Freelancer
Begitu mendengar kata itu, yang ada di pikiran saya adalah orang yang kerjaannya jauh dari rutinitas 9 to 5, ga punya bos (bos-nya ya diri sendiri), kerjanya dari proyek ke proyek, kebanyakan bergerak di bidang jasa (programmer, web design, penterjemah, penulis buku, dll) hmmm.. Sounds fun isn’t it?
Tapi income yang dihasilkan oleh freelancer pun jauh dari rutin. Kenapa begitu? Karena biasanya kerjaan freelancer itu based on project, misalnya penterjemah mendapatkan pekerjaan untuk menterjemahkan artikel, atau ada klien minta dibuatkan software X sama programmer. Sistem pembayaran bervariasi tergantung kesepakatan antara klien dengan freelancer, bisa full di depan, DP 30%-50% di awal kemudian baru dilunasi setelah proyek selesai.
Income yang tak pasti jangan dijadikan alasan untuk tidak menabung atau berinvestasi ya! Kalau income tak tentu berapa jumlahnya, we have to control our spending!
Bagaimana caranya? Yuk mulai bikin budgeting dari sekarang!
Buat 4 Pos Pengeluaran:
1. Pos Rutin:Ini untuk pengeluaran yang berpengaruh pada hidup dan produktivitas. Contohnya: Bayar listrik, air, belanja bulanan, transportasi, biaya anak, rumah tangga, dll.
(Ini besarnya berbeda untuk setiap orang, tergantung situasi dan kondisi, tapi rata-rata berkisar antara 20% sampai 40%)
2. Pos Kewajiban: Kalau yang ini berhubungan sama kewajiban kepada pihak ketiga nih. Contohnya: Bayar cicilan rumah, cicilan motor, utang ke teman, dll.
(Yang ini tidak boleh lebih dari 30% yaa!)
3. Pos Tabungan & Investasi: Ini penting sekali supaya bisa mencapai tujuan-tujuan keuangan di masa depan. Misalnya: Dana Pendidikan Anak, Dana Naik Haji, Dana Rumah, Dana Liburan, dll.
(Kalau yang ini makin besar makin bagus, namun setidaknya mulai menyisihkan 10% deh, dan makin lama harus makin besar yaa, 30% dari income bisa doong! :D )
4. Pos Hura-Hura: Nah pos yang ini juga tidak kalah pentingnya, setuju? Jadi bila setiap bulan sudah memenuhi kebutuhan rutin, kewajiban dan investasi, boleh dong hura-hura? :D
(Yang ini maksimal 20% saja seharusnya cukup kan? :p)
Nah, kalau sudah membuat budgeting, kita jadi tahu gambaran berapa pengeluaran setiap bulannya dan untuk apasaja. Ini bisa dipakai sebagai guideline untuk menentukan berapa jumlah fee untuk proyek berikutnya. Misalnya, pengeluaran 5juta per bulan, ketika mendapatkan proyek senilai 15juta, jumlah itu bisa untuk kehidupan selama 3 bulan. Sehingga jangan langsung dihabiskan dalam sebulan, kemudian bulan depannya bingung membayar cicilan memakai apa :p
Debby Prazna Okky | Deputy Financial Planner | @okkyokubo
Artikel terkait:
Related Posts
Kredit untuk Renovasi Rumah, Emang Ada Ya?
pic from gettyimages Rumah adalah cerminan dari kemandirian, mungkin itu yang orangtua saya pikirkan dulu, sampai-sampai mereka memberikan syarat, “Kalau mau menikah, punya rumah dulu!”. Akhirnya saya...
Fancy Baby Stuff VS Education Fund
pic from gettyimages Menjadi orangtua bukanlah pekerjaan mudah dan membutuhkan pembelajaran seumur hidup untuk membentuk manusia seutuhnya. Buat orangtua baru, ini adalah pengalaman mengasyikkan,...
Plus Minus Perjanjian Pranikah
pic from gettyimages Beberapa bulan yang lalu secara tidak sengaja saya bertemu senior saat kuliah. Kami bertemu pada suatu acara yang diselenggarakan oleh bank asing tempatnya bekerja. Kami pun sempat...


