Gaji UMR vs Biaya Hidup: Bagaimana Menyiasati Kesenjangan Finansial?
Hidup zaman sekarang betul-betul berat ya? Apalagi kalau kamu adalah kelas menengah bawah, yang terima penghasilan batas gaji UMR.
Contohnya di Jakarta saja. Hidup dengan gaji UMR itu bener-bener kayak uji nyali. Bayangkan, Upah Minimum Provinsi (UMP) Jakarta tahun 2025 ditetapkan sebesar Rp5.396.760 per bulan. Sementara itu, menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata biaya hidup di Jakarta mencapai Rp14,88 juta per bulan. Artinya, ada kesenjangan yang cukup besar antara pendapatan dan pengeluaran.
Kesenjangan ini membuat banyak pekerja merasa kewalahan mengatur keuangan. Mungkin juga termasuk kamu.
Table of Contents
Gaji UMR dan Biaya Hidup: Gimana Caranya Menyeimbangkannya?

Dengan biaya hidup yang hampir tiga kali lipat dari gaji UMR, penting bagi kita untuk mencari strategi efektif agar tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa terjerat utang. Artikel ini akan membahas berbagai cara kreatif dan praktis untuk menyiasati kesenjangan finansial tersebut.
1. Cari Tempat Tinggal Alternatif yang Lebih Hemat
Kalau sewa kos atau kontrakan terlalu mahal, coba opsi lain demi gaji UMR cukup. Misalnya, cari kost bareng teman supaya bisa patungan biaya sewa. Bisa juga cari kos dengan sistem sewa tahunan yang biasanya lebih murah dibanding bayar bulanan. Kalau memungkinkan, cari tempat tinggal di pinggiran kota yang lebih murah dan gunakan transportasi umum untuk ke kantor.
Baca juga: Kenapa Gaji di Indonesia Kecil? 5 Faktor yang Memengaruhinya
2. Manfaatkan Fasilitas Gratis atau Murah
Banyak fasilitas umum yang bisa dimanfaatkan buat menghemat pengeluaran. Misalnya, cari tempat olahraga gratis seperti lapangan atau taman kota daripada bayar gym mahal. Kalau butuh internet buat kerja atau belajar, manfaatkan WiFi gratis di perpustakaan, co-working space, atau tempat lain yang menyediakan akses internet tanpa biaya tambahan.
3. Gunakan Barang Preloved untuk Kebutuhan Sekunder
Daripada beli barang baru, cek dulu apakah ada versi preloved yang lebih murah tapi masih layak pakai. Banyak orang menjual barang seperti elektronik, baju, atau furniture dengan harga miring di marketplace. Selain lebih hemat, ini juga bisa jadi cara buat mengurangi pengeluaran tanpa mengorbankan kebutuhan.
Salah satu cara yang bisa dicoba adalah thrifting, terutama untuk kebutuhan fashion. Selain baju, sepatu, tas, atau aksesori juga banyak tersedia dalam kondisi bagus. Kalau pintar memilih, bisa dapat barang branded dengan harga miring.

4. Maksimalkan Program Cashback dan Reward
Gunakan aplikasi yang memberikan cashback atau poin dari transaksi sehari-hari. Misalnya, pakai e-wallet atau kartu debit yang menawarkan diskon atau promo di tempat makan dan transportasi. Tapi ingat, jangan asal pilih aplikasi, cari yang benar-benar sering digunakan supaya keuntungan dari cashback dan reward terasa lebih maksimal.
5. Cari Pekerjaan dengan Fasilitas Tambahan
Beberapa perusahaan menawarkan fasilitas yang bisa mengurangi biaya hidup, seperti makan siang gratis, uang transport, atau tempat tinggal. So, kalau sedang mencari kerja baru, mungkin penawarannya gaji UMR, tapi coba benefit ini ditanyakan. Kalau memang ada, ya boleh dipertimbangkan, supaya gaji bisa lebih maksimal kamu terima.
6. Bekerja Remote atau Hybrid untuk Hemat Ongkos
Kalau pekerjaan memungkinkan, coba negosiasi untuk bisa kerja remote atau hybrid. Dengan bekerja dari rumah beberapa hari dalam seminggu, ongkos transportasi dan makan siang di luar bisa ditekan dan nggak membebani gaji UMR yang kamu terima. Kalau pekerjaan utama nggak bisa remote, coba cari kerja sampingan yang bisa dikerjakan online tanpa harus keluar rumah.
7. Manfaatkan Subsidi dan Program Pemerintah
Banyak orang nggak sadar kalau ada program bantuan yang bisa dimanfaatkan demi bisa membiayai hidup dengan gaji UMR. Program ini bisa dimanfaatkan agar pengeluaran lebih ringan dan kebutuhan dasar tetap terpenuhi.
Salah satunya adalah bantuan pangan 10 kg beras per bulan yang diberikan hingga Februari 2025. Bantuan ini ditujukan untuk 16 juta keluarga penerima manfaat (KPM) yang terdaftar di data Badan Pusat Statistik (BPS). Dengan ini, kebutuhan pokok seperti beras bisa lebih terjamin tanpa harus mengeluarkan uang tambahan.
Ada juga diskon tarif listrik 50% bagi pelanggan dengan daya terpasang hingga 2.200 VA. Diskon ini berlaku selama Januari dan Februari 2025 dan bisa dinikmati oleh sekitar 80 juta pelanggan PLN.
Bagi keluarga pra-sejahtera, Program Keluarga Harapan (PKH) tetap berjalan di 2025. Bantuan ini diberikan kepada ibu hamil, anak sekolah, dan lansia dalam beberapa tahap sepanjang tahun. Penyaluran dilakukan melalui PT Pos Indonesia dan Bank Himbara.
Selain itu, ada Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) senilai Rp200.000 per bulan. Dana ini bisa digunakan untuk membeli sembako di e-warung yang bekerja sama dengan pemerintah. Program ini menargetkan 18,8 juta keluarga penerima manfaat di seluruh Indonesia.
Di bidang kesehatan, Kartu Indonesia Sehat (KIS) untuk Penerima Bantuan Iuran (PBI) tetap berlaku. Masyarakat yang terdaftar bisa mendapatkan layanan kesehatan gratis di fasilitas kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan. Dengan kartu ini, biaya berobat bisa lebih ringan.
Manfaatkan program ini dengan mengecek apakah sudah terdaftar sebagai penerima bantuan. Informasi lengkap bisa diperoleh melalui website resmi pemerintah atau kantor kelurahan setempat.

8. Ubah Gaya Hidup Jadi Lebih Minimalis
Daripada terus berusaha mengejar gaya hidup yang mahal, coba ubah mindset. Mulai kurangi keinginan buat beli barang-barang yang nggak perlu. Fokus ke kualitas hidup, bukan sekadar gengsi. Dengan pola pikir ini, pengeluaran bisa lebih terkontrol tanpa harus merasa kekurangan.
Baca juga: Gaji TikTok: Apa Saja Sumber Pendapatannya?
Gaji UMR mungkin terasa pas-pasan, tapi bukan berarti nggak bisa dikelola dengan baik. Dengan strategi yang tepat, kondisi keuangan bisa lebih stabil. Selain itu, edukasi diri tentang keuangan tetap jadi kunci utama. Semakin paham cara mengatur uang, semakin mudah menyesuaikan diri dengan biaya hidup yang terus naik.
Jangan ragu untuk belajar lebih dalam soal finansial. Banyak kelas keuangan yang bisa membantu memahami cara mengelola gaji, menabung, membuat rencana keuangan atau bahkan berinvestasi. Salah satunya adalah QM Academy, yang menawarkan berbagai kelas sesuai kebutuhan. Pilih kelas yang paling relevan dan mulai bangun kebiasaan finansial yang lebih sehat. Dengan ilmu yang cukup, mengatur keuangan dengan gaji UMR bisa jadi lebih ringan dan terarah.
Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.
Follow juga Instagram QM Financial, untuk berbagai tip, informasi, dan jadwal kelas terbaru setiap bulannya, supaya nggak ketinggalan update!
Dampak Inflasi dan Deflasi: Bagaimana Keduanya Memengaruhi Kehidupan Sehari-hari
Inflasi dan deflasi ini sebenarnya hal yang wajar terjadi di setiap negara. Malahan kalau enggak ada keduanya, berarti ekonominya enggak bertumbuh. Yang menjadi perhatian adalah keduanya memang harus terkendali.
Keduanya adalah fenomena ekonomi yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari, karena bisa memengaruhi harga barang dan jasa, yang kemudian berimbas pada daya beli dan pola konsumsi.
Ketika inflasi terjadi, harga-harga naik, sementara deflasi menyebabkan harga turun. Meskipun tampak sederhana, dampaknya pada ekonomi rumah tangga bisa sangat kompleks.
Memahami efek inflasi dan deflasi penting untuk mengelola keuangan secara bijak. Kenaikan dan penurunan harga enggak cuma bisa memengaruhi biaya hidup, tetapi juga dapat berdampak pada strategi pengelolaan aset, investasi, dan tabungan. Keduanya menuntut langkah-langkah berbeda agar keuangan tetap stabil.
Table of Contents
Apa Itu Inflasi dan Deflasi?

Untuk memahami dampak inflasi dan deflasi pada keuangan pribadi, ada baiknya untuk tahu dulu definisi keduanya.
Dikutip dari Bank Indonesia, inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dalam suatu periode waktu tertentu, yang menyebabkan penurunan daya beli uang. Ketika inflasi terjadi, setiap unit mata uang dapat membeli lebih sedikit barang dan jasa dibandingkan sebelumnya. Inflasi diukur dengan menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK), yang mencerminkan perubahan harga dari sekumpulan barang dan jasa yang mewakili konsumsi rumah tangga.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Termasuk di dalamnya adalah kenaikan biaya produksi, peningkatan permintaan barang dan jasa, atau kebijakan moneter yang meningkatkan jumlah uang yang beredar di masyarakat.
Sementara itu, deflasi adalah penurunan harga barang dan jasa secara umum dalam suatu periode waktu tertentu, yang menyebabkan peningkatan daya beli uang. Ketika deflasi terjadi, harga barang dan jasa turun, sehingga konsumen dapat membeli lebih banyak dengan jumlah uang yang sama.
Ya, kedengerannya sih bagus ya bisa bikin harga barang turun. Namun, deflasi yang terus menerus bisa berdampak negatif pada perekonomian. Salah satunya karena konsumen dan bisnis bisa menunda pembelian, berharap harga akan terus turun, yang pada akhirnya malahan akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.
Baca juga: Mengenal Time Value of Money
Inflasi dan Deflasi di Indonesia
Nah, ini nih yang kemarin sempat seru dibahas. Indonesia sempat mengalami deflasi selama lima bulan berturut-turut hingga September 2024. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan deflasi sebesar 0,12% pada September 2024, menjadikan inflasi tahunan sebesar 1,84%.
Deflasi ini disebabkan oleh penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau, yang mengalami deflasi sebesar 0,59% dan memberikan andil deflasi 0,17%. Komoditas seperti bawang merah, daging ayam ras, tomat, dan telur ayam ras menjadi penyumbang utama deflasi. Hal ini menandakan situasi ekonomi Indonesia yang mengkhawatirkan.
Namun, dikutip dari Tempo, setelah mengalami deflasi selama lima bulan berturut-turut sejak Mei 2024, Indonesia mencatat inflasi sebesar 0,08 persen pada Oktober 2024. Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan, dari 105,93 pada September 2024 menjadi 106,01 pada Oktober 2024, dengan inflasi tahunan mencapai 1,71 persen (year on year/yoy).
Apa Pengaruh Inflasi dan Deflasi terhadap Keuangan Pribadi Kita?

Nah, jadi kerasa kan, deflasi lima bulan saja, bisa bikin orang jadi makan tabungan. Kalau lebih lama, ya semakin fatal dampaknya.
Inflasi dan deflasi masing-masing memang memiliki dampak signifikan pada keuangan pribadi. Apa saja?
1. Inflasi
Kenaikan harga barang dan jasa akibat inflasi mengurangi daya beli. Nilai uang menurun, sehingga biaya kebutuhan pokok, transportasi, dan lainnya menjadi lebih mahal. Jika pendapatan juga enggak naik seiring inflasi, anggaran pribadi pasti akan tertekan.
Inflasi juga bisa memengaruhi tabungan dan investasi. Aset yang enggak menghasilkan bunga atau imbal hasil yang signifikan, seperti tabungan bank biasa, bakalan kehilangan nilai. Sebaliknya, investasi dalam saham atau properti bisa mengimbangi inflasi karena nilai aset cenderung naik.
2. Deflasi
Harga yang menurun akibat deflasi meningkatkan daya beli uang, tetapi berpotensi menunda konsumsi karena harapan harga akan terus turun. Penundaan ini bisa memperlambat perputaran ekonomi, yang dapat menyebabkan penurunan upah atau bahkan PHK di beberapa sektor, memengaruhi pendapatan pribadi.
Karena itu, kemarin banyak diberitakan, kalau masyarakat makan tabungan. Hal tersebut bisa terjadi akibat kenaikan upah pekerja terlalu kecil, efek suku bunga tinggi, serta lapangan kerja terbatas di sektor formal.
Deflasi juga memengaruhi utang. Nilai utang relatif meningkat karena pendapatan mungkin menurun atau tetap stagnan, sehingga pelunasan utang menjadi lebih berat.
Apa yang Harus Kita Lakukan saat Inflasi dan Deflasi?

Nah, sekali lagi, inflasi dan deflasi yang terjadi di negara kita itu sebenarnya wajar. Namun, melihat apa dampaknya, ya pastinya kita berharap agar semua tetap terkendali.
Tapi, serahkan tugas itu pada pemerintah. Sementara itu, kita juga kudu punya sikap bijak agar keuangan tetap stabil selama terjadi fluktuasi kondisi ekonomi. Berikut adalah beberapa langkah yang bisa diambil.
1. Saat Inflasi:
- Perketat Anggaran: Fokus pada kebutuhan pokok dan batasi pengeluaran yang tidak penting untuk menjaga daya beli.
- Diversifikasi Investasi: Pilih instrumen yang memiliki imbal hasil lebih tinggi dari inflasi, seperti saham atau properti, agar nilai aset tidak tergerus.
- Hindari Utang Konsumtif: Biaya utang akan terasa lebih berat jika bunga meningkat. Prioritaskan pembayaran utang atau hindari penambahan utang.
- Pertimbangkan Penghasilan Tambahan: Memiliki sumber penghasilan tambahan dapat membantu menutup kenaikan biaya hidup.
2. Saat Deflasi:
- Jaga Likuiditas: Pastikan memiliki cadangan kas yang cukup untuk menghadapi potensi ketidakpastian, seperti penurunan pendapatan.
- Manfaatkan Harga Turun untuk Investasi: Ketika harga properti atau barang investasi turun, ini bisa menjadi peluang untuk membeli dengan harga lebih rendah.
- Kurangi Penundaan Pembelian Penting: Jika pembelian dibutuhkan segera, lakukan tanpa menunda terlalu lama supaya enggak menghambat kebutuhan sehari-hari.
- Lunasi Utang Lebih Cepat: Mengurangi beban utang selama deflasi sangat penting, karena nilai pembayaran utang akan terasa lebih berat jika pendapatan menurun.
Baca juga: Perencanaan Keuangan Jangka Pendek untuk Menghadapi Kemungkinan Kenaikan Inflasi
Mengelola anggaran dan berinvestasi dengan bijak dalam kondisi ekonomi yang dinamis adalah kunci menjaga kestabilan finansial.
Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.
Follow juga Instagram QM Financial, untuk berbagai tip, informasi, dan jadwal kelas terbaru setiap bulannya, supaya nggak ketinggalan update!