
Tren gaya hidup minimalis, hal ini saya kenal pertama kalinya sekitar 2 tahun lalu. Saat itu, saya memang belum terlalu tertarik dengan tren gaya hidup minimalis. Saya memang jarang sekali membeli barang kebutuhan sendiri secara impulsif kecuali barang kebutuhan anak-anak. Memang, saya memiliki barang bermerek yang dibeli dengan cara menabung terlebih dahulu. Barang tersebut saya beli hanya untuk menunjukkan kepada diri sendiri kalau ternyata saya mampu membeli tanpa harus berutang atau membuat keuangan merana.
Seberapa sering kamu terobsesi untuk memiliki barang terbaru lalu kemudian akan muncul versi lebih baru lagi? Tentunya kamu tidak lagi peduli dengan barang lama yang dimiliki karena sudah terobsesi dengan barang terbaru. Sejujurnya, kamu enggak akan lebih bahagia hanya dengan mengkonsumsi lebih atas barang atau jasa yang kamu bayarkan.
Sebenarnya, tidak ada yang salah dengan mengkonsumsi barang atau jasa yang kamu bayarkan. Yang menjadi masalah adalah saat kamu mengkonsumsi barang atau jasa hanya karena harus melakukannya walau ternyata pada akhirnya, barang atau jasa tersebut tidak benar-benar dibutuhkan. Di Jepang, tren gaya hidup minimalis semakin digemari terutama saat Marie Kondo, seorang konsultan dari Jepang, menerbitkan buku: The Life-Changing Magic of Tidying Up: The Japanese Art of Decluttering and Organizing.
Gaya hidup minimalis bukan sekadar memangkas barang yang kamu miliki, tapi merupakan filosofi tentang mengendalikan diri dan kehidupanmu sendiri.
3 Keuntungan menjalani gaya hidup minimalis:
Ramah kantong
Kalau kamu memilih untuk memiliki gaya hidup minimalis, artinya kamu menjalankan hidup lebih bersahaja dengan memenuhi kebutuhan pada tingkat standar atau pokok saja. Secara logika dan rasional, biaya yang harus dikeluarkan untuk biaya hidup yang mewah jauh lebih mahal, dibandingkan gaya hidup sederhana dan minimalis.
Gaya hidup minimalis mengajarkan kamu untuk bisa memprioritaskan apa yang sebenarnya dibutuhkan dalam hidup. Gaya hidup ini membuat kamu lebih fokus pada hal yang benar-benar dibutuhkan untuk menjalani hidup. Sehingga pada akhirnya kamu tidak memikirkan bujet untuk membeli pakaian secara rutin, membeli aksesoris maupun benda-benda tersier lainnya. Bahkan akan ada banyak gaji tersisa untuk dialokasikan pada tabungan. Hal ini tentu membuat tujuan finansial penting dalam hidupmu semakin cepat tercapai.
Gaya hidup minimalis juga akan sangat membantu terutama bagi kamu yang tengah terjerat hutang. Dengan meminimalisasi jumah kebutuhan yang dibeli otomatis kamu bisa fokus menyelesaikan hutang dan bisa kembali menjadi orang yang bebas dari kejaran berbagai tagihan.
baca juga: Jebakan Gaya Hidup
Ramah jiwa.
Banyak pelaku gaya hidup minimalis yang merasa lebih bahagia ketika menjalani tren ini. Sebuah penelitian yang dilakukan terhadap 2.500 orang dari berbagai negara mengungkapkan bahwa 87% dari mereka lebih bahagia saat memiliki sedikit barang dibanding ketika memiliki lebih banyak barang. Mereka merasa lebih bebas dan tidak terbelenggu dengan berbagai macam tuntutan gaya hidup akibat bombardir kapitalisme.
Kebahagiaan bukan didapat dari memiliki barang sebanyak mungkin, melainkan jika kita menikmati hidup kita seutuhnya. Karena bahagia itu sederhana.. Dengan begitu, tingkat stres dalam diri diharapkan bisa jauh merosot. Juga, membuang barang yang selama ini ternyata tak dibutuhkan dipercaya bakal memberi ruang gerak baru di rumah untuk memunculkan pikiran lebih segar.
Menerapkan gaya hidup minimalis bukan berarti kamu tidak boleh punya mobil, rumah tinggal, bahkan keluarga. Tapi, kebahagiaan yang ingin diraih dengan hidup minimalis tak seharusnya didapat dari barang, melainkan dengan cara menjalani hidup itu sendiri.
baca juga: Sehat Tanpa Kuras Kantong
Ramah lingkungan
Hampir setiap aktivitas yang dilakukan oleh manusia menghasilkan jejak karbon yaitu, jumlah emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari berbagai aktifitas harian. Semakin tinggi jumlah jejak karbon maka semakin membahayakan bumi karena hal ini menjadi penyebab utama pemanasan global.
Semakin sedikit barang yang dikonsumsi, makin sedikit pula kerusakan yang kamu buat terhadap lingkungan. Suka atau enggak, semakin banyak barang yang dikonsumsi, semakin tinggi carbon imprint-mu. Membatasi perilaku konsumtif adalah cara paling mudah untuk mengurangi dampak yang kita timbulkan terhadap lingkungan.
baca juga: Bumi Hijau, Udara dan Air Bersih
-Honey Josep-




