreator sering menghadapi tantangan untuk mengembangkan kreativitas sekaligus memastikan bahwa investasi dalam membuat konten dapat memberikan hasil yang optimal.
Di dunia digital yang terus berkembang, penting bagi para kreator untuk mengelola sumber daya dengan cerdas, termasuk waktu, uang, dan tenaga. Hal ini membantu dalam menciptakan konten yang tidak hanya berkualitas tetapi juga mampu menarik perhatian dan minat penonton yang luas.
Konten kreator membutuhkan strategi yang efektif untuk mengelola investasi mereka dalam konten. Dengan memahami cara yang tepat dalam mengalokasikan anggaran dan sumber daya lainnya, para kreator dapat meningkatkan visibilitas serta nilai jual konten yang diproduksi.
Dalam menghadapi persaingan yang ketat, memiliki rencana yang terstruktur dan jelas adalah koentji utama untuk sukses di dunia kreatif digital.
Table of Contents
Investasi Konten untuk Konten Kreator: Apa Maksudnya?
Dalam konteks artikel tersebut, “investasi konten” merujuk pada alokasi sumber daya, baik itu waktu, uang, atau tenaga, yang dilakukan oleh kreator digital untuk menciptakan, meningkatkan, dan mendistribusikan kontennya.
Investasi ini enggak hanya tentang biaya langsung seperti peralatan atau perangkat lunak, tetapi juga meliputi upaya yang diperlukan untuk merencanakan, memproduksi, dan mempromosikan konten tersebut agar mencapai audiens yang lebih luas dan menciptakan dampak yang lebih besar.
So, aspek investasi ini penting. Harapannya, dengan berinvestasi yang baik, seorang konten kreator akan dapat memaksimalkan hasilnya juga. Investasi ini bisa mencakup beberapa aspek seperti beberapa hal berikut ini.

1. Investasi dalam Teknologi dan Peralatan
Ini berarti mengeluarkan uang untuk membeli atau menyewa alat-alat dan program komputer yang dibutuhkan untuk membuat konten yang bagus dan menarik.
Misalnya, kamu mungkin perlu kamera yang baik untuk membuat video, atau software pengeditan untuk menyusun dan memperbaiki video atau gambar agar tampak lebih profesional. Untuk memastikan hasil terbaik, pastinya software yang digunakan lebih baik yang original kan, bukan bajakan. Software original pastinya juga tidak murah.
2. Belajar dan Mengasah Keahlian
Proses ini adalah tentang menghabiskan waktu dan uang untuk mengikuti kursus atau pelatihan yang bisa membantumu menjadi lebih pintar dalam membuat konten.
Misalnya, mengambil kelas fotografi untuk memperbaiki cara kamu mengambil gambar, atau kursus penulisan untuk belajar membuat tulisan yang lebih menarik. Ini penting agar konten yang kamu buat bisa lebih baik dan lebih disukai oleh banyak orang. Dengan begitu, value-nya juga akan meningkat.
3. Membuat dan Mengatur Konten
Proses ini adalah proses kreatif, ketika kamu harus mencari ide, menulis, merekam, mengedit, dan menyajikan konten yang menarik.
Proses ini bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana seperti memikirkan topik yang menarik, kemudian menulis skrip atau outline, merekam video atau mengambil foto, mengeditnya agar terlihat lebih bagus dan profesional, dan terakhir memastikan konten itu siap untuk dilihat banyak orang.
Di sini ada investasi waktu, yang enggak murah. Semua ini dilakukan agar orang-orang yang melihat kontenmu merasa terhibur, educated, merasa mendapatkan manfaat, dan kemudian ingin melihat lebih banyak lagi konten dari kamu.
4. Strategi Pemasaran dan Distribusi
Yep, seorang konten kreator juga butuh berinvestasi untuk marketing lo. Jangan salah. Misalnya melalui iklan. Pasang iklan, supaya kontennya menjangkau lebih banyak orang.
Kamu bisa menggunakan beberapa cara, seperti SEO (Search Engine Optimization) yang membantu kontenmu mudah ditemukan di internet lewat mesin pencari seperti Google. Kamu juga bisa menggunakan iklan yang kamu bayar untuk muncul di media sosial atau website lain, sehingga lebih banyak orang yang melihat karyamu.
Selain itu, bekerja sama dengan kreator lain atau merek yang sudah dikenal bisa membantu memperluas jangkauanmu. Semua ini dilakukan agar lebih banyak orang tahu tentang kontenmu, menonton atau membacanya, dan akhirnya menjadi penggemar atau pelangganmu.
5. Evaluasi dan Analitik
Untuk proses ini, kamu perlu menggunakan alat-alat khusus untuk melihat bagaimana kinerja kontenmu dan siapa saja yang menonton atau membaca kontenmu. Dengan alat ini, kamu bisa mengetahui video atau artikel mana yang banyak disukai, jam berapa orang paling banyak menonton, dan dari mana saja audiensmu.
Informasi ini sangat berguna untuk membuat rencana ke depan, seperti memutuskan topik apa yang akan dibahas selanjutnya atau kapan waktu terbaik untuk memposting konten baru. Alat analitik membantu kamu memahami apa yang disukai dan tidak disukai audiens, sehingga kamu bisa terus meningkatkan kualitas dan relevansi kontenmu.
Alat ini sebenarnya sudah banyak tersedia secara gratis. Kalau di media sosial, biasanya sudah build-in dalam aplikasinya. Namun, untuk hasil yang lebih maksimal, enggak ada salahnya juga kalau kamu berinvestasi pada alat yang lebih canggih tetapi berbayar. Karena itu, perhitungkan dengan saksama.
Nah, semua investasi ini perlu dilakukan oleh konten kreator agar kemudian menghasilkan ROI (Return on Investment) dalam bentuk peningkatan pengikut, keterlibatan, konversi, dan akhirnya, pendapatan.
Baca juga: Content Creator Terima Endorsement, Wajib Bayar Pajak
Cara Pengelolaan Keuangan untuk Konten Kreator

Agar dapat berinvestasi pada semua hal di atas demi bisa menghasilkan konten yang berkualitas, konten kreator pastinya kudu punya keterampilan pengelolaan keuangan yang baik.
1. Buat Anggaran
Catat semua sumber pendapatanmu, termasuk sponsor, iklan, dan penjualan produk. Buat juga daftar semua pengeluaran tetap dan variabel terkait produksi konten. Gunakan anggaran ini untuk mengidentifikasi area di mana kamu bisa menghemat biaya dan meningkatkan pendapatan.
2. Pisahkan Rekening Bank Pribadi dan Bisnis
Agar kamu dapat melacak pengeluaran dan pendapatan dengan lebih akurat, ada baiknya kamu membuka rekening bank khusus untuk kegiatan bisnismu sebagai kreator konten. Menggunakan rekening terpisah juga memudahkan saat mengevaluasi apakah bisnismu sudah menguntungkan atau belum, juga termasuk memudahkan saat harus melapor pajak.
3. Tetapkan Dana Darurat
Sisihkan sebagian pendapatanmu ke dalam dana darurat. Idealnya, dana darurat ini harus cukup untuk menutupi biaya hidup dan bisnismu selama beberapa bulan jika pendapatan tiba-tiba berhenti.
Dana darurat ini penting untuk menghadapi ketidakpastian, seperti penurunan mendadak dalam pendapatan atau kebutuhan mendesak lainnya. Apalagi sebagai konten kreator, pastinya penghasilanmu bisa berfluktuasi dari bulan ke bulan.
4. Diversifikasi Sumber Pendapatan
Hindari hanya bergantung pada satu sumber pendapatan. Diversifikasi dengan mencari peluang lain seperti penjualan merchandise, kursus online, atau menulis buku. Mempelajari dan mengimplementasikan strategi afiliasi dan partnership juga bisa meningkatkan pendapatanmu.
Konten kreator yang ingin berhasil dalam jangka panjang perlu memikirkan investasi mereka sebagai bagian dari strategi karier yang lebih besar.
Memilih alat yang tepat, belajar keterampilan baru, dan menggunakan strategi pemasaran yang efektif adalah langkah penting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang diinvestasikan memberikan pengembalian yang maksimal. Dengan pendekatan yang bijak dan terencana, kreator dapat terus menghasilkan konten yang menarik dan mendapatkan penghasilan yang stabil dari usaha kreatif mereka.
Baca juga: Financial Dialogue 08: Content Creator Juga Harus Bisa Hidup Sejahtera
Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.
Follow juga Instagram QM Financial, untuk berbagai tip, informasi, dan jadwal kelas terbaru setiap bulannya, supaya nggak ketinggalan update!
Perbedaan Cara Perencanaan Keuangan Generasi X, Millenials, dan Gen Z
Cara perencanaan keuangan sangat berbeda antara Generasi X, Milenial, dan Generasi Z. Setiap generasi tumbuh dalam lingkungan ekonomi dan teknologi yang berbeda, sehingga memengaruhi cara mereka mengelola dan merencanakan keuangan.
Faktor-faktor seperti akses ke teknologi, pengalaman masa lalu, dan nilai-nilai yang dianut turut membentuk pendekatan masing-masing generasi terhadap keuangan pribadi.
Perbedaan ini mencerminkan bagaimana setiap generasi memprioritaskan tujuan finansial mereka. Meskipun semua generasi bertujuan mencapai stabilitas keuangan, metode dan alat yang digunakan untuk mencapainya bisa sangat berbeda.
Memahami karakteristik unik dari setiap generasi dapat membantu mengidentifikasi pola dan strategi yang paling efektif dalam perencanaan keuangan mereka.
So, coba yuk, kita lihat.
Table of Contents
Karakteristik Kebiasaan Keuangan Generasi X, Milenial, dan Generasi Z

Berikut adalah beberapa karakteristik generasi X, milenial, dan generasi Z terkait kebiasaan keuangan masing-masing yang cukup khas.
1. Karakteristik Generasi X (lahir sekitar 1965-1980)
- Generasi X cenderung lebih konservatif dalam mengelola uang, lebih memilih untuk menabung dan memiliki tabungan pensiun yang aman.
- Mereka lebih percaya diri untuk berinvestasi dalam instrumen keuangan tradisional seperti saham, obligasi, dan properti.
- Generasi X juga cenderung berhati-hati dalam mengambil utang. Kalaupun ada utang, paling banter adalah KPR. Mereka umumnya mengelola utang secara bertanggung jawab.
- Generasi ini lebih memperhatikan asuransi kesehatan dan jiwa sebagai bagian dari perencanaan keuangan.
2. Karakteristik Generasi Milenial (lahir sekitar 1981-1996)
- Milenial sangat nyaman menggunakan teknologi finansial (fintech) seperti aplikasi mobile banking, e-wallet, dan platform investasi online.
- Mereka cenderung menghabiskan lebih banyak untuk pengalaman, seperti traveling dan gaya hidup, dibandingkan menghabiskan uang untuk barang fisik.
- Milenial umumnya juga lebih terbuka untuk berinvestasi dalam bentuk aset alternatif seperti cryptocurrency dan crowdfunding.
- Banyak milenial memiliki utang konsumtif yang cukup signifikan, dan hal ini memengaruhi cara mereka mengelola keuangan.
3. Karakteristik Generasi Z (lahir sekitar 1997-2012)
- Generasi Z tumbuh dengan teknologi digital dan sangat nyaman menggunakan aplikasi finansial dan layanan online untuk mengelola keuangan.
- Mereka lebih tertarik pada kewirausahaan dan sering mencari peluang untuk menciptakan bisnis atau sumber pendapatan sampingan.
- Generasi ini cenderung lebih memperhatikan investasi yang bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan (SRI – Socially Responsible Investing).
- Generasi Z menunjukkan minat yang tinggi dalam pendidikan keuangan dan mencari informasi secara online untuk belajar tentang investasi dan pengelolaan uang.
So, setiap generasi memang memiliki pendekatan yang berbeda dalam manajemen keuangan. Ada beberapa faktor yang memengaruhi, di antaranya adalah kondisi ekonomi, teknologi, dan nilai-nilai sosial yang berkembang pada masa mereka.
Baca juga: Mengelola Keuangan untuk Generasi TikTok: Dari FOMO ke JOMO (Joy of Missing Out)
Cara Perencanaan Keuangan yang Sesuai untuk Masing-Masing Generasi

Lalu, gimana cara perencanaan keuangan yang sesuai dengan karakter-karakter tersebut? Pastinya, juga enggak sama kan?
Berikut adalah beberapa cara perencanaan keuangan yang dapat disesuaikan dengan ciri khas dan karakteristik Generasi X, Milenial, dan Generasi Z:
1. Generasi X
- Diversifikasi Investasi: Investasikan di berbagai instrumen keuangan seperti saham, obligasi, reksa dana, dan properti untuk mengurangi risiko.
- Rencana Pensiun yang Kuat: Tingkatkan kontribusi ke dalam akun pensiun seperti BPJS Ketenagakerjaan, DPLK, hingga investasi dana pensiun mandiri, untuk memastikan kesejahteraan di masa pensiun.
- Asuransi: Pastikan memiliki asuransi kesehatan, jiwa, dan asuransi aset untuk melindungi diri dan keluarga.
- Perencanaan Warisan: Buat rencana warisan yang jelas termasuk surat wasiat dan trust untuk memastikan distribusi aset sesuai keinginan.
- Mengelola Utang: Kurangi utang dan hindari mengambil utang baru kecuali sangat diperlukan. Fokus pada pelunasan hutang yang ada.
2. Milenial
- Penggunaan Teknologi: Manfaatkan aplikasi keuangan untuk budgeting, pelacakan pengeluaran, dan investasi otomatis seperti aplikasi robo-advisor.
- Investasi yang Agresif: Pertimbangkan untuk mengalokasikan sebagian besar portofolio ke saham atau investasi berisiko tinggi lainnya karena masih memiliki waktu untuk pemulihan jika terjadi penurunan.
- Mengatasi Utang Konsumtif: Buat rencana pembayaran utang yang efisien, tekan utang baru kalau masih ada tanggungan, dan belajar lebih banyak mengenai utang produktif.
- Pentingnya Asuransi: Jangan lupakan pentingnya asuransi kesehatan dan jiwa untuk melindungi diri dari risiko tak terduga.
- Menabung untuk Tujuan Jangka Pendek dan Panjang: Sisihkan dana untuk tujuan jangka pendek seperti liburan, dan tujuan jangka panjang seperti membeli rumah atau pensiun.
3. Generasi Z
- Mulai Menabung Sejak Dini: Mulailah menabung dan berinvestasi sedini mungkin untuk memanfaatkan kekuatan bunga majemuk.
- Pendidikan Finansial: Manfaatkan sumber daya online untuk meningkatkan pengetahuan tentang investasi, perencanaan keuangan, dan manajemen uang.
- Kewirausahaan: Jika tertarik pada kewirausahaan, buat rencana bisnis yang solid dan pertimbangkan sumber pendanaan seperti crowdfunding atau modal ventura.
- Investasi yang Bertanggung Jawab: Pertimbangkan investasi dalam saham atau reksa dana yang berfokus pada tanggung jawab sosial dan lingkungan.
- Fleksibilitas dan Mobilitas: Buat perencanaan keuangan yang memungkinkan fleksibilitas, seperti memiliki dana darurat yang cukup untuk mendukung gaya hidup fleksibel dan mobilitas kerja.
Tip Umum untuk Semua Generasi

Selain yang sudah dibahas di atas, ada beberapa tip umum yang juga kudu diperhatikan sebagai cara perencanaan keuangan yang lebih sehat, dan berlaku untuk semua generasi.
- Dana Darurat: Simpan dana darurat yang mencukupi setidaknya 3-6 bulan pengeluaran untuk mengatasi situasi tak terduga.
- Tujuan Keuangan yang Jelas: Tentukan tujuan keuangan jangka pendek, menengah, dan panjang serta buat rencana untuk mencapainya.
- Pengelolaan Anggaran: Buat anggaran bulanan untuk melacak pengeluaran dan memastikan bahwa pengeluaran tidak melebihi pendapatan.
- Belajar Keuangan: Terus belajar dan mengikuti perkembangan terbaru dalam dunia keuangan untuk membuat keputusan yang lebih baik.
- Perencanaan keuangan yang baik harus disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi pribadi masing-masing individu dalam generasi tersebut.
Baca juga: Cara Perencanaan Keuangan untuk Gen Z yang Pengin Mencapai Stabilitas Finansial
Memahami perbedaan cara perencanaan keuangan antara Generasi X, Milenial, dan Generasi Z memberikan wawasan berharga tentang bagaimana setiap generasi menghadapi tantangan finansial mereka. Meskipun pendekatan mereka mungkin berbeda, tujuan utama tetap sama: mencapai stabilitas dan kesejahteraan finansial. Dengan mengenali karakteristik unik masing-masing generasi, perencanaan keuangan dapat disesuaikan agar lebih efektif dan relevan.
Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.
Follow juga Instagram QM Financial, untuk berbagai tip, informasi, dan jadwal kelas terbaru setiap bulannya, supaya nggak ketinggalan update!
Gaji Pemain Bola Muda dan Kiat Keuangan yang Tepat
Keberhasilan Timnas U23 yang maju sampai semifinal Piala AFC 2024 dengan mengalahkan Australia, Yordania, dan Korea Selatan, menunjukkan betapa pentingnya investasi pada talenta muda. Gaji pemain bola yang tinggi tidak hanya sebagai pengakuan atas bakat, tetapi juga sebagai alat motivasi untuk mengeluarkan performa terbaik di tingkat internasional.
Namun, tantangan yang dihadapi tidak berhenti di lapangan hijau. Pengelolaan keuangan menjadi aspek kritis yang sering terabaikan oleh banyak pemain muda. Tanpa strategi keuangan yang matang, gaji pemain bola yang besar bisa cepat terkuras. Hal ini menekankan pentingnya pemahaman dan penerapan prinsip-prinsip manajemen keuangan yang solid agar keberhasilan di lapangan dapat berlanjut menjadi kestabilan finansial di masa depan.
Table of Contents
Berapa sih Gaji Pemain Bola?

Nathan Tjoe-A-On yang telah resmi menjadi warga negara Indonesia melalui proses naturalisasi adalah pemain termahal saat ini. Menurut data dari m.aiscore.com, gaji pemain bola pemain Swansea yang sedang menjalani masa pinjaman di SV Heerenveen ini sebesar 104 ribu Euro. Angka ini setara dengan Rp1,8 miliar. Setiap minggu, ia menerima 2.000 Euro, yang jika dikonversi menjadi Rp34,8 juta. Situs Transfer Markt mencatat nilai pasar dari pemain sayap kiri ini sebesar Rp6,08 miliar.
Sementara Rizky Ridho, kapten Timnas U-23 dan pemain belakang Persija Jakarta, termasuk dalam daftar pemain dengan pendapatan tertinggi di Indonesia. Ia menerima gaji tahunan sebesar Rp5,65 miliar. Nilai pasarnya saat ini mencapai Rp6,95 miliar.
Ivar Jenner, pemain FC Utrecht, memiliki gaji tahunan sebesar 27.560 poundsterling, yang setara dengan Rp559 juta. Setiap minggu, ia mendapatkan 530 poundsterling atau Rp10,7 juta. Menurut data dari transfermarkt.co.id, nilai pasarnya mencapai Rp5,21 miliar.
Pratama Arhan baru saja menandatangani kontrak dengan Suwon FC dan mendapatkan gaji sebesar 282,1 juta won per musim. Jika dikonversi, angka ini menjadi sekitar Rp3,2 miliar. Pemain sayap kiri ini memiliki nilai pasar sebesar Rp4,35 miliar.
Gimana? Gaji kamu seper berapanya, gaes?
Gaji tinggi yang diterima oleh pemain sepak bola memang memungkinkan mereka untuk memiliki kehidupan yang berkecukupan. Namun, tanpa pemahaman yang baik tentang pengelolaan keuangan, gaji besar tersebut bisa saja cepat habis. Pengetahuan tentang cara mengelola dan menginvestasikan uang dengan bijak sangat penting untuk memastikan kestabilan finansial jangka panjang, terlepas dari besarnya penghasilan. Tanpa keterampilan ini, bahkan pendapatan yang tinggi sekalipun bisa terbuang sia-sia.
Maka tak heran kan, kalau kita juga sering dengar berita, mengenai beberapa mantan atlet nasional yang pernah berjaya di eranya, kini hidup pas-pasan bahkan ada yang sampai kekurangan.
Baca juga: Punya Gaji 2 Digit Juga Kudu Punya Keterampilan Mengelola Keuangan yang Baik – Mengapa?
Kiat Mengelola Gaji Pemain Bola dan Keuangan Mereka secara Umum

So, setuju ya, kalau soal pengelolaan gaji—lebih umumnya pengelolaan keuangan—ini memang penting buat semua orang. Termasuk para pemain sepakbola, meskipun bukan rahasia lagi bahwa gaji pemain bola itu sangat tinggi. Terutama mereka yang berprestasi.
Namun, prestasi tak ada artinya jika nanti di saat pensiun, hidup jadi sengsara. So, coba lakukan beberapa hal berikut untuk membuat keuangan kamu menjadi stabil, wahai pemain bola idaman bapack-bapack se-Indonesia Raya.
1. Kiat Pengelolaan Keuangan Standar
Kiat standar ini adalah beberapa langkah pengelolaan standar, yang seharusnya memang dilakukan oleh semua orang. Termasuk untuk mengelola gaji pemain bola. Apa saja?
- Buat anggaran yang realistis dan catat semua pengeluaran, sehingga kamu dapat memantau arus kas dan menghindari pemborosan.
- Investasikan uang di berbagai instrumen keuangan sesuai tujuan keuanganmu, untuk meningkatkan potensi penghasilan pasif.
- Miliki asuransi yang memadai, terutama asuransi kesehatan dan kecelakaan, mengingat risiko cedera yang tinggi dalam olahraga.
- Punya dana pensiun, mengingat karier yang cenderung pendek. Manfaatkan skema pensiun atau buat rencana pensiun pribadi untuk memastikan keamanan finansial di masa depan.
- Sempatkan waktu untuk belajar tentang dasar-dasar keuangan, pajak, investasi, dan manajemen risiko.
- Tekan utang konsumtif seperti kartu kredit dengan tingkat bunga tinggi atau pinjaman untuk barang-barang mewah yang tidak penting.
- Siapkan dana darurat yang cukup untuk menutup biaya hidup minimal 6 bulan
2. Manajemen Karier Pascapensiun
Mengingat karier profesional dalam sepak bola cenderung berlangsung singkat, penting bagi pemain untuk merencanakan karier kedua. Misalnya saja—kalau mau yang berhubungan dengan karier sekarang—menjadi pelatih, analis olahraga, atau memulai usaha dalam industri yang diminati.
Menyiapkan diri untuk transisi ini selagi masih aktif bermain dapat memperlancar perpindahan ke kehidupan setelah pensiun dari sepak bola.
3. Memiliki Tim Keuangan
Kalau memang perlu, memiliki tim keuangan sendiri juga akan sangat membantu loh.
Dibandingkan dengan kebanyakan orang, pemain bola sering kali menghadapi situasi keuangan yang lebih kompleks dan berpotensi mendapatkan pendapatan yang sangat besar dalam waktu singkat.
Memiliki tim keuangan, yang bisa termasuk penasihat keuangan, akuntan, dan bahkan pengacara, bisa membantu mengelola kekayaan, pajak, dan investasi secara lebih efektif.
4. Memanfaatkan Endorsement dan Kontrak Iklan
Pemain bola sering memiliki peluang untuk meningkatkan dan menambah pintu penghasilan melalui endorsement dan kontrak iklan.
Nah, yang perlu diperhatikan adalah pilih kesepakatan yang tidak hanya menguntungkan secara finansial tetapi juga tidak membahayakan reputasi atau nilai sebagai atlet. Negosiasi kontrak yang cerdas sangat krusial di sini.
5. Perlindungan Hukum untuk Penghasilan
Pastikan bahwa semua kontrak, baik itu kontrak klub maupun kesepakatan pribadi, secara hukum melindungi kepentingan sebagai pemain bola. Termasuk di dalamnya adalah memperjelas syarat-syarat seperti gaji, bonus, dan klausul perlindungan jika cedera.

6. Atur Gaya Hidup
Live below your means—artinya hiduplah secara sederhana, tidak berlebihan. Apalagi punya gaya hidup melebihi gaji. Apalagi dengan gaji pemain bola, bisa saja tergoda untuk membelanjakan uang untuk barang-barang mewah. Namun, akan sangat penting untuk bisa menjaga gaya hidup yang relatif moderat dan berkelanjutan. Hal ini akan dapat mencegah pemborosan penghasilan selama masa puncak karier dan mempersiapkan masa ketika penghasilan mungkin berkurang.
Baca juga: 5 Cara Agar Gaya Hidup Sejalan dengan Gaji
Nah, demikianlah. Menerapkan kiat-kiat ini dapat membantu mengelola gaji pemain bola dengan lebih baik tetapi juga mempersiapkan masa depan yang lebih aman dan stabil.
Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.
Follow juga Instagram QM Financial, untuk berbagai tip, informasi, dan jadwal kelas terbaru setiap bulannya, supaya nggak ketinggalan update!
Jadi Orang Introver Bisa Bikin Kaya! Emang Iya?
Katanya, dengan menjadi ekstover, seseorang punya peluang untuk sukses lebih besar. Anggapan ini mungkin berkaitan dengan kepribadian seorang ekstrover yang lebih terbuka sehingga punya banyak teman, bisa menjalin hubungan dengan baik, pun punya kemampuan berkomunikasi yang lebih baik. Lalu, kalau begitu bagaimana dengan orang introver, yang lebih tertutup, lebih tenang, dan reflektif? Apakah mereka tidak berpeluang bisa sukses? Bahkan enggak bisa jadi orang kaya?
Nah, ini nih. Banyak orang yang mungkin belum menyadari kekuatan seorang introver. Memang para introver itu lebih pemilih dalam pergaulan. Mereka enggak punya terlalu banyak teman, sirkelnya kecil. Namun, hal ini tidak menjadikan peluang untuk bisa kaya dan sukses mengecil.
Justru ada beberapa hal yang hanya dimiliki oleh para introver yang membuat mereka justru punya kesempatan lebih baik untuk sukses, termasuk dalam hal finansial. Enggak percaya?
Table of Contents
Karakteristik Orang Introver yang Bisa Membuatnya Kaya

Sebenarnya ini bukan versus mana yang lebih baik antara introver ataupun ekstrover. Keduanya tidak bisa dibandingkan, satu sama lain punya keunikan, kelebihan, dan kekurangan. Yah, namanya manusia ya kan?
Namun, ini lebih pada stereotip, yang sering kali menempatkan orang introver dalam posisi yang dianggap kurang menguntungkan dalam hal interaksi sosial. Padahal kemampuan interaksi sosial ini—oleh beberapa orang—dipandang sebagai kunci utama untuk sukses finansial.
Stereotip ini menggambarkan bahwa karena sifatnya yang lebih tertutup, introver mungkin menghadapi hambatan dalam mengembangkan jaringan atau memanfaatkan peluang yang sama seperti rekan ekstrovernya.
Namun, persepsi ini sangatlah salah kaprah.
Menjadi introver atau ekstrover memiliki pengaruhnya masing-masing terhadap berbagai aspek kehidupan, termasuk keuangan. Berikut beberapa keuntungan menjadi orang introvert dibandingkan orang ekstrovert dalam hal finansial.
1. Pengeluaran yang Lebih Terkendali
Orang introver cenderung menghabiskan waktu lebih banyak di rumah atau di lingkungan yang tenang. Artinya, mereka lebih bisa mengurangi pengeluaran untuk aktivitas sosial seperti makan di luar, pergi ke klub, atau kegiatan sosial lain yang sering kali menghabiskan uang lebih banyak. Jatah untuk tabungan, investasi, atau dana darurat lebih longgar deh.
2. Lebih Banyak Mikir
Orang introver cenderung lebih banyak mikir sebelum bikin keputusan. Nah, karakter ini akan sangat menguntungkan kalau terkait soal finansial. Misalnya, jadi jauh dari peluang buat belanja impulsif. Mereka jadi bisa lebih fokus pada kebutuhan daripada keinginan, karena tiap kali mau beli sesuatu, mikir dulu.

3. Lebih Mudah Bikin Rencana Jangka Panjang
Orang introver juga akan lebih mudah membuat rencana keuangan jangka panjang. Karakternya yang reflektif akan sangat bermanfaat dalam merencanakan keuangan jangka panjang.
4. Hobinya Relatif Lebih “Murah”
Hobi orang introver cenderung lebih berorientasi pada kegiatan di dalam rumah atau yang bisa dilakukannya sendiri, seperti membaca, menulis, melukis, atau nonton film di streaming. Biayanya—harus diakui—lebih murah daripada pergi ke konser, nongkrong, atau hal-hal yang disukai orang ekstrover.
Ya, paling banter liburan sih, karena introver juga banyak yang suka traveling seperti halnya ekstrover.
5. Bisa Dapat Pendapatan Sampingan
Kecenderungan untuk menghabiskan waktu sendiri bisa mendorong introver untuk mencari sumber pendapatan sampingan yang enggak memerlukan interaksi sosial yang banyak. Contohnya seperti freelance writing, desain grafis, atau jadi investor. Hal ini bisa meningkatkan kapasitas finansial mereka tanpa meninggalkan zona nyaman masing-masing. Asyik banget!

6. Networking yang Lebih Fokus
Meskipun networking sering kali dianggap sebagai kegiatan yang lebih cocok untuk kaum ekstrover, tapi para introver ini juga bisa kok berjejaring. Justru, mereka bisa jadi lebih efektif dalam membangun koneksi yang lebih dalam dengan sejumlah kecil orang, yang bisa menguntungkan dalam hal karier dan peluang bisnis yang sedang mereka perjuangkan.
Nah, gimana? Relate enggak nih?
Tapi ingat ya, penting untuk dicatat bahwa uraian ini adalah generalisasi dan seseorang bisa saja memiliki karakteristik yang berbeda terlepas dari identifikasi mereka sebagai orang introver atau ekstrover.
Kedua tipe kepribadian memiliki kekuatan dan kelemahan masing-masing dalam konteks keuangan, dan banyak faktor lain yang berkontribusi pada keberhasilan finansial seseorang.
Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.
Follow juga Instagram QM Financial, untuk berbagai tip, informasi, dan jadwal kelas terbaru setiap bulannya, supaya nggak ketinggalan update!
Tip Atur Uang buat Freelancer Pemula
Baru merintis karier sebagai freelance pemula itu memang banyak sekali tantangannya. Mulai dari bagaimana cara mendapatkan klien, bagaimana mengelola klien, hingga bagaimana manajemen waktu, semua jadi satu dalam otak seorang freelancer. Apalagi soal manajemen keuangan, yang tak bisa dianggap ringan.
Satu sisi, seorang freelancer memang memiliki fleksibilitas tinggi terkait kinerjanya. Sisi lain, secara keuangan, seorang freelancer juga “sangat fleksibel”, artinya penghasilannya bisa sangat tidak tetap.
Jika salah dalam pengelolaan, bisa jadi menambah beban tekanan dan akhirnya bisa memengaruhi produktivitas si freelancer itu sendiri.
Table of Contents
Mengatur Keuangan untuk Freelancer Pemula

Jadi, jika kamu adalah seorang freelancer pemula saat ini, perlu dipahami bahwa mengelola keuangan sebagai freelancer itu memerlukan pemahaman tentang pendapatan yang sering berubah-ubah.
Enggak kayak pekerjaan tetap, penghasilan dari freelance bisa sangat beragam setiap bulannya. Faktor yang memengaruhi ada banyak, misalnya jenis proyek, jumlah pekerjaan yang didapat, dan tarif yang diberlakukan. Bisa saja dalam beberapa bulan full dan hectic, lalu bulan berikutnya paceklik.
Jadi, buat freelancer pemula, mengatur keuangan ini memang cukup menantang.
Untuk mengelola penghasilan bulanan dan membuat rencana keuangan dengan lebih baik, berikut beberapa hal yang bisa mulai dilakukan.
1. Pisahkan Keuangan dari Keuangan Pribadi
Pekerjaan freelancing juga bisa dianggap sebagai salah satu bentuk bisnis, seperti halnya bisnis kecil yang lain. So, seperti yang selalu diajarkan oleh financial lead trainer QM Financial, Mba Ligwina Hananto, pisahkan keuangan bisnis dari keuangan pribadi, hal ini juga berlaku untuk freelance.
Tujuannya apa? Supaya lebih mudah untuk mengelola keuangan dari bisnis freelance ini, dan tidak tercampur dengan keuangan pribadi.
2. Buat Catatan yang Rapi
Buat catatan keuangan yang rapi, meliputi pemasukan dan pengeluaran dari pekerjaan freelance.
Setiap kali ada invoice atau fee cair, catat dalam pemasukan bisnis. Begitu juga jika ada pengeluaran untuk keperluan pekerjaan freelance, catat dalam pengeluaran.
Misalnya, kamu butuh berlangganan foto di Shutterstock untuk keperluan konten, atau butuh tools untuk memantau pergerakan media sosial untuk mendukung pekerjaanmu sebagai freelance social media strategist. Kebutuhan-kebutuhan ini adalah kebutuhan profesional, sehingga pengeluarannya juga harus dicatat dan nanti juga diperhitungkan.
Catatan keuangan yang detail akan membantumi sebagai freelancer pemula untuk melihat gambaran pola pemasukan dan pengeluaran.
3. Gaji Diri Sendiri
Jika kamu sudah bisa melihat pola pemasukan dan pengeluaran, maka kamu bisa menetapkan berapa banyak uang yang bisa kamu ambil sebagai gaji untuk diri sendiri sebagai freelancer pemula.
Pemasukan sebagai freelancer memang bisa saja tidak tetap, tetapi kamu bisa menerapkan sistem gaji ini sehingga nantinya penghasilan menjadi lebih tetap.
Cara lain adalah dengan menetapkan pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan pribadi setiap bulannya. Dengan besarnya kebutuhan ini, kamu pun bisa menetapkan target penghasilan bulan-bulan berikutnya.

4. Diversifikasi Pekerjaan/Klien
Hindari untuk hanya bergantung pada satu jenis pekerjaan atau satu klien. Sebagai freelancer, tentunya kamu punya fleksibilitas tinggi untuk menentukan dengan siapa saja kamu bekerja. Maka, manfaatkan privilege ini dengan sebaik-baiknya. Tentu saja juga dengan tanggung jawab yang penuh dan harus profesional.
Mencari berbagai sumber pendapatan menambah stabilitas finansial dan mengurangi risiko kehilangan semua penghasilan jika salah satu sumber tiba-tiba berhenti.
5. Bangun Dana Darurat
Membangun dana darurat adalah langkah yang sangat penting bagi freelancer pemula. Dana ini akan menjadi penyelamat di masa-masa sulit, terutama selama periode pendapatan yang lebih rendah.
Pisahkan dana darurat ke dalam rekening terpisah, dan tidak boleh diutak-atik jika tidak benar-benar dalam kondisi darurat.
Sebagai freelancer dengan penghasilan yang tidak tetap, ada kemungkinan kamu akan membutuhkan dana darurat yang lebih besar dibandingkan mereka yang memiliki penghasilan tetap. Namun, tak perlu khawatir, sebagai freelancer pemula, yang penting mulai bangun dulu. Mulai dari satu bulan pengeluaran, dan kemudian ditingkatkan seiring waktu. Yang penting disiplin ya.
6. Bijak Pilih Proyek
Perencanaan proyek dan negosiasi kontrak yang baik dapat menjamin aliran pekerjaan yang lebih stabil. Sebagai freelancer, akan ada baiknya—jika memungkinkan—memilih proyek yang enggak hanya menguntungkan tetapi juga berkelanjutan. Dengan begitu, kamu bisa mengamankan penghasilan agar lebih konsisten.
Efisiensi dalam mengatur waktu dan menyesuaikan tarif berdasarkan keahlian serta permintaan pasar juga penting untuk memaksimalkan pendapatan.
Dengan pendekatan yang terorganisir dan adaptif, mengelola penghasilan sebagai freelancer bukan lagi sesuatu yang menakutkan. Memahami dan menerapkan strategi ini membantu dalam menciptakan kestabilan finansial, memungkinkan untuk berkonsentrasi pada pekerjaan tanpa terbebani oleh kekhawatiran keuangan.
Mempersiapkan Masa Pensiun

Duh, baru juga mulai merintis karier sebagai freelancer pemula. Kok sudah ditanya mau pensiun.
Jangan salah! Justru karena kamu masih baru mulai merintis, makanya kamu sudah harus mulai memikirkan pensiun. Pasalnya, semakin cepat kamu mulai membuat rencana pensiun, semakin ringan beban di setiap bulannya.
Perencanaan pensiun merupakan aspek kritis yang sering terabaikan oleh banyak freelancer. Padahal, sebagai freelancer, kamu pasti paham bahwa kamu tidak akan mendapatkan benefit ini dari pemberi kerja.
Tanpa skema pensiun yang disediakan oleh pemberi kerja, freelancer harus proaktif dalam mengamankan masa depan finansialnya sendiri. Memulai perencanaan pensiun sejak dini tidak hanya membantu dalam mengumpulkan dana yang cukup untuk hari tua, tetapi juga memberikan ketenangan pikiran untuk masa depan.
Ada beberapa opsi yang bisa dipilih oleh freelancer untuk mempersiapkan pensiun. Kamu bisa memanfaatkan opsi program pensiun BPJS Ketenagakerjaan dengan mendaftarkan diri secara mandiri. Lalu, ada juga opsi Dana Pensiun Lembaga Keuangan, biasanya diselenggarakan oleh bank atau perusahaan asuransi. Selain itu, kamu juga bisa membangun rencana pensiun secara mandiri dengan memanfaatkan beragam instrumen investasi, mulai dari investasi saham, obligasi, reksa dana hingga properti.
Kenal karakteristik masing-masing, dan manfaatkan dengan bijak.
Setelah itu, tentukan berapa banyak kamu akan berinvestasi untuk dana pensiun. Idealnya, kamu menyisihkan 10 – 20% dari penghasilan untuk berinvestasi. Dalam 10-20 % tersebut, alokasikan sebagian untuk dana pensiun, yang juga sama pentingnya dengan tujuan keuangan lainnya.
Memulai perencanaan pensiun sejak dini memberikan waktu yang lebih banyak untuk pertumbuhan investasi, mengurangi tekanan finansial di kemudian hari. Dengan pendekatan yang disiplin dan strategis terhadap perencanaan pensiun, freelancer pemula nantinya dapat menikmati masa tua dengan keamanan dan kenyamanan finansial.
Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.
Follow juga Instagram QM Financial, untuk berbagai tip, informasi, dan jadwal kelas terbaru setiap bulannya, supaya nggak ketinggalan update!
Menyiapkan Bujet Bulan Puasa untuk Keluarga Muda
Bulan puasa yang sebentar lagi tiba adalah periode yang penting bagi umat muslim di seluruh dunia. Di bulan tersebut, ibadah menjadi prioritas utama dari segala kegiatan.
Apalagi kalau tahun ini adalah tahun pertamamu menjalankan puasa bareng pasangan. Duh, masih pengantin baru. Biasanya mengurus diri sendiri, tahu-tahu ada pasangan yang juga mesti diurus kebutuhannya selama puasa. Atau mungkin, ini tahun pertama berpuasa setelah kehadiran anak. Oh, so sweet!
So, selain mempersiapkan diri secara mental dan spiritual, persiapan bujet juga penting. Pasalnya, seiring dengan semangat keagamaan, bulan ini juga menghadirkan tantangan finansial tersendiri.
Umumnya, ada biaya tambahan untuk membeli makanan sahur dan berbuka, serta kebutuhan lainnya yang spesifik untuk menjalankan puasa di bulan suci. Kalau enggak disiapkan dengan baik, hal ini dapat memberikan tekanan tambahan pada anggaran keluarga kamu.
Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana mengelola keuangan dengan bijak selama bulan puasa.
Table of Contents
Menentukan Prioritas di Bulan Puasa

1. Identifikasi Kebutuhan
Ada beberapa kebutuhan pokok yang harus dipertimbangkan dalam perencanaan anggaran keluarga muda selama menjalani puasa.
Yang paling utama pastinya adalah makanan untuk sahur dan berbuka. Keduanya merupakan momen penting dalam menjalankan ibadah puasa. Dalam menentukan kebutuhan makanan, kamu perlu mempertimbangkan jumlah anggota keluarga serta jenis makanan yang akan disiapkan.
Selain itu, bahan makanan pokok seperti beras, gula, minyak, dan bumbu-bumbu lainnya juga harus dimasukkan dalam perhitungan. Cek lagi apakah masih ada kebutuhan penting lainnya yang perlu ditambahkan.
2. Mengidentifikasi Pengeluaran Tambahan yang Umum Terjadi
Selain kebutuhan pokok, ada juga pengeluaran tambahan yang umum terjadi selama menjalankan ibadah puasa ini.
Misalnya, buka bersama. Nah, biasanya memang ada badai bukber ketika bulan puasa dimulai. Kadang suami bukber sama teman-temannya, kadang istri bersama sahabat-sahabatnya, sirkel A, B, C, dan seterusnya. Lalu, kadang suami istri—dua-duanya bukber—bersama keluarga besar atau sirkel lainnya lagi.
Identifikasi semua pengeluaran yang bisa terjadi, yakni pengeluaran-pengeluaran yang enggak terjadi secara rutin di luar bulan puasa. Semua pengeluaran ini penting untuk dimasukkan ke dalam perencanaan anggaran.
3. Menetapkan Prioritas Pengeluaran Berdasarkan Kebutuhan dan Kemampuan Finansial
Setelah mengidentifikasi semua kebutuhan dan pengeluaran tambahan yang mungkin terjadi selama bulan puasa, langkah selanjutnya adalah menetapkan prioritas pengeluaran.
Lakukan pemilahan antara kebutuhan esensial dan keinginan yang bisa ditunda atau dieliminasi. Misalnya, jika anggaran terbatas, kamu perlu memastikan bahwa kebutuhan pokok seperti makanan untuk sahur dan berbuka tetap terpenuhi sebelum mempertimbangkan pengeluaran tambahan yang bersifat lebih opsional.
Hal ini juga perlu disesuaikan dengan kemampuan finansial keluarga, sehingga enggak akan menimbulkan kesulitan keuangan. Dengan memprioritaskan pengeluaran berdasarkan kebutuhan yang paling mendesak dan memperhitungkan kemampuan finansial, kamu pun dapat mengelola anggaran dengan lebih efektif selama bulan puasa untuk keluargamu.
Strategi Menyusun Bujet Bulan Puasa

Sudah tahu apa saja kebutuhannya, kamu bisa lanjutkan dengan menyiapkan bujet demi menyambut bulan puasa—biar ibadah lancar dan fokus, enggak terganggu masalah keuangan yang sebenarnya bisa dicegah untuk muncul.
1. Menetapkan Bujet Bulan Puasa secara Rinci
Langkah pertama dalam membuat rencana bujet ini adalah dengan menetapkan anggaran secara rinci. Ini mencakup penentuan jumlah uang yang akan dialokasikan untuk berbagai kebutuhan, seperti makanan, transportasi, dan pengeluaran lainnya selama bulan puasa.
Penting untuk memperhitungkan semua pengeluaran yang mungkin terjadi agar enggak sampai kehadian kehabisan uang di tengah bulan.
Salah satu caranya, kamu bisa membuat meal plan untuk satu bulan, atau satu minggu saja juga boleh. Buat menu apa saja yang akan dihidangkan untuk keluarga kecilmu selama berpuasa. Ingat, tak melulu soal jumlah yang banyak atau mahal, tetapi tercukupkan gizinya.
2. Membuat Alokasi Dana untuk Zakat dan Sedekah
Selama bulan puasa, zakat dan sedekah merupakan bagian penting dari ibadah bagi umat muslim. Oleh karena itu, dalam rencana bujet bulan puasa, perlu diatur alokasi dana khusus untuk zakat dan sedekah.
Hal ini dapat dilakukan dengan menghitung persentase atau jumlah terte
ntu dari pendapatan keluarga yang akan disisihkan untuk tujuan amal tersebut, sesuai dengan aturan yang berlaku.
Kalau ada pekerja di dalam keluarga, misalnya ART atau supir dan sebagainya, perlu juga dianggarkan THR-nya. Jadi, jangan sampai keskip ya.

3. Menciptakan Rencana Cadangan untuk Keadaan Darurat
Enggak dimungkiri bahwa keadaan darurat dapat terjadi kapan saja, termasuk selama bulan puasa. Oleh karena itu, penting untuk juga menyiapkan dana cadangan dalam bujet bulan puasa.
Enggak perlu juga membuat pos sendiri sih, kalau kamu sudah punya dana darurat sebelumnya. Cukup cek saja, bahwa dananya ada dan memadai. Meskipun, kalau mau bikin secara terpisah ya enggak ada yang melarang juga.
Dengan demikian, keluarga dapat lebih siap menghadapi situasi yang tak terduga tanpa harus mengganggu kestabilan keuangan yang rutin.
4. Memantau dan Menyesuaikan Bujet selama Bulan Puasa
Selama bulan puasa, penting untuk terus memantau pelaksanaan rencana bujet dan mengidentifikasi apakah ada kebutuhan tambahan atau perubahan dalam situasi finansial keluarga. Jika ada, maka perlu dilakukan penyesuaian pada bujet agar tetap relevan dan efektif.
Misalnya, jika terjadi peningkatan pengeluaran yang tidak terduga, mungkin perlu menggeser alokasi dana dari pos lain untuk menutupi kebutuhan tersebut. Dengan memantau dan menyesuaikan bujet secara teratur, kamu dapat mengelola keuangan dengan lebih baik selama bulan puasa.
Dalam menyiapkan bujet bulan puasa untuk keluarga muda, kesadaran akan pentingnya perencanaan finansial menjadi kunci utama. Dengan menerapkan strategi di atas, diharapkan kamu dan keluarga kecilmu dapat menghadapi bulan puasa dengan lebih tenang dan fokus pada ibadah, tanpa perlu khawatir tentang masalah keuangan.
Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.
Follow juga Instagram QM Financial, untuk berbagai tip, informasi, dan jadwal kelas terbaru setiap bulannya, supaya nggak ketinggalan update!
Memulai Program Hamil dengan Bijak: Tip Menyimpan Uang untuk Calon Ibu
Memulai program hamil adalah langkah besar bagi setiap pasangan yang sudah siap. Proses ini bisa dibilang penuh dengan harapan dan seharusnya penuh juga dengan perencanaan.
Bukan hanya tentang kesehatan fisik dan mental, tetapi juga persiapan finansial yang matang. Karena itu, memahami dan mengelola biaya yang terkait enggak cuma akan membantu mengurangi stres, tetapi juga memastikan proses program hamil bisa berjalan dengan lancar. Dan, menyenangkan tentu saja.
So, menyisihkan uang demi masa depan, terutama untuk anak, adalah keputusan yang bijak. Dengan strategi yang tepat, pasangan suami istri yang siap promil akan dapat menghadapi tantangan—terutama dari sisi finansial, dengan lebih baik.
Untuk itu, tahu apa saja komponen biaya program hamil akan sangat penting.
Table of Contents
Komponen dalam Biaya Program Hamil

Komponen biaya dalam program hamil cukup beragam dan bisa meliputi berbagai aspek. Sebut saja mulai dari persiapan sebelum kehamilan, biaya selama kehamilan, hingga persalinan dan setelahnya.
Iya, memang sepanjang itu.
Ya, kalau mau dirincikan, kurang lebih seperti ini.
1. Persiapan Pra-Kehamilan
Terdiri atas:
- Biaya konsultasi dengan dokter kandungan atau spesialis fertilitas untuk memastikan kesehatan optimal sebelum hamil.
- Tes Kesehatan, termasuk tes darah, tes penyakit menular seksual, dan pemeriksaan kesehatan lain yang diperlukan sebelum hamil.
- Vitamin dan suplemen, misalnya seperti asam folat, yang penting untuk mencegah cacat lahir.
2. Biaya Selama Kehamilan
Terdiri atas:
- Biaya kunjungan dokter rutin untuk pemeriksaan kehamilan, termasuk biaya ultrasound jika dirujuk.
- Tes Medis, termasuk skrining genetik, tes toleransi glukosa, dan pemeriksaan lain sesuai rekomendasi dokter.
- Kelas persiapan kelahiran jika diperlukan, misalnya kelas lamaze atau prenatal yoga.
- Biaya tambahan untuk memastikan nutrisi yang cukup selama kehamilan, termasuk makanan sehat dan suplemen tambahan.
3. Biaya Persalinan
Terdiri atas:
- Biaya rumah sakit atau klinik, di dalamnya ada biaya kamar, tindakan medis, obat-obatan, dan layanan lain saat persalinan.
- Biaya dokter dan bidan, termasuk jasa dokter kandungan, dokter anak, dan bidan. Kalau misalnya ternyata harus SC, ada juga dokter anestesi, dan tenaga medis lainnya.
4. Pasca Persalinan
Terdiri atas:
- Perawatan pasca persalinan, misalnya harus kontrol dokter, atau konsultasi laktasi jika diperlukan.
- Perawatan bayi, seperti adanya biaya untuk vaksinasi awal, pemeriksaan kesehatan bayi, dan perlengkapan bayi awal.
5. Pengeluaran Tak Terduga
Biaya ini memang tak selalu dikeluarkan, tetapi akan baik sekali jika kamu siapkan, misalnya jika ada komplikasi selama kehamilan atau persalinan. Juga jika bayi ada kondisi khusus, maka akan ada perawatan neonatal intensif.
Menyiapkan Anggaran Program Hamil

Nah, ternyata banyak. Iya, lalu apakah sekarang jadi memikirkan untuk alternatif childfree? Ya, semua kembali ke masing-masing pasangan sih.
Yang pasti, punya anak adalah anugerah. Jika memang diniatkan untuk program hamil dan memiliki keturunan, ya ayo maju terus, dan siapkan finansialnya.
1. Evaluasi Keuangan Saat Ini
Mulailah dengan mengevaluasi situasi keuanganmu saat ini. So, coba cek pendapatan bulanan, pengeluaran, utang, dan tabungan, baik milikmu dan pasangan. Memahami posisi keuangan kamu saat ini akan memberikan dasar yang baik untuk perencanaan ke depan.
2. Estimasi Biaya Kehamilan dan Persalinan
Lakukan riset atau konsultasi dengan dokter untuk mendapatkan estimasi biaya kehamilan dan persalinan. Termasuk di dalamnya biaya dokter, ultrasound, tes medis, dan persalinan itu sendiri.
Jangan lupa untuk mempertimbangkan juga biaya pasca persalinan, seperti perawatan bayi dan kebutuhan lainnya.
3. Buat Anggaran Terpisah untuk Kehamilan
Buat anggaran khusus untuk semua biaya yang terkait dengan kehamilan. Pisahkan dari anggaran rutin kamu selama ini, untuk memudahkan pengelolaan dan pemantauan pengeluaran. Kalau perlu, buat rekening terpisah agar lebih mudah memonitornya.
4. Atur Pengeluaran
Tentukan apa yang benar-benar penting dan apa yang bisa ditunda atau dihilangkan. Fokus pada kebutuhan dasar terkait kehamilan dan kesehatan ibu, serta bayi yang akan lahir.
Cari cara untuk menghemat, seperti memilih paket kehamilan dari rumah sakit yang terjangkau, membeli perlengkapan bayi bekas yang masih berkualitas, atau mengikuti kelas persiapan kelahiran online yang mungkin saja lebih murah.

5. Siapkan Dana Darurat
Pastikan kamu memiliki dana darurat yang cukup untuk menghadapi situasi tak terduga, seperti komplikasi kehamilan atau kebutuhan medis tak terduga. Dana darurat ini harus terpisah dari tabungan kehamilan.
6. Manfaatkan Asuransi Kesehatan
Nah, kalau memang sudah punya asuransi kesehatan yang mencakup biaya kehamilan dan persalinan, ya tak perlu ragu untuk memanfaatkannya. Cek polis asuransi kesehatan kamu, dan pastikan biaya ini tercover.
Kalau kamu punya BPJS Kesehatan—dan kondisi kesehatanmu baik—enggak ada salahnya kok dipakai. Kalau bisa di-cover, bisa menghemat banyak biaya lo!
7. Mulai Menabung Sejak Dini
Semakin cepat kamu mulai menabung untuk program hamil, semakin baik. Dengan begitu, kamu akan memiliki lebih banyak waktu untuk mempersiapkan keuangan dan mengurangi beban finansial.
Ingat, bahwa biaya tidak berhenti setelah bayi lahir. Pertimbangkan juga biaya jangka panjang seperti perawatan anak, pendidikan, dan asuransi kesehatan untuk anggota keluarga baru.
Nah, gimana? Setelah melakukan cek finansial, pastinya sudah siap sekarang untuk melanjutkan program hamil.
Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.
Follow juga Instagram QM Financial, untuk berbagai tip, informasi, dan jadwal kelas terbaru setiap bulannya, supaya nggak ketinggalan update!
Loud Budgeting: Tren Keuangan yang Lagi Viral di Kalangan Gen Z
Memasuki tahun 2024, terdapat tren baru di kalangan generasi muda yang berorientasi pada pendekatan keuangan yang lebih terbuka. Tren ini dikenal sebagai loud budgeting.
Gimana? Apakah kamu juga melihat tren ini berseliweran di media sosial kamu?
Konsep ini mulai menarik perhatian pada Desember 2023 yang lalu sebenernya, dipopulerkan oleh Lukas Battle. Dia ini seorang pengguna aktif TikTok, yang terkenal karena keputusannya untuk berbagi cara hidup hemat secara terbuka.
Fenomena ini dikatakan menggantikan tren quiet luxury yang sebelumnya mendominasi tahun 2023, tren yang memungkinkan seseoarang untuk menampilkan kemewahan tanpa kesan berlebihan. Flexing, tapi enggak sombong.
Table of Contents
Apa Itu Loud Budgeting?

Tren ini populer di kalangan anak gen Z. Memang kreatif mereka ini ya. Adanya media sosial juga ikut mendorong berbagai tren ini untuk viral sih. So, apa itu loud budgeting?
Seorang eksekutif perbankan pribadi dari NAB Bank Australia, Paul Riley, mengungkapkan dalam jurnalnya. Bahwa loud budgeting itu adalah strategi yang fokus pada pengaturan prioritas tujuan keuangan pribadi, penentuan batasan pengeluaran yang bijak, dan kenyamanan dalam berbagi dan mendiskusikannya secara terbuka dan jujur. Begitu menurut kutipan dari Business Insider.
Mengapa tren ini sampai muncul?
Alasan utama generasi muda Amerika mengadopsi dan membahas loud budgeting di TikTok berkisar pada keinginan untuk menghapus utang dan menabung demi kepemilikan rumah.
Esensi dari tren ini menekankan bahwa kecerdasan finansial merupakan aspek penting yang enggak boleh diremehkan. Sementara, alasan para pengikut tren ini untuk membagikan pengalaman ke publik adalah untuk menambahkan elemen akuntabilitas dan motivasi.
Jadi, ibaratnya, kalau banyak “saksi” yang tahu bahwa kita sedang melakukan penghematan, maka mereka akan ikut menyemangati dan memotivasi. Begitulah secara singkat dan jelasnya.
Sementara tahun lalu, netijen lebih cenderung untuk suka flexing berkedok sharing—pamcol, alias pamer colongan—misalnya seperti memposting foto-foto liburan atau nongkrong di kafe-kafe mahal. Kini para pengikut tren loud budgeting mengungkapkan bahwa tidak ada alasan untuk merasa malu atas penghematan yang dilakukan. Hal ini justru menegaskan bahwa berupaya menghemat uang merupakan pilihan yang sah dan positif.
Gimana Caranya Ikutan Tren Ini?

So, gimana, apakah kamu mau ikut tren loud budgeting ini, dan membagikan pengalamanmu untuk hidup lebih hemat?
Caranya sebenarnya gampang—bahkan mungkin di antara kamu ada yang sudah biasa melakukannya.
1. Menolak Ajakan Nongkrong
Yang jelas, untuk ikut loud budgeting, kamu harus tegaan. Tega untuk menolak ajakan nongkrong, ajakan window shopping (yang biasanya berujung belanja impulsif), menolak ajakan nonton setiap weekend, dan berbagai ajakan lainnya yang datang dari teman-teman.
Jadi antisos dong? Ya, enggak juga. Menolak ajakan bukan berarti lantas kamu antisos, mengisolasi diri, atau menolak berbagai bentuk interaksi sosial. Kamu hanya menerapkan pemilahan terhadap sesuatu dengan bijak, karena kamu hanya mau melakukan sesuatu yang memberikan nilai tambah atau manfaat untukmu dalam jangka panjang.
So, intinya bukan menolak ajakannya, tetapi menolak untuk mengeluarkan uang untuk hal-hal yang kurang berarti. Kamu tetap bisa melakukan hal-hal tersebut jika sudah kamu perhitungkan dengan cermat. Kamu mau nongkrong, kalau memang ada bujetnya. Mau nonton, kalau memang masih dalam anggaran. Belanja pun begitu, kamu mau asalkan semua sudah terencana dengan baik.
Kuncinya adalah kamu mau melakukan sesuatu yang enggak hanya menyenangkan, tetapi juga ekonomis dan tidak “membahayakan” rencana jangka panjang.
Dengan cara ini, kamu tidak saja dapat mengurangi pengeluaran kurang esensial loh. Kamu sekaligus bisa meningkatkan kesadaran akan pentingnya keuangan pribadi yang sehat, tanpa merasa terbebani oleh tekanan untuk selalu ikut serta dalam setiap ajakan.
2. Jangan Malu Mengakui kalau Masih Terbatas
Saat kamu ingin mengadopsi tren loud budgeting ini, maka mindset kamu terhadap keuangan pribadi mau tidak mau harus berubah. Kamu enggak boleh malu untuk mengakui keterbatasan finansial pada diri sendiri.
Artinya, kamu wajib mengakui secara terbuka kalau ada hal-hal yang belum bisa kamu capai karena keterbatasan dana. Ini harus kamu lakukan tanpa merasa rendah diri.
Dengan begitu, kamu akan lebih realistis terhadap kondisi yang ada, sehingga akhirnya kamu pun sadar, bahwa kamu perlu mengelola keuangan dengan lebih baik demi banyak tujuan yang ingin dicapai.
Dengan membebaskan diri dari tekanan untuk selalu tampil mampu secara finansial, kamu pun dapat lebih fokus pada pengelolaan keuangan yang cerdas. Kamu bisa mulai menabung, investasi, dan mengurangi utang. Hingga pada akhirnya, kamu bisa mengakui kondisi tanpa dibebani oleh rasa malu lagi.
Pendekatan seperti ini enggak hanya akan dapat memperkuat kesehatan finansial jangka panjang, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan emosional. Kamu pun akan merasa lebih puas dengan kemajuan yang dicapai dalam perjalanan keuanganmu.
3. Bagikan Proses dan Kemajuan
So prinsip dari loud budgeting adalah sharing dengan teman-temanmu, mengenai proses kemajuan keuangan dan hal-hal lain yang terkait. Maka, kamu bisa memanfaatkan beragam platform media sosial yang sudah menjamur saat ini, atau bisa juga kamu berbagi secara langsung.
Enggak sekadar pamer sih, tapi lebih pada membangun rasa tanggung jawab atas keputusan finansial yang diambil. Jadi, fungsinya sebagai reminder, bahwa setiap langkah, baik maju maupun terhambat, adalah bagian dari proses belajar dan pertumbuhan.
Lebih dari itu, dengan membagikan cerita dan pencapaian, kamu juga bisa menjadi sumber inspirasi dan motivasi bagi orang lain yang mungkin berada dalam situasi serupa. Pada akhirnya, bisa saja kamu jadi punya teman seperjuangan, alias sparing partner, karena punya kondisi dan tujuan yang sama. Yang kayak begini, biasanya sih bisa saling menguatkan.
Dengan demikian, langkah ini tidak hanya meningkatkan kesadaran finansial pribadi tetapi juga membantu memperkuat hubungan sosial melalui nilai-nilai berbagi dan transparansi.

4. Atur Uangmu
So, pada akhirnya, ya lagi-lagi soal pengaturan keuangan. Karena, dengan keuangan yang dikelola dengan baik, kondisi dan situasi apa pun bisa teratasi dengan baik. Stabilitas dan kebebasan finansial pun bisa dicapai.
Jadi, untuk ikut tren ini, mulailah dengan menetapkan anggaran. Bikin catatan keuangan terkait pendapatan dan pengeluaran, lalu tetapkan prioritas. Identifikasi area yang dapat dikurangi, dan temukan peluang untuk menabung dan investasi lebih banyak.
Penting juga untuk memantau pengeluaran secara rutin untuk memastikan bahwa tetap berada dalam batas yang ditetapkan. Jika ada perubahan kondisi atau tujuan, enggak perlu panik dan langsung sesuaikan rencana.
Jangan lupa untuk membangun dana darurat, sehingga kamu akan punya jaring pengaman untuk menghadapi keadaan tak terduga tanpa harus tergantung pada utang.
Nah, gimana? Kamu tertarik untuk ikutan tren ini? Yah, selama membawa kebaikan, enggak ada salahnya juga untuk FOMO, ya kan?
Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.
Follow juga Instagram QM Financial, untuk berbagai tip, informasi, dan jadwal kelas terbaru setiap bulannya, supaya nggak ketinggalan update!
Kredit Tanpa Agunan: Solusi atau Jebakan Keuangan?
Utang tidak dilarang. Dalam beberapa kasus, utang justru bisa membantu kita membangun aset kekayaan yang akan bermanfaat jangka panjang. Namun, kita juga perlu bijak dalam pengelolaannya. Setidaknya kita harus tahu, suatu produk pinjaman itu seperti apa cara kerjanya. Salah satunya adalah Kredit Tanpa Agunan.
Produk ini banyak sekali dipromosikan. Yang sering kita lihat ada kasusnya—pinjaman online, juga merupakan salah satu jenis produk pinjaman ini, hanya saja tidak dikeluarkan oleh lembaga keuangan konvensional.
Banyak orang memanfaatkan kredit tanpa agunan ini, mereka mengaku terbantu. Namun di sisi lain, tak sedikit pula yang akhirnya terjebak—terlilit utang yang bergulung-gulung.
Table of Contents
Apa Itu Kredit Tanpa Agunan?

Kredit Tanpa Agunan, atau KTA, adalah jenis pinjaman yang diberikan oleh lembaga keuangan kepada individu tanpa memerlukan jaminan atau agunan berupa aset fisik seperti properti, kendaraan, atau barang berharga lainnya.
KTA ini berbeda dari kredit dengan agunan, yang mewajibkan peminjam harus memiliki jaminan sebagai bagian dari syarat pinjaman. Seperti KPR, contohnya.
Fitur utama dari KTA adalah:
- Kredit Tanpa Agunan sering dipromosikan sebagai kredit dengan proses pengajuan yang lebih sederhana dan cepat dibandingkan jenis kredit lainnya, karena tidak memerlukan proses penilaian agunan.
- Karena tidak adanya jaminan fisik yang mengurangi risiko bagi pemberi pinjaman, KTA biasanya memiliki suku bunga yang lebih tinggi dibandingkan dengan pinjaman yang dijamin.
- Peminjam dapat menggunakan dana dari KTA untuk berbagai keperluan, seperti pendidikan, renovasi rumah, perjalanan, atau untuk kebutuhan mendesak lainnya, tanpa perlu menjelaskan penggunaan dana tersebut kepada pemberi pinjaman.
- Batas maksimum pinjaman untuk KTA bervariasi tergantung pada kebijakan lembaga keuangan dan kemampuan kredit peminjam.
- Meskipun tidak memerlukan agunan, peminjam masih harus memenuhi persyaratan tertentu, seperti memiliki penghasilan tetap, riwayat kredit yang baik, dan dokumen identitas serta dokumen pendukung lainnya.
Kredit Tanpa Agunan menawarkan solusi keuangan yang fleksibel bagi yang membutuhkan dana cepat tanpa agunan. Itulah yang membuat produk ini cukup laku diminati.
Meski populer dan syaratnya tampak ringan, adalah sangat penting bagi peminjam untuk mempertimbangkan suku bunga dan kemampuan untuk membayar kembali pinjaman agar tidak terjebak dalam masalah keuangan.
Pemanfaatan Kredit Tanpa Agunan dengan Bijak

Pemanfaatan Kredit Tanpa Agunan (KTA) dengan bijak adalah kunci untuk memastikan bahwa pinjaman ini membawa manfaat daripada menjadi beban keuangan. Berikut beberapa strategi untuk memanfaatkan KTA secara bijak.
1. Evaluasi Kebutuhan
Sebelum mengajukan KTA, penting untuk mempertimbangkan apakah pinjaman ini benar-benar diperlukan. Gunakan KTA untuk kebutuhan yang mendesak atau sebagai alat ungkit demi mendapatkan aset yang menghasilkan nilai tambah di masa depan.
Prioritaskan penggunaan KTA untuk tujuan yang produktif dan dapat memberikan pengembalian investasi, bukan untuk konsumsi yang tidak perlu atau gaya hidup mewah.
2. Bandingkan Penawaran dari Berbagai Lembaga Keuangan
Cari informasi dan bandingkan penawaran KTA dari berbagai lembaga keuangan untuk mendapatkan suku bunga dan kondisi terbaik. Perhatikan detail seperti suku bunga efektif, biaya administrasi, denda keterlambatan, dan syarat lainnya.
3. Buat Rencana Keuangan, Sesuaikan Jumlah Pinjaman dengan Kemampuan Bayar
Hindari mengambil pinjaman melebihi kemampuan pembayaran bulananmu. Gunakan kalkulator pinjaman untuk mengestimasi cicilan bulanan. Pastikan cicilannya tidak melebihi 30% dari penghasilan bulanan kamu.
Buat anggaran keuangan yang memasukkan cicilan KTA sebagai bagian dari pengeluaran bulanan. Buat rencana pembayaran yang jelas, termasuk target tanggal lunas yang realistis.
Jika memungkinkan, pertimbangkan untuk melakukan pembayaran cicilan lebih awal atau melunasi pinjaman sebelum jatuh tempo untuk mengurangi total bunga yang harus dibayar.
4. Pertahankan Catatan Keuangan yang Baik
Mengajukan KTA memerlukan riwayat kredit yang baik. Pertahankan catatan keuangan yang baik dengan membayar semua tagihan dan cicilan tepat waktu, termasuk KTA.
5. Hindari Pinjaman Beruntun
Hindari mengambil KTA baru untuk membayar pinjaman lain. Perilaku seperti ini dapat menciptakan siklus utang yang sulit untuk dipecahkan; gali lubang tutup lubang. Hal seperti inilah yang bisa membuatmu terjebak kredit selamanya.
6. Baca dan Pahami Ketentuan Pinjaman
Sebelum menandatangani perjanjian pinjaman, pastikan kamu telah membaca dan memahami semua ketentuan, termasuk suku bunga, biaya, dan ketentuan lainnya.
Mengatur Keuangan agar Tak Terjebak Kredit Selamanya

So, jika memang sudah dipertimbangkan dan diperhitungkan dengan sangat cermat, dan ternyata mengajukan pinjaman melalui Kredit Tanpa Agunan ini menjadi satu-satunya solusi keuanganmu, maka tidak ada yang akan melarangnya.
Namun, harus ingat, bahwa mengatur keuangan dengan bijak adalah kunci untuk menghindari terjebak dalam siklus kredit yang enggak kunjung selesai. Berikut adalah beberapa langkah praktis untuk mengelola keuanganmu agar terhindar dari perangkap utang tak berkesudahan.
1. Buat Anggaran yang Realistis
Catat semua sumber pendapatanmu, dan list semua pengeluaran bulanan. Termasuk di dalamnya adalah pos kebutuhan hidup, tagihan, cicilan kredit—termasuk KTA ini, dan pengeluaran tidak terduga lainnya.
Tentukan prioritasnya; cermati pengeluaran mana yang esensial dan mana yang bisa dikurangi atau dieliminasi.
2. Tetapkan Dana Darurat
Sebelum mengajukan pinjaman, pastikan kamu punya dana darurat yang cukup untuk menutupi 3-6 bulan pengeluaran hidup. Dana ini bisa sangat membantu dalam situasi darurat tanpa harus mengambil kredit baru.
3. Gunakan Utang secara Bijak
Selalu ingat untuk menghindari utang konsumtif. Utang sebaiknya digunakan untuk investasi yang menghasilkan nilai lebih di masa depan, bukan untuk konsumsi yang enggak mendatangkan pengembalian. Ingat akan tiga syarat utang sehat ini ya.
Jika harus berutang, pastikan itu untuk tujuan produktif, seperti misalnya untuk usaha, atau pembelian aset yang nilainya meningkat.
4. Bayar Utang dengan Strategi Snowball atau Avalanche
Tentukan metode pembayaran utangmu, bisa pakai metode snowball atau avalance.
- Metode Snowball: Mulai dengan membayar utang terkecil terlebih dahulu sambil membayar minimum pada utang lain, kemudian bergerak ke utang berikutnya yang lebih besar
- Metode Avalanche: Bayar utang dengan bunga tertinggi terlebih dahulu, kemudian lanjutkan ke utang dengan bunga berikutnya yang lebih rendah.
Keduanya bisa menjadi solusi terbaik untuk cara melunasi pinjaman, asalkan kamu punya disiplin diri yang baik juga.
5. Pertahankan Gaya Hidup Sederhana
Selama dalam cicilan, hiduplah sesuai kemampuan. Hindari gaya hidup yang berlebihan dan fokus pada pengeluaran untuk kebutuhan, bukan keinginan. Cari kepuasan dalam hal-hal yang tidak selalu memerlukan pengeluaran uang, seperti waktu bersama keluarga atau hobi yang murah.
Mengikuti langkah-langkah ini tidak hanya akan membantu kamu menghindari terjebak dalam utang seperti halnya Kredit Tanpa Agunan loh. Namun, juga membantumu membangun fondasi keuangan yang kuat untuk masa depan. Kunci utamanya adalah disiplin, perencanaan, dan kesadaran finansial.
Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.
Follow juga Instagram QM Financial, untuk berbagai tip, informasi, dan jadwal kelas terbaru setiap bulannya, supaya nggak ketinggalan update!
Mewujudkan Dream Wedding dengan Anggaran Realistis
Siapa yang enggak kepingin merayakan momen terindah ini dalam sebuah dream wedding? Rasanya sih enggak ada. Meskipun kemudian ternyata diputuskan mau merayakannya dalam kesederhanaan, pasti karena ada pertimbangan lain yang masuk akal. Pertimbangan panjang yang kemudian membuat kita rela untuk mengalihkan dream wedding untuk tujuan lain.
Enggak salah kok. Bisa jadi juga, yang sederhana itu adalah impianmu juga kan?
So, yuk mari, yang berencana untuk tight the knot dalam waktu dekat, dan pengin mewujudkan dream wedding masing-masing, kita coba untuk melihat satu per satu apa saja yang perlu dipikirkan.
Table of Contents
Elemen Biaya Pernikahan

Yang pertama, kamu kudu paham apa saja yang “terlibat” dalam sebuah upacara pernikahan, alias elemen pernikahan.
Elemen-elemen biaya dalam pernikahan bisa bervariasi tergantung pada preferensi, budaya, dan lokasi. Tetapi, ada beberapa elemen utama yang umumnya diperhitungkan dalam anggaran pernikahan demi terwujudnya dream wedding.
- Venue dan Akomodasi: Biaya sewa tempat untuk upacara dan resepsi, termasuk biaya tambahan untuk dekorasi, pencahayaan, dan suara.
- Katering dan Makanan: Biaya makanan dan minuman untuk tamu, termasuk kue pernikahan, makan malam resepsi, cocktail hour, dan mungkin juga makan siang atau brunch.
- Pakaian Pengantin: Biaya gaun pengantin, pakaian pengantin pria, sepatu, aksesori, dan biaya perawatan seperti penyesuaian ukuran atau dry cleaning.
- Fotografi dan Videografi: Biaya untuk jasa fotografer dan videografer profesional untuk mendokumentasikan momen pernikahan.
- Dekorasi dan Bunga: Biaya untuk dekorasi upacara dan resepsi, termasuk bunga, centerpiece, backdrop, dan aksesori lainnya.
- Hiburan: Biaya untuk musik dan hiburan, seperti DJ, band live, penari, atau atraksi khusus lainnya.
- Undangan dan Stasioner: Biaya untuk desain dan pencetakan undangan, save-the-date cards, program upacara, menu, dan kartu ucapan terima kasih.
- Cincin Pernikahan: Biaya pembelian cincin pernikahan untuk kedua pengantin.
- Makeup dan Hair Styling: Biaya untuk makeup artist dan hair stylist untuk pengantin dan kadang untuk bridal party.
- Transportasi: Biaya transportasi untuk pengantin, keluarga, dan tamu, jika diperlukan.
- Hadiah untuk Tamu (Favors): Biaya untuk suvenir atau hadiah kecil sebagai ucapan terima kasih kepada tamu.
- Biaya Pernikahan Sipil atau Keagamaan: Biaya untuk prosesi pernikahan sipil atau upacara keagamaan, termasuk donasi untuk tempat ibadah atau biaya untuk ofisial pernikahan.
- Penginapan: Biaya penginapan untuk tamu dari luar kota atau untuk malam sebelum dan setelah pernikahan.
- Perencana Pernikahan: Jika menggunakan jasa perencana pernikahan, biaya jasanya termasuk dalam anggaran.
- Lain-lain: Biaya tambahan yang mungkin timbul, seperti tips untuk vendor, biaya keadaan darurat, dan lain-lain.
Eh, kok banyak ya? Ya, memang banyak kalau mau punya dream wedding yang lengkap. Tapi enggak semua elemen ini diperlukan untuk setiap pernikahan, dan banyak pasangan memilih untuk menghemat biaya dengan mengurangi atau menghilangkan beberapa elemen ini. Pemilihan elemen dan pengalokasian anggaran sangat tergantung pada prioritas dan preferensi pribadi setiap pasangan.
Cara Membuat Anggaran yang Realistis untuk Wujudkan Dream Wedding

Menentukan anggaran yang realistis untuk pernikahan kamu akan memerlukan pendekatan yang matang dan bijaksana. Berikut adalah langkah-langkah yang bisa dilakukan.
1. Evaluasi Keuangan
Cek penghasilan bulanan, tabungan yang sekarang sudah dimiliki, dan berapa banyak yang bisa disisihkan setiap bulan untuk wujudkan dream wedding ini. Sebisa mungkin, hindari mengambil utang untuk biaya pernikahan. Jika memang—darurat banget—perlu pinjaman, pastikan bahwa cicilannya tidak akan membebani keuangan kamu setelah pernikahan.
2. Diskusi bersama Pasangan
Bicarakan dengan pasangan tentang apa yang paling penting bagi kalian berdua dalam pernikahan. Misalnya, mungkin kamu lebih mengutamakan fotografi daripada dekorasi. Atau, venue mau di rumah saja, ketimbang sewa gedung mewah.
Diskusikan juga, apakah keluarga akan membantu secara finansial dan seberapa banyak bantuan yang mungkin diberikan.
3. Riset Biaya Rata-rata
Lakukan riset mengenai biaya rata-rata untuk berbagai elemen pernikahan, sesuai yang sudah dibikin list seperti di atas. Bandingkan antara vendor satu dengan yang lain. Minta penawaran dari vendor untuk membandingkan harga dan layanan mereka.
4. Tentukan Skala dan Gaya Pernikahan
Pertimbangkan apakah kamu mau mengadakan pesta besar, sedang, atau intimate. Lalu juga pertimbangkan gayanya; internasional atau sesuai adat? Kalau kamu dan pasangan datang dari dua tradisi yang berbeda, mau pakai tradisi yang mana? Gaya pernikahan ini akan banyak memengaruhi biaya.
5. Buat Persentase Alokasi
Tetapkan berapa persen dari anggaran untuk masing-masing elemen. Misalnya, untuk makanan dan minuman 30%, lokasi 20%, dan seterusnya. Tetapkan sesuai prioritas yang sudah dibicarakan antara kamu dan pasanganmu.
6. Siapkan Dana Darurat
Hal-hal darurat akan selalu muncul dadakan. Agar tak “mengganggu” rencana besarnya, sisihkan sekitar 5-10% dari anggaran total sebagai dana darurat untuk pengeluaran tak terduga ini.

7. Perbarui dan Sesuaikan Anggaran
Lakukan review terhadap anggaran yang sudah dibuat secara berkala selama proses perencanaan dream wedding ini. Kalau ada perubahan, segera lakukan penyesuaian. Dengan demikian, membuat anggaran yang fleksibel adalah koentji.
Jangan lupa untuk mencatat setiap pengeluaran untuk memastikan bahwa rencanamu tetap berjalan di “koridor”-nya.
8. Pertimbangkan Alternatif Hemat Biaya
Pikirkan tentang aspek-aspek apa yang bisa kamu lakukan sendiri atau dengan bantuan keluarga dan teman demi penghematan biaya. Manfaatkan teknologi kalau perlu.
Misalnya saja untuk undangan, kamu bisa mendesain sendiri dengan Canva, dan kemudian menaruhnya di domain sehingga bisa diakses online oleh para tamu. Kamu pun bisa menghemat biaya desain dan pencetakan undangan.
9. Hindari Pergeseran Anggaran yang Tidak Perlu
Hindari godaan untuk meningkatkan anggaran tanpa alasan yang jelas dan berdasarkan kemampuan keuangan kamu.
Menyelenggarakan dream wedding merupakan hak setiap orang. Dengan perencanaan yang baik dan matang, tak ada hal yang mustahil untuk diwujudkan.
Semoga mimpimu menjadi nyata ya.
Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.
Follow juga Instagram QM Financial, untuk berbagai tip, informasi, dan jadwal kelas terbaru setiap bulannya, supaya nggak ketinggalan update!