
Memutuskan menjadi ibu rumah tangga atau tetap bekerja setelah menikah dan punya anak bukan keputusan yang bisa dibuat hanya berdasarkan perasaan. Setuju enggak nih?
Pasalnya, ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi setiap bulan, cicilan yang tetap berjalan, biaya sekolah yang terus naik, sampai dana darurat yang perlu disiapkan. Kalau salah satu sumber penghasilan berhenti, perubahan pada kondisi keuangan keluarga bisa langsung terasa di rekening.
Di sisi lain, bekerja juga punya biaya yang perlu dihitung. Ada ongkos transportasi, makan saat bekerja, biaya penitipan anak, pengasuh, sampai pengeluaran tambahan ketika waktu untuk mengurus rumah semakin sedikit.
Karena itu, membandingkan gaji dengan pengeluaran secara utuh jauh lebih membantu daripada sekadar melihat nominal penghasilan. Keputusan yang dipilih sebaiknya membuat kondisi keluarga tetap aman dalam jangka panjang.
Table of Contents
Sebelum Memilih Jadi Ibu Rumah Tangga, Hitung Dulu Dampaknya ke Keuangan Keluarga

Pilihan menjadi ibu rumah tangga akan ngaruh banget ke struktur pemasukan dan pengeluaran keluarga. Penghasilan yang sebelumnya datang dari dua orang berubah menjadi satu sumber utama. Sementara itu, pengeluaran teteup … banyak!
Supaya keputusan tidak dibuat dengan perkiraan kasar, coba hitung kondisi keuangan keluarga menggunakan angka yang benar-benar ada.
1. Bandingkan Penghasilan Bersih dengan Biaya Bekerja
Gaji yang masuk ke rekening belum tentu sama dengan nilai ekonomi yang benar-benar kamu dapatkan dari pekerjaan. Coba catat seluruh biaya yang muncul karena kamu bekerja.
Misalnya, penghasilan bersih setiap bulan Rp8 juta. Untuk bekerja, kamu mengeluarkan Rp1 juta untuk transportasi dan makan, Rp2 juta untuk penitipan anak, serta Rp500 ribu untuk kebutuhan lain yang berhubungan dengan pekerjaan. Artinya, ada sekitar Rp3,5 juta yang keluar agar pekerjaan tersebut bisa dijalani.
Dalam kondisi seperti itu, berhenti bekerja bukan berarti keluarga kehilangan seluruh Rp8 juta secara efektif. Ada pengeluaran yang ikut menghilang ketika aktivitas kerja berhenti. Nah, perhitungkan angka bersihnya supaya perbandingannya lebih adil.
Baca juga: Berhenti Kerja Setelah Menikah, Apa Saja yang Perlu Dipertimbangkan Secara Finansial?
2. Cek Apakah Satu Penghasilan Cukup untuk Kebutuhan Rutin
Kalau memilih menjadi ibu rumah tangga, pendapatan keluarga mungkin hanya mengandalkan pasangan. Pertanyaannya, apakah penghasilan tersebut cukup untuk membayar seluruh kebutuhan tanpa membuat keuangan terlalu ketat?
Buat daftar pengeluaran bulanan, mulai dari kebutuhan rumah, listrik, internet, transportasi, cicilan, belanja dapur, biaya anak, premi asuransi, sampai kebutuhan pribadi. Setelah semuanya dicatat, bandingkan dengan penghasilan bersih yang tersedia.
Sisakan ruang untuk tabungan dan dana darurat. Jangan sampai seluruh gaji habis hanya untuk kebutuhan rutin karena sedikit pengeluaran tak terduga saja bisa mengganggu anggaran satu bulan penuh.
3. Hitung Biaya Pengasuhan Anak secara Realistis
Biaya pengasuhan sering menjadi salah satu pos terbesar. Namun, jangan langsung menganggap biaya tersebut hilang seluruhnya jika salah satu orang berhenti bekerja.
Anak tetap membutuhkan kebutuhan harian, perlengkapan sekolah, makanan, kesehatan, serta aktivitas lain sesuai usianya. Kalau sebelumnya kamu menggunakan jasa pengasuh atau daycare, hitung berapa biaya yang benar-benar bisa dihemat setelah kamu berhenti bekerja. Namun, kalaupun nantinya anak berada di rumah, ada beberapa biaya pengasuhan yang akan tetap ada. Misalnya, beli buku-buku anak, mainan anak, lebih banyak camilan sehat, dan sebagainya. Jadi, jangan sampai biaya ini dihilangkan ketika mempertimbangkan untuk keluar dari pekerjaan.
Perhitungan ini juga membantu melihat kondisi beberapa tahun ke depan. Anak yang masih bayi membutuhkan jenis pengeluaran berbeda dengan anak yang sudah masuk sekolah. Jadi, gunakan proyeksi, bukan hanya angka pengeluaran bulan ini.

4. Pertimbangkan Tabungan Pensiun dan Manfaat dari Pekerjaan
Gaji bulanan bukan satu-satunya nilai yang diperoleh dari pekerjaan. Ada tunjangan, bonus, jaminan sosial, asuransi dari perusahaan, kontribusi pensiun, hingga peluang kenaikan penghasilan.
Ketika memilih menjadi ibu rumah tangga, beberapa fasilitas tersebut mungkin ikut berhenti. Bagian ini sering luput dari perhitungan karena manfaatnya enggak selalu terlihat sebagai uang yang masuk ke rekening setiap bulan.
Coba hitung berapa kontribusi perusahaan untuk asuransi atau dana pensiun, misalnya. Kalau jumlahnya cukup besar, keluarga perlu menyiapkan pengganti secara mandiri. Dengan begitu, kebutuhan masa depan tetap punya sumber dana meskipun kamu sudah enggak terima penghasilan dari pekerjaan.
5. Jangan Lupakan Peluang Penghasilan di Masa Depan
Berhenti bekerja selama beberapa tahun dapat memengaruhi peluang ketika ingin kembali ke dunia kerja. Perkembangan industri berjalan cepat, keterampilan bisa berubah, dan posisi yang tersedia belum tentu sama seperti sebelum kamu berhenti.
Bagi ibu rumah tangga yang ingin tetap punya pemasukan, pekerjaan paruh waktu, freelance, usaha rumahan, atau proyek berbasis keterampilan bisa menjadi salah satu pilihan. Besarnya penghasilan memang mungkin enggak sama dengan pekerjaan sebelumnya, tetapi pemasukan tambahan dapat membantu menjaga ruang dalam anggaran keluarga.
Kalau memang berencana kembali bekerja setelah anak lebih besar, pertahankan keterampilan yang masih bisa digunakan. Mengikuti kursus, mengambil proyek kecil, atau tetap membangun portofolio dapat membuat proses kembali bekerja lebih mudah.
6. Siapkan Dana Darurat
Keputusan berhenti bekerja sebaiknya enggak dilakukan ketika tabungan keluarga sedang tipis. Dana darurat akan kasih napas tambahan kalau ada kejadian seperti kehilangan pekerjaan, anggota keluarga sakit, kendaraan rusak, atau kebutuhan rumah tangga mendadak meningkat.
Idealnya, hitung kebutuhan berdasarkan jumlah pengeluaran bulanan setelah perubahan kondisi kerja. Kalau sebelumnya keluarga memiliki dua penghasilan, target dana darurat juga perlu disesuaikan ketika hanya ada satu sumber pemasukan.
Misalnya pengeluaran rutin keluarga mencapai Rp10 juta per bulan. Dengan target dana darurat enam bulan, keluarga perlu menyiapkan sekitar Rp60 juta. Angkanya tentu dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing, tetapi perhitungan seperti ini memberi gambaran konkret sebelum keputusan dibuat.

7. Buat Simulasi Keuangan untuk Beberapa Skenario
Supaya keputusan lebih mantap, coba buat setidaknya tiga simulasi, tetap bekerja penuh waktu, berhenti bekerja, dan bekerja dengan jam yang lebih fleksibel. Masukkan pendapatan, biaya pengasuhan, kebutuhan rumah tangga, tabungan, cicilan, serta target keuangan keluarga.
Simulasi ini dapat menunjukkan bagaimana kondisi keuangan dalam satu, tiga, atau lima tahun. Misalnya, pilihan bekerja membuat keluarga memiliki tabungan lebih besar, tetapi biaya daycare juga tinggi. Sementara itu, berhenti bekerja bisa memangkas pengeluaran tertentu, tetapi kemampuan menabung menjadi lebih kecil.
Bagi ibu rumah tangga, gambaran seperti ini juga membantu menentukan ruang finansial untuk kebutuhan pribadi. Kamu bisa mengetahui apakah masih ada anggaran untuk menabung atas nama sendiri, mengikuti pelatihan, membeli kebutuhan pribadi, atau membangun sumber penghasilan tambahan.
Baca juga: Setelah Menikah, Perlukah Perempuan Tetap Mandiri Secara Finansial?
Memilih menjadi ibu rumah tangga atau tetap bekerja sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan finansial keluarga, kebutuhan anak, kondisi pekerjaan, serta rencana beberapa tahun ke depan. Coba gunakan angka nyata saat menghitung, bukan sekadar perkiraan.
Ketika pemasukan, pengeluaran, tabungan, perlindungan finansial, dan target masa depan sudah terlihat, keputusan akan jauh lebih mudah dipertimbangkan dengan kepala dingin.
Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.
Follow juga Instagram QM Financial, untuk berbagai tip, informasi, dan jadwal kelas terbaru setiap bulannya, supaya nggak ketinggalan update!




