
Mengatur keuangan bulanan itu enggak selalu berarti kamu harus memangkas semua pengeluaran sampai hidup rasanya super ngirit. Ada beberapa contoh pengeluaran yang sebenarnya bisa dikurangi karena enggak berkaitan langsung dengan kebutuhan utama. Uangnya kemudian bisa dialihkan untuk kebutuhan rumah tangga, tabungan, dana darurat, atau tujuan finansial lain yang sedang kamu kejar.
Kuncinya ada pada kemampuan memilah mana pengeluaran yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang muncul karena kebiasaan. Nah, apa sajakah itu?
Table of Contents
Mengenali Contoh Pengeluaran yang Bisa Dikurangi dari Anggaran Bulanan

Sebelum memangkas pengeluaran, coba lihat catatan transaksi selama satu bulan. Tandai pos yang bisa dikurangi tanpa mengganggu makan, tempat tinggal, transportasi, kesehatan, pendidikan, tagihan utama, dan kebutuhan keluarga. Beberapa contoh pengeluaran berikut bisa menjadi titik awal untuk menemukan ruang dalam anggaran bulanan.
1. Langganan Aplikasi yang Jarang Digunakan
Coba cek kembali layanan digital yang masih aktif di rekening atau kartu pembayaranmu. Bisa saja ada beberapa langganan yang dulu sering dipakai, tetapi sekarang hanya sesekali dibuka. Contohnya layanan streaming film, aplikasi musik, penyimpanan cloud tambahan, aplikasi olahraga, atau platform belajar.
Satu langganan mungkin hanya Rp30.000 – Rp100.000 per bulan. Namun, kalau ada empat layanan yang jarang digunakan, totalnya bisa mencapai Rp120.000 – Rp400.000 setiap bulan.
Kamu bisa memilih layanan yang paling sering dipakai dan menghentikan sisanya untuk sementara. Kalau suatu saat memang membutuhkan layanan tersebut lagi, kamu masih bisa berlangganan kembali.
Baca juga: Cara Hidup Hemat tanpa Mengorbankan Kualitas Hidup
2. Jajan Minuman yang Terlalu Sering
Minuman kekinian, kopi susu, teh, atau minuman kemasan sering masuk ke pengeluaran harian yang luput dari perhatian. Harga Rp15.000 – Rp25.000 mungkin enggak terasa berat ketika hanya terjadi sekali. Tapi coba kalikan dengan 20 hari kerja.
Misalnya kamu membeli minuman seharga Rp20.000 sebanyak 20 kali dalam sebulan. Totalnya sudah Rp400.000. Padahal, sebagian kebutuhan minum bisa dipenuhi dengan membawa air putih atau membuat kopi sendiri dari rumah.
Tapi tenang. Penghematan ini enggak berarti kamu harus berhenti total ya. Dikurangi saja juga enggak apa, misalnya dari lima kali seminggu menjadi dua kali. Nah, kan, lumayan juga tuh.
3. Ongkos Kirim karena Terlalu Sering Belanja Online
Belanja online memang praktis, tetapi ongkos kirim dapat menjadi pengeluaran tambahan yang cukup besar. Terutama ketika kamu membeli barang bernilai kecil dari beberapa toko secara terpisah.
Coba gabungkan pembelian yang memang sudah direncanakan. Kamu juga bisa memanfaatkan opsi gratis ongkir kalau ada, selama promonya enggak bikin kamu kudu beli barang yang sebenarnya belum diperlukan.
Contoh pengeluaran seperti ongkos kirim sering luput dari anggaran karena nominalnya muncul sedikit demi sedikit di banyak transaksi. Padahal, kalau dikumpulkan, jumlahnya bisa mencapai puluhan bahkan ratusan ribu rupiah dalam sebulan.

4. Biaya Makan di Luar yang Bisa Diganti dengan Bekal
Makan di luar tidak selalu menjadi masalah, terutama kalau memang sudah masuk anggaran. Yang perlu diperiksa adalah frekuensinya. Makan siang seharga Rp30.000 selama 20 hari kerja berarti sekitar Rp600.000 dalam sebulan.
Membawa bekal beberapa kali dalam seminggu bisa mengurangi angka tersebut. Kamu bsai siapkan bekal simpel seperti nasi, telur, tumis sayur, ayam, atau lauk sisa makan malam bisa menjadi bekal untuk keesokan harinya.
Selain mengurangi biaya makanan, membawa bekal juga membuatmu lebih mudah mengatur porsi dan bahan yang digunakan.
5. Biaya Admin dan Transaksi yang Sebenarnya Bisa Dihindari
Coba perhatikan biaya admin yang muncul ketika transfer, tarik tunai, top up, atau melakukan pembayaran tertentu. Nominalnya memang kecil, tetapi frekuensi transaksi bisa membuat totalnya bertambah.
Misalnya biaya admin Rp2.500 muncul sepuluh kali dalam sebulan. Artinya ada Rp25.000 yang keluar hanya untuk biaya transaksi. Kalau ada pilihan metode pembayaran dengan biaya lebih rendah atau gratis, kamu bisa menggunakannya.
Pos ini memang bukan pengeluaran terbesar dalam anggaran rumah tangga. Namun, mengurangi biaya kecil seperti ini cukup membantu kalau dilakukan secara konsisten.
6. Belanja Pakaian dan Barang Rumah Tangga karena Tergoda Promo
Diskon sering membuat barang yang sebenarnya belum dibutuhkan terlihat seperti kesempatan yang sayang dilewatkan. Padahal, membeli barang seharga Rp100.000 tetap berarti mengeluarkan Rp100.000 meskipun harga awalnya Rp150.000.
Sebelum checkout, masukkan barang ke daftar belanja dan beri jeda satu atau dua hari. Kalau setelah dipikirkan barang tersebut memang dibutuhkan, kamu bisa membelinya sesuai anggaran.
Untuk pakaian, perlengkapan rumah, alat tulis, aksesori, atau barang dekorasi, biasakan mengecek isi rumah terlebih dahulu sebelum beli. Bisa jadi sudah ada barang serupa sudah tersedia dan belum habis digunakan.
7. Pengeluaran Kecil karena Kebiasaan Sehari-hari
Ada banyak pengeluaran kecil yang muncul hampir tanpa disadari. Misalnya membeli camilan setiap sore, parkir berbayar ketika sebenarnya tersedia tempat gratis, sering menggunakan layanan pesan-antar untuk jarak dekat, atau membeli barang kecil ketika sedang mampir ke minimarket.
Contoh pengeluaran seperti ini memang sulit terlihat kalau kamu hanya melihat satu transaksi. Coba kumpulkan selama 30 hari. Catat semuanya, termasuk transaksi senilai Rp5.000 atau Rp10.000.
Setelah terkumpul, kamu bisa menentukan mana yang masih ingin dipertahankan dan mana yang bisa dikurangi. Misalnya, camilan tetap dibeli dua kali seminggu, sementara pembelian impulsif di minimarket mulai dihentikan.
Baca juga: 8 Tip Menghindari Pengeluaran Impulsif
Pangkas yang Fleksibel, Pertahankan yang Memang Dibutuhkan

Menghemat pengeluaran akan lebih mudah kalau kamu mulai dari pos yang punya ruang untuk diubah. Kebutuhan seperti makanan pokok, obat, biaya sekolah, cicilan, listrik, atau transportasi kerja tentu punya pertimbangan sendiri. Sebaliknya, beberapa contoh pengeluaran di atas lebih fleksibel karena frekuensi atau jumlahnya masih bisa disesuaikan.
Kamu enggak harus memangkas semuanya sekaligus. Pilih dua atau tiga pos yang paling sering muncul, lalu lihat berapa banyak uang yang bisa disisihkan setelah pengurangan dilakukan. Cara ini membuat perubahan anggaran lebih mudah dipantau dan tidak mengganggu kebutuhan utama sehari-hari.
Kalau pengeluaran kecil mulai dikendalikan, uang yang tersisa bisa langsung diarahkan ke tujuan yang sudah kamu tentukan. Misalnya menambah dana darurat, membayar utang lebih cepat, menambah investasi, atau sekadar memberi ruang lebih lega untuk kebutuhan bulanan. Contoh pengeluaran yang tampaknya kecil bisa memberikan dampak cukup besar ketika dikendalikan secara rutin.
Yuk, belajar mengelola keuangan dengan lebih baik lagi! Ikuti kelas-kelas finansial online QM Financial, pilih sesuai kebutuhanmu.
Follow juga Instagram QM Financial, untuk berbagai tip, informasi, dan jadwal kelas terbaru setiap bulannya, supaya nggak ketinggalan update!




