Apa Bedanya Perencanaan Keuangan Jangka Pendek dan Jangka Panjang?
Perencanaan keuangan penting buat memastikan uang nggak cuma cukup buat sekarang, tapi juga aman untuk masa depan. Tanpa rencana yang jelas, pengeluaran bisa berantakan dan tujuan finansial sulit tercapai.
Ada yang harus dipikirkan dalam jangka pendek, ada juga yang perlu disiapkan untuk jangka panjang. Keduanya punya peran masing-masing dan nggak bisa dipilih salah satu.
Karena itu lalu ada perencanaan keuangan jangka pendek dan jangka panjang. Lalu, apa bedanya hanya di durasi? Enggak juga.
Yuk, coba kita lihat apa beda dari kedua jenis perencanaan keuangan ini. Dengan memahaminya, harapannya keuangan kita bisa tetap sehat dan stabil di setiap tahap hidup.
Table of Contents
Bedanya Perencanaan Keuangan Jangka Pendek dan Jangka Panjang

Setiap keputusan finansial butuh strategi yang sesuai dengan tujuan dan waktunya. Perencanaan keuangan terbagi menjadi jangka pendek dan jangka panjang karena kebutuhan di tiap tahap hidup berbeda. Ada yang harus segera dipenuhi, ada juga yang butuh waktu bertahun-tahun untuk dicapai.
Supaya lebih jelas, berikut perbedaan keduanya dan bagaimana mengelolanya dengan tepat.
1. Perencanaan Keuangan Jangka Pendek
Jangan dikira, mentang-mentang waktunya enggak lama, lantas kita nggak butuh perencanaan keuangan. Tetep butuh, karena masalahnya ada pada kebutuhan yang banyak, sementara uang kita terbatas.
Durasi dan Tujuan Keuangan
Perencanaan keuangan jangka pendek itu seperti mengatur uang untuk kebutuhan yang ada di depan mata. Biasanya, waktunya kurang dari tiga tahun dan tujuannya lebih ke hal-hal yang langsung terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Misalnya, memastikan pengeluaran tetap terkendali sampai akhir bulan, melunasi cicilan kecil, atau mengumpulkan dana darurat supaya ada pegangan kalau tiba-tiba butuh uang mendadak. Rencana ini juga membantu menghindari stres keuangan karena keuangan lebih tertata dan nggak habis begitu saja tanpa arah.
Selain itu, rencana ini juga bisa mencakup menabung untuk sesuatu yang nggak terlalu jauh, seperti liburan, beli barang impian, atau biaya sekolah dalam waktu dekat.
Kalau nggak ada strategi yang jelas, jangan salah meskipun pendek, uang tetap bisa cepat habis sebelum tujuan tercapai. Makanya, perlu menentukan target yang spesifik, misalnya berapa jumlah yang harus disisihkan setiap bulan agar dana terkumpul sesuai rencana.

Instrumen yang Digunakan
Karena sifatnya yang cepat dan fleksibel, cara mengelolanya juga harus praktis. Memilih instrumen keuangan yang tepat jadi kunci. Dengan begitu, uang tetap bisa berkembang tanpa mengorbankan aksesibilitasnya saat benar-benar dibutuhkan.
Tabungan adalah pilihan paling aman karena bisa langsung dipakai kapan saja. Deposito cocok kalau ada dana lebih yang bisa disimpan dalam jangka waktu tertentu tanpa tergoda untuk digunakan. Sementara reksa dana pasar uang bisa jadi alternatif karena keuntungannya lebih tinggi daripada tabungan, tapi tetap likuid dan risikonya rendah.
Dengan kombinasi yang tepat, perencanaan keuangan jangka pendek bisa membantu mencapai tujuan finansial tanpa harus merasa terbebani.
Baca juga: Cara Membuat Perencanaan Keuangan Pribadi yang Efektif dan Mudah
2. Perencanaan Keuangan Jangka Panjang
Jangan salah, cuma karena waktunya masih lama bukan berarti perencanaan keuangan bisa ditunda. Justru makin cepat direncanakan, makin ringan beban yang harus disiapkan. Soalnya, tujuan jangka panjang butuh dana besar, sementara kalau ditunda terus, bisa-bisa malah makin sulit tercapai.
Durasi dan Tujuan Keuangan
Perencanaan keuangan jangka panjang itu seperti menanam pohon. Butuh waktu, kesabaran, dan strategi yang matang supaya bisa tumbuh besar dan memberi manfaat di masa depan.
Durasi perencanaannya lebih dari tiga tahun, bahkan bisa sampai puluhan tahun tergantung tujuan yang ingin dicapai. Biasanya, rencana ini berkaitan dengan hal-hal besar dalam hidup, seperti dana pensiun, membeli rumah, biaya pendidikan anak, atau investasi yang bisa jadi sumber penghasilan pasif.
Karena tujuannya jangka panjang, prosesnya juga nggak instan, perlu disiplin dan strategi yang tepat supaya hasilnya maksimal. Menyiapkan dana pensiun, misalnya, bukan sesuatu yang bisa dilakukan dalam waktu singkat. Semakin dini mulai menabung atau berinvestasi, semakin ringan beban yang harus disisihkan setiap bulan.
Begitu juga dengan rencana membeli rumah atau biaya pendidikan anak, semua butuh persiapan sejak jauh-jauh hari supaya nggak kewalahan saat waktunya tiba. Tanpa perencanaan yang matang, ada risiko keuangan jadi berantakan dan impian sulit terwujud.

Instrumen yang Digunakan
Karena jangka waktunya panjang, instrumen yang digunakan juga berbeda dari perencanaan jangka pendek. Tabungan biasa kurang efektif karena nilainya bisa tergerus inflasi.
Makanya, instrumen seperti saham, obligasi, reksa dana saham, atau properti lebih cocok karena potensi keuntungannya lebih besar dalam jangka panjang. Saham bisa memberi pertumbuhan nilai yang tinggi, meskipun risikonya juga lebih besar. Obligasi lebih stabil dan cocok untuk yang ingin investasi dengan risiko lebih rendah. Sementara properti bisa jadi aset yang nilainya terus meningkat seiring waktu.
Yang terpenting dalam perencanaan keuangan jangka panjang adalah konsistensi dan kesabaran. Nilai investasi bisa naik turun, tapi yang dilihat bukan hasil dalam satu atau dua tahun, melainkan bagaimana pertumbuhannya dalam jangka panjang. Dengan strategi yang tepat, perencanaan ini bisa jadi jalan untuk mencapai kebebasan finansial dan memastikan masa depan yang lebih terjamin.
Baca juga: Contoh Financial Planning Pribadi yang Cocok untuk Semua Orang
Perencanaan keuangan yang baik butuh keseimbangan antara jangka pendek dan jangka panjang. Keduanya saling melengkapi supaya keuangan tetap aman sekarang dan di masa depan. Pahami perbedaannya, tentukan prioritas, dan kelola uang dengan strategi yang tepat. Dengan begitu, setiap tujuan finansial bisa tercapai tanpa bikin stres.
Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.
Follow juga Instagram QM Financial, untuk berbagai tip, informasi, dan jadwal kelas terbaru setiap bulannya, supaya nggak ketinggalan update!
Beli Rumah Subsidi: Keuntungan dan Kekurangan yang Harus Dipertimbangkan
Punya rumah sendiri bisa jadi adalah impian banyak orang, tapi harga properti yang terus naik bikin beli rumah bukan hal gampang. Rumah subsidi ini bisa jadi solusi karena harganya lebih murah dan cicilannya ringan.
Program ini dibuat pemerintah supaya masyarakat berpenghasilan rendah bisa punya hunian sendiri. Meski terlihat menguntungkan, ada beberapa hal yang tetap perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan membeli.
So, supaya lebih yakin, penting untuk memahami keuntungan dan kekurangannya sebelum mengambil keputusan besar ini.
Table of Contents
Plusnya Rumah Subsidi

Sebelum memutuskan membeli, penting untuk memahami apa saja keuntungan yang bisa didapat dari rumah subsidi. Selain harga yang lebih murah, ada beberapa kelebihan lain yang membuatnya menarik. Berikut beberapa poin yang perlu dipertimbangkan.
1. Lebih Terjangkau
Harga rumah subsidi lebih terjangkau dibanding rumah komersial karena mendapat dukungan pemerintah dalam bentuk subsidi. Selain harga jual yang lebih murah, program ini juga menawarkan DP ringan, sehingga enggak membebani biaya awal pembelian.
Baca juga: Membangun Rumah Impian dengan Rencana Keuangan yang Realistis
2. Cicilan Ringan
Cicilan rumah subsidi lebih ringan karena menggunakan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dengan bunga tetap sekitar 5% per tahun. Skema ini membuat cicilan lebih stabil dibanding KPR non-subsidi, yang mengikuti fluktuasi suku bunga pasar.
Selain itu, tenor panjang hingga 20 tahun memberikan fleksibilitas dalam pembayaran, sehingga lebih sesuai dengan kemampuan finansial penerima manfaat.
3. Tanpa PPN
Rumah subsidi lebih hemat karena enggak ada Pajak Pertambahan Nilai (PPN), berbeda dengan rumah komersial yang dikenakan pajak tambahan. Selain itu, biaya akad lebih rendah, mencakup biaya notaris dan administrasi yang lebih ringan, sehingga mengurangi beban pengeluaran awal saat membeli rumah. Hal ini membantu masyarakat berpenghasilan rendah mendapatkan hunian dengan biaya dana rumah awal yang lebih terjangkau.
4. Akses Kepemilikan Lebih Mudah
Persyaratan KPR subsidi lebih fleksibel, terutama dalam batas penghasilan, sehingga masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) lebih mudah memenuhi syarat. Batas maksimal gaji Rp8 juta per bulan (Jabodetabek) dan Rp4 juta per bulan (di luar Jabodetabek) memungkinkan lebih banyak orang mendapatkan rumah dengan skema ini. Selain itu, riwayat kredit juga enggak seketat KPR komersial, sehingga proses persetujuan lebih mudah bagi pemohon yang belum memiliki rekam jejak pinjaman panjang.
5. Bisa Jadi Investasi Jangka Panjang
Meski memiliki pembatasan dalam jual-beli, rumah subsidi tetap berpotensi menjadi aset investasi jangka panjang. Jika wilayah berkembang dan infrastruktur membaik, nilai properti bisa meningkat dalam beberapa tahun. Setelah melewati masa larangan jual dalam 5 tahun pertama, rumah dapat dijual atau disewakan, memberikan peluang keuntungan bagi pemiliknya.
Minusnya Rumah Subsidi

Meski menawarkan banyak keuntungan, rumah subsidi juga memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan. Apa saja?
1. Lokasi Jauh dari Pusat Kota
Rumah subsidi umumnya dibangun di area pinggiran kota untuk menekan biaya pengembangan, sehingga akses ke pusat kota masih terbatas. Infrastruktur transportasi umum di beberapa lokasi mungkin belum optimal, membuat mobilitas jadi lebih sulit.
Biaya transportasi harian bisa meningkat, terutama bagi pekerja yang harus bepergian ke pusat kota setiap hari. Jika enggak ada moda transportasi yang efisien, waktu tempuh juga bisa lebih lama, berdampak pada produktivitas dan kenyamanan.
2. Fasilitas Terbatas
Beberapa perumahan subsidi masih memiliki keterbatasan infrastruktur, seperti jalan yang belum sepenuhnya beraspal, akses air bersih yang terbatas, atau jaringan listrik yang kurang stabil. Selain itu, fasilitas umum seperti taman, sekolah, pusat kesehatan, dan transportasi publik tidak selalu tersedia di dalam atau sekitar perumahan. Hal ini bisa membuat penghuni perlu menempuh jarak lebih jauh untuk mendapatkan layanan dasar, yang berpengaruh pada kenyamanan dan biaya hidup.
3. Kualitas Bangunan Standar
Rumah subsidi umumnya dibangun dengan material sederhana untuk menekan biaya produksi, sehingga kualitasnya mungkin enggak sekuat rumah komersial. Beberapa bagian seperti atap, dinding, dan lantai sering memerlukan renovasi tambahan agar lebih nyaman dan tahan lama.
Selain itu, luas rumah terbatas, biasanya 21–36 m², dengan desain minimalis yang hanya mencakup ruang utama, kamar tidur, dan kamar mandi. Bagi keluarga yang bertambah anggota, kemungkinan perlu melakukan perluasan atau modifikasi agar lebih sesuai dengan kebutuhan.
4. Keterbatasan dalam Jual-Beli
Rumah subsidi belum bisa dijual kembali sebelum 5 tahun, kecuali dalam kondisi tertentu seperti pindah kerja ke luar kota atau force majeure. Aturan ini membatasi fleksibilitas pemilik yang ingin menjual lebih cepat.
Setelah melewati masa larangan, rumah bisa dijual, tetapi kenaikan harga enggak selalu signifikan. Semuanya tergantung pada perkembangan infrastruktur dan permintaan di wilayah tersebut. Jika lokasi kurang berkembang, potensi keuntungan dari penjualan bisa lebih rendah dibanding properti di area strategis.

5. Pengaruh pada Perencanaan Keuangan Jangka Panjang
Meskipun cicilan rumah subsidi lebih ringan, tetap ada biaya tambahan yang perlu diperhitungkan. Misalmua, seperti renovasi untuk meningkatkan kenyamanan, biaya transportasi yang lebih besar jika lokasi jauh dari tempat kerja, serta perawatan rumah secara berkala.
Kalau perumahan berada di kawasan yang perkembangannya lambat, nilai properti mungkin enggak naik signifikan, sehingga potensi investasi jangka panjang menjadi lebih terbatas. So, perlu ada perencanaan keuangan yang lebih matang agar kepemilikan rumah subsidi tetap menguntungkan dan enggak membebani keuangan di masa depan.
Baca juga: Tinggal di Rumah Sendiri vs Orang Tua vs Kontrak: Pilih Mana?
Rumah subsidi bisa jadi pilihan tepat kalau ingin punya hunian dengan harga terjangkau dan cicilan ringan. Tapi, tetap ada kekurangan yang perlu dipertimbangkan, terutama soal lokasi, fasilitas, dan aturan kepemilikan.
Sebelum membeli, pastikan sudah menghitung semua biaya tambahan dan mempertimbangkan kebutuhan jangka panjang. Dengan keputusan yang matang, rumah yang dibeli bisa benar-benar jadi tempat tinggal nyaman tanpa membebani keuangan.
Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.
Follow juga Instagram QM Financial, untuk berbagai tip, informasi, dan jadwal kelas terbaru setiap bulannya, supaya nggak ketinggalan update!
Ini Dia Tip Memilih Aplikasi Investasi dan Contohnya
Kamu investor pemula yang sedang bingung memilih aplikasi investasi?
Investasi merupakan sebuah kegiatan menempatkan dana pada satu jenis aset atau lebih selama periode tertentu. Tujuan dari berinvestasi adalah memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya untuk membantu kita dalam mencapai financial goals. Tentunya, setiap orang memiliki tujuan keuangan atau financial goals yang berbeda-beda, bukan?
Nah, terdapat beragam jenis investasi yang perlu diketahui oleh para investor pemula. Jenis-jenis investasi tersebut terdiri dari investasi jangka pendek, investasi jangka menengah, dan juga investasi jangka panjang.
Investasi jangka pendek biasanya dilakukan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek, dalam hal ini investor akan cenderung dianjurkan untuk memilih instrumen investasi dengan profil risiko rendah.
Jenis yang kedua adalah investasi jangka menengah. Dalam hal ini, investor cenderung menaruh dana pada aset agar memperoleh keuntungan untuk memenuhi kebutuhan antara tiga hingga sepuluh tahun mendatang. Sementara investasi untuk perencanaan keuangan jangka panjang, dilakukan oleh investor untuk memenuhi kebutuhan finansial di atas sepuluh tahun atau untuk mempersiapkan dana pensiun.
Tip Memilih Aplikasi Investasi dan Cara Memulai Investasi

Dulunya, investasi dilakukan melalui sekuritas tertentu atau dengan bantuan broker. Namun, seiring berkembangnya teknologi, investasi menjadi lebih mudah. Pasalnya, kamu dapat berinvestasi secara online melalui aplikasi, lho. Keren bukan?
Meskipun demikian, perkembangan teknologi yang memicu banyaknya aplikasi investasi harusnya dapat membuat kamu lebih waspada. Tidak sedikit aplikasi palsu yang merugikan investor dan masyarakat. Lantas, bagaimana cara memilih aplikasi investasi agar tidak terjerumus dalam investasi bodong?
1. Ketahui Tujuan Berinvestasi
Sebelum memutuskan untuk terjun ke dunia investasi, maka kamu wajib tahu apa yang menjadi tujuanmu berinvestasi. Ketahuilah tujuanmu berinvestasi, baik itu jangka pendek maupun jangka panjang, agar kamu memiliki patokan dalam berinvestasi.
Dengan demikian, kamu akan lebih mudah untuk mengambil keputusan terkait instrument dan platform apa yang akan kamu gunakan dalam berinvestasi.
2. Pastikan Kondisi Keuangan Sehat melalui Financial Check-Up
Financial Check Up merupakan kegiatan untuk melihat kembali kondisi keuangan kamu selama satu tahun terakhir. Dalam hal ini, kamu perlu memeriksa keuangan secara keseluruhan mulai dari harta, rasio aset lancar, cash flow, rasio menabung, investasi hingga utang, ya.
3. Mengenali Profil Risiko
Setiap investor memiliki profil risiko yang berbeda-beda. Terdapat tiga profil risiko investor, yakni konservatif, moderat dan agresif. Konservatif adalah jenis profil risiko yang identik dengan investor yang takut berspekulasi.

4. Pastikan Aplikasi Investasi yang Dipilih Terdaftar di OJK
Memastikan aplikasi investasi yang kamu gunakan terdaftar dalam Otoritas Jasa Keuangan atau OJK penting untuk dilakukan. Cek beberapa aplikasi investasi sebagai perbandingan, mana yang lebih sesuai dengan gaya investasimu.
5. Kenali Produk Investasi yang Ditawarkan
Sebelum akhirnya memutuskan untuk berinvestasi pada sebuah aplikasi investasi, alangkah baiknya jika kamu mengenal lebih dekat produk investasi yang akan dibeli. Pelajari produk tersebut, agar kamu dapat memahami mana produk investasi yang sesuai dengan profil risiko dan kebutuhanmu.
6. Cek review dari pengguna lain
Sebagai investor pemula, kamu perlu melakukan riset terhadap aplikasi investasi yang akan digunakan. Bacalah review dari user lain untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan dari aplikasi tersebut. Pasalnya, review user ini biasanya jujur terkait kelebihan dan kelemahan atas produk yang digunakan.
7. Belilah Produk Investasi Unggulan
Setelah mengetahui jenis produk investasi dan menentukan platform investasi yang terpercaya, kamu bisa memilih produk investasi unggulan. Tentunya, sesuaikan dengan kebutuhan dan tujuan investasimu, ya. Dengan demikian, kamu akan lebih mudah mencapai keuntungan yang optimal.
Contoh Aplikasi Investasi untuk Investor Pemula

Setelah mengetahui apa saja yang perlu dilakukan dalam memulai investasi dan memilih aplikasi investasi, maka berikut beberapa contoh aplikasi investasi untuk investor pemula.
Disclaimer: Aplikasi investasi berikut ini adalah contoh. Bukan rekomendasi, keputusan pemilihan aplikasi akan dipertanggungjawabkan oleh masing-masing pengguna.
IPOT
IPOT adalah sebuah aplikasi investasi saham milik PT Indo Premier Sekuritas yang diawasi oleh OJK. Aplikasi ini menyediakan beragam fitur investasi yang dapat memudahkan investor pemula dalam transaksi saham. Keren bukan?
Bibit
Bibit merupakan aplikasi investasi terbaik dan cukup populer di kalangan investor. Aplikasi investasi yang satu ini sudah tedaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), lho.
Dikeluarkan oleh PT Bibit Tumbuh Bersama, aplikasi investasi ini memungkinkan investor untuk memilih beragam instrumen investasi, mulai dari saham, reksa dana pasar uang, hingga obligasi. Dengan robo advisor, investor pemula akan sangat dimanjakan selama berinvestasi menggunakan aplikasi Bibit.
Stockbit
Stockbit juga bisa menjadi salah satu contoh aplikasi investasi yang friendly untuk investor pemula. Aplikasi yang bisa diunduh melalui Playstore atau Appstore ini memiliki fitur komunitas online yang dapat dimanfaatkan sebagai sarana diskusi dengan investor lainnya. Tentunya, aplikasi ini sudah terdaftar di OJK, lho.
Demikianlah ulasan terkait aplikasi investasi, cara memilih, dan contohnya. Selain 3 contoh di atas, kamu juga bisa menemukan banyak alternatif aplikasi investasi yang lain juga. Just do your homework, dan lakukan analisis sesuai kondisimu.
Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.
Follow juga Instagram QM Financial, untuk berbagai tip, informasi, dan jadwal kelas terbaru setiap bulannya, supaya nggak ketinggalan update!