
Nilai aset bisa berubah cepat karena banyak faktor, salah satunya akibat dari situasi geopolitik yang enggak terduga. Bagi pemula, situasi seperti ini bisa jadi membingungkan karena arah pasar terlihat enggak pasti. Kalau kamu mungkin sedang mengalaminya, saat inilah waktu yang tepat untuk belajar strategi diversifikasi investasi dengan lebih serius.
Table of Contents
Strategi Diversifikasi Investasi yang Bisa Dilakukan Pemula di Situasi Sulit

Yah, namanya hidup, selalu ada risiko di sana sini. Kadang hambatan kecil harus dihadapi, gimana pun caranya. Kadang heran enggak, perangnya di belahan bumi yang lain, ternyata efeknya sampai di sini, terutama terkait ekonomi.
So, ini memang jadi bukti, bahwa manusia itu memang hidup saling terkait. Setuju enggak sih?
Kalau sudah begini, ya pastinya kita hanya bisa beradaptasi. Ya kalau memang beneran sulit, yang namanya investasi itu bisa kok diatur lagi. Bahkan ditunda dulu juga enggak masalah. Nah, kalau kamu mau tetap lanjut investasi, meski kondisi sedang enggak pasti seperti ini, ya salah satu strategi jitu yang harus kamu tahu adalah dengan melakukan diversifikasi investasi.
Gimana cara diversifikasi investasi? Yuk, simak uraian berikut sampai selesai.
1. Jangan Taruh Semua Dana di Satu Instrumen
Prinsip utama dalam strategi diversifikasi investasi adalah dengan enggak menumpuk dana di satu jenis investasi saja. Kalau seluruh uang masuk ke saham lalu pasar turun, dampaknya langsung terasa ke seluruh portofolio.
Coba pecah ke beberapa pilihan, misalnya saham, emas, dan instrumen berbasis bunga. Pembagian ini membuat pergerakan nilainya enggak serempak. Saat satu melemah, ada bagian lain yang bisa menahan penurunan.
Untuk permulaan, kamu bisa mulai dari 2-3jenis aset dulu. Fokusnya bukan cuma pada hasil cepat, tapi lebih ke menjaga supaya nilai investasi enggak turun terlalu dalam saat kondisi global sedang goyah.
Baca juga: Reksa Dana untuk Pemula sebagai Instrumen Investasi Ideal
2. Kombinasikan Aset Aman dan Aset Bertumbuh
Dalam diversifikasi investasi, karakter setiap instrumen matters! Jadi, mulai dengan memahaminya dulu sebelum memilih.
Ada instrumen yang cenderung stabil, bertumbuh tetapi eksponensial. Sementara itu, ada juga yang naik-turun tapi berpotensi memberi hasil lebih tinggi. Menggabungkan keduanya membantu menjaga keseimbangan portofoliomu.
Misalnya, sebagian dana disimpan di deposito atau obligasi untuk menjaga nilai pokok. Lalu sisanya dialokasikan ke saham atau reksa dana saham agar ada peluang berkembang lebih besar. Dengan strategi diversifikasi investasi seperti ini, portofolio enggak terlalu sensitif terhadap gejolak pasar. Saat pasar saham sedang turun, bagian yang stabil masih bisa jadi penyangga, sehingga kamu bisa tetap tenang karena enggak semua dana ikut berfluktuasi tajam.
3. Mulai dari Reksa Dana untuk Praktisnya
Pengin investasi di saham atau obligasi tapi masih bingung? Ada pilihan reksa dana yang cocok buat pemula. Di dalam satu produk, dana kamu sudah tersebar ke banyak aset sekaligus. Pengelolaannya juga dilakukan oleh manajer investasi, jadi cukup memudahkan. Kamu enggak perlu memantau setiap perubahan pasar secara detail setiap hari.
Pilih jenisnya sesuai kebutuhan, misalnya pasar uang untuk jangka pendek atau reksa dana saham untuk jangka panjang. Mau setor berapa pun bisa disesuaikan dengan kemampuan, bahkan bisa dari Rp10.000 saja.

4. Bagi Investasi Berdasarkan Tujuan
Kamu pasti punya banyak tujuan keuangan kan? Mulai dari butuh dana darurat, pengin liburan, pengin ganti gadget, dana sekolah anak, sampai dana pensiun. Bagi masing-masing sesuai jangka waktunya, lalu tentukan investasi berdasarkan tujuan dan waktu tersebut.
Misalnya, pengin bangun dana darurat atau rencana lain yang targetnya satu tahun, maka instrumen yang cocok adalah instrumen yang stabil. Sementara dana untuk tujuan lebih jauh, seperti dana pensiun atau membeli aset besar, bisa diarahkan ke instrumen yang lebih agresif.
Strategi diversifikasi investasi berdasarkan waktu dan tujuan ini akan membantumu memisahkan prioritas. Saat pasar sedang turun, kamu enggak perlu panik karena dana jangka pendek tetap aman. Sementara untuk tujuan jangka panjang, kamu ada peluang untuk mengembalikan portofolio seiring waktu.
Selain itu, kamu jadi lebih disiplin karena tahu mana dana yang boleh diganggu dan mana yang enggak. Cara ini juga membuat perencanaan keuangan terasa lebih rapi dan terarah.
5. Investasi Bertahap (Dollar Cost Averaging)
Masuk ke investasi enggak harus langsung dalam jumlah besar. Cara bertahap akan lebih bijak untuk pemula.
Misalnya, kamu menetapkan nominal tertentu setiap bulan untuk diinvestasikan. Dengan pola ini, kamu membeli di berbagai kondisi harga, bukan hanya di satu titik.
Strategi ini akan membantu meratakan harga beli instumennya dalam jangka waktu tertentu. Saat harga sedang tinggi, kamu tetap masuk dengan porsi kecil. Saat harga turun, dana yang sama bisa mendapatkan lebih banyak unit. Kebiasaan ini juga melatih konsistensi tanpa perlu memikirkan timing pasar setiap saat.
6. Sisakan Dana Likuid untuk Antisipasi
Diversifikasi investasi bukan berarti semua uang harus masuk ke instrumen ya. Tetap sisakan sebagian dalam bentuk yang mudah dicairkan. Tabungan atau reksa dana pasar uang bisa jadi pilihan untuk kebutuhan mendadak.
Kalau enggak ada cadangan, kamu bisa terpaksa menjual investasi saat kondisinya belum ideal. Akhirnya, ya enggak jadi dapat imbal hasilnya.
Dana likuid juga memberi rasa aman karena ada pegangan saat situasi enggak terduga muncul. Besarnya bisa disesuaikan, misalnya untuk kebutuhan beberapa bulan ke depan. Dengan begitu, kamu enggak perlu mengganggu investasi utama.

7. Evaluasi Secara Berkala
Memantau investasi tetap perlu, meski ya enggak perlu setiap hari juga. Karena, terlalu sering lihat pergerakan harga malah bisa memicu keputusan yang terburu-buru.
Jadwalkan saja secara berkala, misalnya evaluasi tiap 6 bulan atau bisa juga setahun sekali. Lihat apakah komposisi aset masih sesuai dengan tujuan awal. Kalau ada bagian yang porsinya membesar karena kenaikan harga, kamu bisa menyesuaikan kembali.
Hal ini dapat membantu menjaga keseimbangan portofolio dan memastikan strategi diversifikasi investasi tetap berjalan dengan baik. Evaluasi juga bisa jadi momen untuk menambah investasi jika ada dana lebih.
Baca juga: Strategi Investasi di Masa Ketidakpastian: Perlu Agresif atau Justru Bertahan?
Diversifikasi investasi sebenarnya enggak rumit, tapi perlu dijalankan dengan sadar dan konsisten, sesuai kebutuhan masing-masing. Enggak ada komposisi yang selalu cocok untuk semua orang, karena kondisi keuangan dan tujuan tiap orang berbeda. Dengan membagi dana secara lebih terarah, risiko bisa dikelola tanpa harus terus memantau pasar setiap saat.
Perubahan global akan tetap selalu terjadi, dan itu di luar kendali. Yang bisa diatur adalah cara menyusun portofolio agar tetap tahan menghadapi perubahan tersebut.
Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.
Follow juga Instagram QM Financial, untuk berbagai tip, informasi, dan jadwal kelas terbaru setiap bulannya, supaya nggak ketinggalan update!




