
Mencapai financial wellbeing saat penghasilan pas-pasan bukan berarti harus langsung punya tabungan besar, investasi agresif, atau hidup super hemat sampai tersiksa.
Inti dari financial wellbeing itu lebih ke membuat kondisi keuangan terasa lebih terkendali, enggak mudah panik saat ada kebutuhan mendadak, dan tetap punya ruang kecil untuk masa depan. Jadi, siapa pun kamu, termasuk yang masih punya penghasilan pas-pasan, tetap “berhak” untuk mendapatkan financial wellbeing.
Table of Contents
Cara Mencapai Financial Wellbeing meski Penghasilan Pas-pasan

Dalam konsep literasi keuangan, OJK menekankan pentingnya pengetahuan, keterampilan, sikap, dan perilaku dalam mengambil keputusan keuangan yang lebih baik. Sementara OECD juga mengaitkan financial wellbeing dengan kemampuan mengelola uang, menghadapi guncangan keuangan, dan membuat rencana jangka panjang.
So, iya, penghasilan masih pas-pasan. Tapi kamu bisa kok mulai mengusahakan financial wellbeing. Toh, semua kan berproses. Justru, kamu harus memulainya sekarang, karena kalau nanti-nanti malahan bisa dibilang agak terlambat. Berikut cara praktis untuk bisa meraih financial wellbeing buat kamu dengan penghasilan pas-pasan.
1. Mulai dari Tahu Kondisi Uang yang Sebenarnya
Langkah pertama bukan menabung dulu, tetapi melihat uang masuk dan keluar dengan jujur. Banyak orang merasa gajinya selalu kurang, tapi enggak pernah benar-benar tahu bocornya di mana.
Coba catat pengeluaran selama 30 hari, mulai dari makan, transportasi, cicilan, langganan, jajan kecil, sampai biaya transfer. Enggak perlu pakai aplikasi rumit. Catatan di HP juga cukup. Dari sini biasanya akan terlihat mana kebutuhan utama, mana pengeluaran yang sebenarnya bisa dikurangi pelan-pelan.
Untuk penghasilan pas-pasan, tujuan mencatat bukan supaya hidup jadi kaku. Tujuannya agar uang enggak habis entah ke mana. Kalau sudah tahu pola pengeluaran, keputusan jadi lebih jelas. Misalnya, ternyata bukan belanja besar yang bikin berat, tapi jajan kecil yang terlalu sering. Atau ternyata biaya transportasi dan makan di luar mengambil porsi paling besar. Dari data sederhana ini, strategi keuangan bisa dibuat lebih realistis.
Baca juga: Apa Itu Financial Wellbeing dan Kenapa Penting di Masa Sekarang?
2. Bedakan “Hemat” dan “Menekan Diri Terlalu Keras”
Financial wellbeing itu enggak sama dengan hidup serba irit sampai enggak bisa menikmati apa-apa. Kalau terlalu keras menahan semua keinginan, biasanya justru mudah balas dendam belanja.
Yang lebih masuk akal adalah membuat batas. Misalnya, tetap boleh beli kopi, jajan, atau hiburan kecil, tapi jumlahnya ditentukan sejak awal. Dengan begitu, kebutuhan emosional tetap terpenuhi, tetapi keuangan enggak sampai kebablasan.
Penghasilan pas-pasan, ya pakai sistem prioritas. Dahulukan makan, tempat tinggal, transportasi, tagihan penting, dan cicilan wajib. Setelah itu baru sisihkan sedikit untuk dana darurat dan kebutuhan pribadi. Kalau sisa uang memang kecil, ya enggak apa. Yang penting ada pola yang bisa diulang setiap bulan.
3. Pakai Anggaran yang Simpel, Bukan yang Ideal di Atas Kertas
Kita memang punya rumus 4-3-2-1, 40% untuk rutin 30% untuk cicilan, 20% lifestyle, dan 10% untuk tabungan. Namun, untuk penghasilan pas-pasan, rumus itu jujurly agak enggak realistis. Bisa saja kebutuhan pokok sudah memakan 70–80% penghasilan.
Jadi, jangan memaksakan angka yang membuat stres. Lebih baik pakai versi yang lebih simpel, yang lebih sesuai dengan kondisimu. Misalnya seperti ini:
- Kebutuhan wajib: makan, tempat tinggal, listrik, transportasi, tagihan.
- Kewajiban finansial: cicilan, utang, iuran, tanggungan keluarga.
- Dana aman: tabungan kecil atau dana darurat.
- Ruang pribadi: hiburan, jajan, atau kebutuhan kecil agar enggak merasa tertekan.
Kalau belum bisa menabung 10%, mulai dari 2-5% juga boleh. Misalnya penghasilan Rp2 juta, menabung Rp50 ribu-Rp100 ribu per bulan tetap lebih baik daripada enggak sama sekali. Financial wellbeing dibangun dari kebiasaan yang konsisten, bukan dari angka yang terlihat keren.
4. Bangun Dana Darurat Versi Mini Dulu
Dana darurat sering terdengar berat karena umumnya disarankan 3-6 kali pengeluaran bulanan. Untuk penghasilan pas-pasan, angka itu bisa rasanya gede banget. Betul?
So, mulai saja dari target kecil dulu. Misalnya target pertama Rp500 ribu. Setelah tercapai, naikkan menjadi Rp1 juta. Setelah itu baru pelan-pelan menuju satu bulan biaya hidup.
Dana darurat kecil tetap berguna. Misalnya untuk biaya berobat ringan, ban bocor, keluarga butuh bantuan mendadak, atau keterlambatan gaji. Tanpa dana darurat, kebutuhan kecil bisa berubah jadi utang.
Jadi, fokus awalnya bukan langsung besar, tapi membuat “bantalan” agar tidak selalu mulai dari nol setiap ada masalah.

5. Kurangi Utang Konsumtif secara Bertahap
Kalau ada utang, terutama utang konsumtif, financial wellbeing akan sulit diwujudkan. Ini real sih.
Bukan berarti semua utang harus langsung lunas, karena itu belum tentu mungkin. Namun, utang perlu dibuat lebih terkendali. Catat semua utang, mulai dari jumlahnya, cicilan per bulan, bunga atau biaya admin, dan tanggal jatuh tempo. Setelah itu, tentukan mana yang paling mendesak.
Jika ada beberapa utang kecil, bisa mulai dari yang paling kecil agar cepat selesai dan memberi rasa lega. Jika ada utang berbunga tinggi, prioritaskan agar enggak makin membesar. Hindari menutup utang lama dengan utang baru. Pola gali lubang tutup lubang akan bikin penghasilan pas-pasan jadi makin sempit.
6. Cari Pengeluaran yang Bisa Dinegosiasikan
Kalau penghasilan pas-pasan, enggak semua solusi harus berupa “kurangi makan” atau “jangan jajan sama sekali”. Kadang yang lebih efektif adalah meninjau pengeluaran tetap. Misalnya paket internet, langganan aplikasi, biaya admin rekening, cicilan barang, atau kebiasaan membeli sesuatu karena promo. Pengeluaran tetap yang kecil tapi berulang bisa menggerus uang bulanan.
Coba cek apakah ada paket yang bisa diturunkan, langganan yang jarang dipakai, atau kebiasaan belanja yang bisa diganti. Misalnya, masak untuk beberapa hari, bawa bekal 2-3 kali seminggu, atau belanja kebutuhan pokok dengan daftar yang jelas. Perubahan kecil seperti ini lebih mudah dipertahankan daripada perubahan ekstrem.
7. Tambah Penghasilan, tapi Tetap Realistis
Kalau penghasilan memang terlalu mepet, mengatur uang saja kadang enggak cukup. Perlu ada upaya menambah pemasukan, meski kecil.
Bisa mulai dari hal kecil yang kamu kerjakan setiap hari; kerja tambahan ringan, jasa sesuai skill, jual barang yang enggak terpakai, freelance, reseller kecil, atau mengambil proyek sampingan yang enggak mengganggu pekerjaan utama.
Namun, tetap hitung tenaga dan waktunya. Jangan sampai demi tambahan uang kecil, tubuh dan pikiran jadi habis.
Financial wellbeing itu juga tentang fisik yang sehat soalnya, bukan hanya soal saldo. Jadi, pilih tambahan penghasilan yang masuk akal dengan kondisi energi dan waktu.
8. Jangan Menunda Proteksi Dasar kalau Sudah Mampu
Kalau kondisi sudah sedikit lebih stabil, pikirkan proteksi dasar. Minimal, pastikan punya akses layanan kesehatan seperti BPJS Kesehatan jika memungkinkan dan sesuai kebutuhan.
Untuk orang dengan penghasilan pas-pasan, satu kejadian sakit bisa langsung mengacaukan keuangan. Karena itu, proteksi bukan gaya-gayaan, tapi pagar agar tabunganmu juga enggak langsung habis.

9. Mulai Investasi Hanya Setelah Fondasinya Cukup Aman
Investasi memang penting, tapi jangan dijadikan langkah pertama kalau kebutuhan bulanan masih kacau, dana darurat belum ada, dan utang konsumtif masih menekan. Untuk penghasilan pas-pasan, urutannya lebih aman seperti ini:
- Rapikan arus kas.
- Kurangi utang konsumtif.
- Bangun dana darurat mini.
- Baru mulai investasi kecil dan rutin.
Investasi bisa mulai dari nominal kecil sesuai kemampuan. Yang penting, pilih instrumen yang dipahami, legal, dan sesuai profil risiko. Jangan tergoda janji untung cepat. Kalau uangnya adalah uang makan, uang sewa, atau uang sekolah anak, jangan dipakai untuk investasi berisiko tinggi.
Baca juga: Cara Pelan-Pelan Memperbaiki Kondisi Finansial Tanpa Tekanan Besar
So, financial wellbeing untuk penghasilan pas-pasan itu ukurannya yang simpel saja. Misalnya, tagihan enggak sering telat. Utang enggak nambah. Ada tabungan walau kecil. Bisa menghadapi kebutuhan mendadak tanpa langsung panik. Bisa membeli kebutuhan pribadi sesekali tanpa rasa bersalah berlebihan.
Kalau itu semua sudah bisa kamu capai dengan penghasilanmu yang sekarang, maka itu artinya kamu sudah waktunya naik level lagi.
Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.
Follow juga Instagram QM Financial, untuk berbagai tip, informasi, dan jadwal kelas terbaru setiap bulannya, supaya nggak ketinggalan update!




