| Sekolah Mahal? So What?! |
| Wednesday, 11 November 2009 | |
|
“Sekolah = mahal!! Tapi gimana lagi, masa anak gue ga sekolah?!”.
Bagaimana caranya? Planning and investing! Ya, hanya dengan perencanaan yang tepatlah maka Anda dapat menemukan angka yang reliable untuk diinvestasikan dalam instrumen investasi yang tepat secara rutin sejak dini sehingga berapapun nanti biaya sekolah yang diperlukan tidak terasa mahal lagi karena Anda telah mencicilnya dengan cerdas! Menyenangkan, bukan? Yuk, kita bahas bersama…
Apa itu Dana Pendidikan?
Pilih mana ya, sekolah negeri, swasta, nasional plus, atau bertaraf internasional?
Anda tentu sering mendengar istilah sekolah negeri, sekolah swasta,
sekolah nasional plus, dan sekolah bertaraf internasional (SBI). Nah,
apa sih yang membedakan sekolah-sekolah tersebut? Tabel dibawah ini
dapat memberikan gambarannya.
Sekolah Negeri adalah sekolah yang dibangun dan dikelola oleh
pihak pemerintah dengan kurikulum yang disesuaikan dengan standar
Pendidikan Nasional
Sekolah Swasta adalah sekolah yang dibangun dan dikelola oleh
pihak swasta dengan mengikuti kurikulum yang telah disesuaikan dengan
standar Pendidikan Nasional.
Contoh organisasi tersebut adalah IBO (International Baccalaureate
Organization). Kurikulum yang dikembangkan oleh IBO yaitu Primary Years
Programme (didesain untuk anak usia 3-12 tahun, setara PG-SD), Middle
Years Programme (didesain untuk anak usia 12-16 tahun, setara SMP
sampai SMA tingkat 1), Program Diploma (didesain untuk anak usia 16-19
tahun, setara SMA tingkat 2 dan 3).
Sekolah Internasional adalah sekolah yang memiliki standar
internasional, baik dari segi kurikukum, fasilitas, maupun guru (yang
lebih dominan adalah guru native -- guru dari negara asal). Tujuannya
untuk menfasilitasi keberadaan (anak) warga asing yang ada di wilayah
tertentu, terbuka juga untuk siswa lokal tetapi dengansyarat-syarat
tertentu.
Homeschooling atau Sekolah-Rumah saat ini mulai dilirik para pengamat pendidikan nusantara. Sebagai salah satu alternatif pendidikan, Homeschooling
memiliki daya tarik tersendiri yang tidak dimiliki sekolah. Para orang
tua sedikit demi sedikit mulai memilih untuk melanjutkan pendidikan
anaknya melalui Homeschooling. Hal ini ditempuh karena orang tua
memandang Homeschooling lebih tepat untuk mengembangkan bakat dan minat si buah hati Homeschooling adalah model pendidikan yang berada dalam jalur pendidikan informal. Keberadaan homeschooling secara implisit telah diatur dalam UU 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 27 ayat (1): Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar (www.sekolahrumah.com). Untuk memasuki masa depan (baca: profesi) yang dibutuhkan adalah keahlian (expertise) dalam bidang tertentu (Sumardiono, 2007d). Lebih lanjut Sumardiono menjelaskan bahwa salah satu tanda keahlian ditandai dengan ijazah/sertifikat dari sebuah jenjang pendidikan tertentu. Selain itu ukuran keahlian adalah hasil karya (output). Jika ijazah yang diperlukan untuk memasuki Perguruan Tinggi, maka anak Homeschooling dapat menempuhnya melalui ujian kesetaraan (Paket A, B,dan C).
Adapun sekarang, perusahaan swasta semakin menghargai “portofolio
karya/kemampuan” daripada sekedar ijazah. Inilah yang dimaksud dengan
ukuran keahlian berupa hasil karya (output). Bentuk profesi
berorientasi output seperti bisnis, komputer, marketing, fotografi,
entertainment, tulis-menulis, dan desain, sekarang semakin luas dan
memiliki masa depan cerah (Sumardiono, 2007).
Lebih lanjut menerangkan pembahasan sebelumnya mengenai ijazah bagi anak Homeschooling,
sebenarnya tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan dan
dipermasalahkan. Satt ini di Indonesia telah terbentuk ASAH PENA
(Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif) yang dimotori
tokoh-tokoh pendidikan nasional seperti Kak Seto, M. Fauzil Adhim, Dewi
Hughes, dll, serta dibina Departemen Pendidikan Nasional bidang
Pendidikan Luar Sekolah. Walaupun secara formal belum ada
Undang-undang yang mengatur Homeschooling, tetapi Homeschooler
dapat mengikuti ujian kesetaraan yang diselenggarakan Departemen
Pendidikan Nasional (DEPDIKNAS). Bahkan, ijazah dengan akreditasi
internasional dapat diperoleh melalui lembaga-lembaga formal di Eropa
dan Amerika melalui ujian jarak jauh
(Sumber: www.percikankehidupan.wordpress.com (diolah)) Berikut ini adalah kisaran biaya sekolah untuk masing-masing jenis sekolah.
Harga diatas merupakan harga rerata di daerah Jakarta dan sekitarnya,
tentu nilainya akan berbeda di daerah lain. Selain sekolah negeri,
komponen biaya sekolah terlihat lebih mahal. Hal itu berbanding lurus
dengan fasilitas pembelajaran yang diberikan. Sekolah gratis untuk SD dan SMP untuk tahun ajaran 2009/2010 yg selama ini digembar-gemborkan pemerintah ternyata tidak berjalan dengan baik karena belum didukung oleh modal yang memadai. Pemerintah hanya mengunggulkan program BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Padahal BOS hanya mengcover sekitar 20% saja biaya sekolah. Sisanya, menjadi tanggungan orang tua siswa.
Akan tetapi, pada kenyataannya, akibat dana bantuan masih minim,
siswa pada akhirnya masih dipungut untuk biaya operasional. Dan inilah
sebabnya mengapa orang tua tetap merasa tercekik oleh biaya pendidikan
yang tetap selangit.
Mengapa tiap tahun biayanya tambah mahal??
Kenaikan biaya pendidikan selama ini ternyata jauh lebih tinggi
daripada kenaikan harga secara umum, ataupun kenaikan harga bahan
makanan.
Bila dibandingkan dengan level pada tahun 2000, kenaikan biaya
pendidikan sampai dengan bulan Juli tahun 2009 sudah mencapai angka di
atas 200 persen. Hal ini terlihat dari indeks biaya pendidikan pada
Juli lalu yang mencapai angka 327 (lihat gambar)
Kurang terkendalinya kenaikan biaya pendidikan membuat pendidikan menjadi
amat mahal, terutama bagi kalangan bawah.
Salah satu langkah pemerintah untuk menekan laju inflasi pendidikan ini
adalah dengan memperbesar porsi APBN untuk sektor pendidikan, yaitu
sebesar 20%. Kita pun bahkan sudah sering mendengar promosi program
sekolah gratis, baik di media cetak maupun di media elektronik. Namun,
tampaknya efisiensi pelaksanaan program-program pemerintah tersebut
perlu ditingkatkan lagi karena dampak program-program tersebut terhadap
biaya pendidikan belumlah terlalu signifikan.
Pertama:
Ketiga:
Kolom ‘investasi bulanan’ merupakan jumlah investasi bulanan yang
diperlukan untuk memenuhi dana pendidikan setiap jenjangnya. Bila
cashflow bulanan tidak memungkinkan dimiliki, maka Anda dapat
menggunakan cashflow tahunan (seperti uang THR, bonus, dll) untuk
diinvestasikan sebesar “investasi tahunan” atau menggunakan dana yang
tersedia “saat ini”.
Hmm.. harus investasi dimana ya?!
Penting diperhatikan, ketika telah menghitung total investasi untuk
dana pendidikan, Anda perlu memilih instrumen investasi dengan cermat
sehingga nilainya sesuai dengan kebutuhan dana pendidikan anak di
setiap jenjang pendidikannya. Kesalahan menentukan instrumen investasi
yang tepat dapat berisiko tidak terpenuhinya biaya pendidikan anak
ketika Anda membutuhkannya.
Saat ini produk yang gencar dipromosikan di masyarakat salah satunya
adalah asuransi pendidikan. Apa itu asuransi pendidikan?? Produk ini
merupakan asuransi yang memberikan sejumlah nilai tunai tertentu pada
anak saat memasuki jenjang pendidikan yang telah direncanakan. Selain
memberikan nilai tunai, produk ini juga memberikan manfaat proteksi
seperti asuransi jiwa, kesehatan dan jenis proteksi lainnya. Misalnya,
ketika anak Anda akan memasuki jenjang SD, perusahaan asuransi akan
mencairkan investasi Anda sebesar Rp 10.000.000. Ketika anak Anda akan
memasuki jenjang SMP, Anda akan menerima uang sebesar Rp 15.000.000,
demikian seterusnya hingga anak Anda lulus kuliah, tentu dengan nominal
yang berbeda sesuai kesepakatan dalam polis.
Namun, jenis produk ini sebenarnya kurang tepat untuk dijadikan
instrumen investasi bagi dana pendidikan. Ada produk investasi yang
memiliki hasil yang jauh lebih efektif dan efisien, salah satunya
adalah reksadana.
Mengapa? Tunggu pembahasan lengkapnya di artikel berikutnya yaa…. Don’t miss it!
So, tunggu apa lagi? Get start planning and investing!
Segera hubungi financial planner Anda untuk mendapatkan informasi
terkait penentuan investasi yang tepat untuk Anda sesuai profil risiko
Anda dan tentu saja, sesuai dengan budget yang Anda miliki dan katakan:
“Sekolah mahal, so what!” |
| Next > |
|---|


Articles
Komentar yang sama yang mungkin juga Anda lontarkan ketika dihadapkan pada biaya pendidikan anak yang kini terasa semakin mencekik leher. Sementara di satu pihak, Anda juga tentu ingin agar putra-putri Anda mendapatkan sekolah yang baik. Sebenarnya, sekolah mahal itu adalah sebuah pilihan sadar yang Anda buat demi masa depan putra-putri Anda. Hanya saja mungkin selama ini Anda belum menemukan cara yang tepat menyiasatinya sehingga biaya sekolah menjadi sebuah beban moril dan materil yang terasa sangat berat.
