
Mengatur uang tiap bulan akan jauh lebih gampang kalau kita punya catatan pemasukan dan pengeluaran yang rapi. So, untuk bisa bikin yang rapi ini, mungkin kamu perlu melihat dulu beberapa contoh catatan keuangan pribadi. Dengan adanya catatan ini, kamu bisa melihat ke mana saja uang pergi sekaligus menentukan bagian mana yang perlu dikurangi.
Catatan keuangan juga enggak harus dibuat rumit. Formatnya bisa disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing. Yang penting, setiap transaksi tercatat sehingga kamu punya gambaran yang lebih nyata tentang kondisi uang selama sebulan.
Table of Contents
Mengenal Format Contoh Catatan Keuangan Pribadi yang Praktis

Sebelum membuat tabel sendiri, lihat dulu beberapa bentuk contoh catatan keuangan pribadi berikut. Formatnya sengaja dibuat dekat dengan kebutuhan sehari-hari supaya bisa langsung diterapkan, baik di buku tulis, spreadsheet, maupun aplikasi pencatat keuangan.
1. Catatan Pemasukan dan Pengeluaran Harian
Format paling dasar dimulai dari mencatat uang yang masuk dan keluar setiap hari. Cara ini cocok buat kamu yang masih sering bingung uang habis ke mana.
Contohnya:
| Tanggal | Keterangan | Pemasukan | Pengeluaran | Saldo |
| 1 Oktober | Gaji | Rp7.000.000 | – | Rp7.000.000 |
| 1 Oktober | Belanja bulanan | – | Rp800.000 | Rp6.200.000 |
| 2 Oktober | Transportasi | – | Rp50.000 | Rp6.150.000 |
| 3 Oktober | Makan siang | – | Rp35.000 | Rp6.115.000 |
| 4 Oktober | Freelance | Rp500.000 | – | Rp6.615.000 |
Dari tabel tersebut, kamu bisa melihat saldo setelah setiap transaksi. Kalau dilakukan rutin selama sebulan, pola pengeluaran akan lebih gampang terlihat.
2. Catatan Berdasarkan Pos Kebutuhan
Kalau pencatatan harian terasa terlalu detail, kamu bisa mengelompokkan pengeluaran berdasarkan pos. Format contoh catatan keuangan pribadi seperti ini cocok untuk mengetahui berapa banyak uang yang dialokasikan untuk setiap kebutuhan.
Misalnya, pemasukan bulanan mencapai Rp8 juta. Maka pembagiannya bisa begini:
- Kebutuhan rumah tangga: Rp2.000.000
- Makan dan minum: Rp1.200.000
- Transportasi: Rp500.000
- Tagihan dan internet: Rp600.000
- Pendidikan: Rp500.000
- Hiburan: Rp300.000
- Tabungan: Rp1.500.000
- Investasi: Rp1.000.000
- Dana bebas: Rp400.000
Dengan pembagian seperti ini, kamu bisa segera melihat pos mana yang mendapat porsi paling besar.
3. Catatan Khusus untuk Kebutuhan Wajib
Ada pengeluaran yang harus dibayar setiap bulan, seperti listrik, air, internet, cicilan, uang sekolah, sewa rumah, atau iuran tertentu. Pisahkan pos tersebut supaya kewajiban bulanan tidak bercampur dengan uang untuk keperluan lain.
Misalnya begini.
| Kebutuhan | Anggaran | Realisasi | Selisih |
| Listrik | Rp300.000 | Rp285.000 | Rp15.000 |
| Internet | Rp350.000 | Rp350.000 | Rp0 |
| Cicilan | Rp1.000.000 | Rp1.000.000 | Rp0 |
| Air | Rp150.000 | Rp135.000 | Rp15.000 |
| Sekolah | Rp500.000 | Rp500.000 | Rp0 |
Kolom selisih berguna untuk melihat apakah pengeluaran masih sesuai dengan anggaran. Kalau tagihan listrik naik selama beberapa bulan berturut-turut, misalnya, kamu bisa memasukkan kenaikan tersebut ke anggaran bulan berikutnya.

4. Catatan Tabungan dan Investasi
Menabung dan investasi sebaiknya dicatat sebagai bagian dari arus uang bulanan. Jangan hanya mencatat uang yang dipakai untuk belanja.
Sebagai contoh catatan keuangan pribadi, kamu bisa membuat bagian khusus seperti berikut:
| Tujuan | Target Bulanan | Realisasi |
| Dana Darurat | Rp500.000 | Rp500.000 |
| Tabungan liburan | Rp300.000 | Rp300.000 |
| Investasi | Rp1.000.000 | Rp1.000.000 |
| Tabungan pendidikan | Rp500.000 | Rp400.000 |
Format seperti di atas bisa bantu kamu mengecek apakah target keuangan benar-benar dijalankan. Kalau ada satu target yang belum tercapai, kamu bisa melihat penyebabnya dari catatan pengeluaran di bagian lain.
5. Catatan Pengeluaran Kecil
Kopi, camilan, ongkos parkir, biaya admin, ongkos kirim, atau pembelian impulsif sering luput dari pencatatan. Nominalnya mungkin kecil jika dilihat satu per satu. Kalau dikumpulkan selama sebulan, jumlahnya bisa cukup besar.
Coba buat satu pos khusus untuk pengeluaran kecil. Contohnya:
- Kopi: Rp150.000
- Camilan: Rp100.000
- Parkir: Rp75.000
- Ongkir: Rp125.000
- Jajan spontan: Rp200.000
Totalnya Rp650.000.
Angka tersebut bisa menjadi bahan evaluasi. Kalau ternyata sebagian pengeluaran kecil enggak terlalu dibutuhkan, kamu bisa mengurangi frekuensinya pada bulan berikutnya.
6. Catatan Anggaran versus Realisasi
Format ini cocok buat kamu yang sudah rutin mencatat keuangan dan ingin mengontrol pengeluaran dengan lebih ketat. Buat dua angka untuk setiap pos, yakni anggaran dan jumlah yang benar-benar dikeluarkan.
Contohnya:
| Pos | Anggaran | Realisasi | Selisih |
| Makan | Rp1.500.000 | Rp1.650.000 | -Rp150.000 |
| Transportasi | Rp500.000 | Rp450.000 | Rp50.000 |
| Hiburan | Rp300.000 | Rp250.000 | Rp50.000 |
| Belanja dapur | Rp1.000.000 | Rp900.000 | Rp100.000 |
| Tabungan | Rp1.500.000 | Rp1.500.000 | Rp0 |
Dari tabel contoh catatan keuangan pribadi ini, kamu bisa melihat bahwa pengeluaran makan melewati anggaran Rp150.000. Di sisi lain, ada beberapa pos yang berada di bawah batas yang sudah ditentukan.
Evaluasinya bisa dilakukan pada akhir bulan. Cari tahu penyebab kenaikan atau penurunan setiap pos, lalu gunakan hasil tersebut untuk menyusun anggaran bulan selanjutnya.

7. Rekap Akhir Bulan
Setelah semua transaksi tercatat, buat satu halaman khusus untuk rekap. Bagian ini berfungsi sebagai ringkasan kondisi keuangan selama satu bulan.
Misalnya:
- Total pemasukan: Rp8.500.000
- Total kebutuhan rutin: Rp4.000.000
- Total pengeluaran fleksibel: Rp1.000.000
- Tabungan: Rp1.500.000
- Investasi: Rp1.000.000
Sisa uang: Rp1.000.000
Rekap seperti ini membuat kamu bisa melihat hasil pengelolaan uang tanpa harus membuka transaksi satu per satu. Kalau bulan berikutnya pemasukan berubah, angka-angkanya tinggal disesuaikan.
Kamu juga bisa menambahkan keterangan singkat seperti “pengeluaran makan naik karena ada acara keluarga” atau “tabungan berkurang karena kudu bayar biaya tahunan”. Catatan semacam ini akan membantu saat kamu membandingkan kondisi keuangan dari bulan ke bulan.
Baca juga: Mengapa Belajar Arus Kas Penting untuk Keuangan Pribadi, dan Mulai dari Mana?
Buat Catatan yang Bisa Bertahan Dipakai Setiap Bulan
Contoh catatan keuangan pribadi di atas bisa dibuat sesingkat atau sedetail kebutuhanmu. Kalau baru mulai, gunakan beberapa kolom utama dulu. Misalnya terdiri atas tanggal, keterangan, pemasukan, pengeluaran, dan saldo. Setelah terbiasa, tambahkan kategori, anggaran, realisasi, serta target tabungan atau investasi.
Tujuan akhirnya bukan membuat tabel yang penuh angka. Catatan tersebut harus membantu kamu mengetahui jumlah uang yang tersedia, kewajiban yang harus dibayar, pengeluaran yang bisa dikendalikan, serta target keuangan yang sedang dikejar.
Dengan pencatatan rutin, keputusan soal uang bisa dibuat berdasarkan angka yang benar-benar terjadi selama sebulan.
Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.
Follow juga Instagram QM Financial, untuk berbagai tip, informasi, dan jadwal kelas terbaru setiap bulannya, supaya nggak ketinggalan update!




