| Parents Trap |
| Thursday, 22 October 2009 | |
|
Parents Trap? Masak ortu sendiri menjebak kita? Gak mungkin? Emang gak mungkin. Tapi bisa saja kita akan dihadapkan dengan kondisi ‘terjebak’ oleh keuangan orang tua kita. Jadi mungkin beliau-beliau gak niat jebak, tapi tetap kenyataannya kita terjebak. Yang buat gue mengerikan adalah gue terus menerus bertemu Hard Rockers yang datang dengan ortu masing-masing ke kantor QM Financial – membawa kasus-kasus keuangan ortu yang kacau balau. Beban! Tapi bersyukur juga, paling gak orang-orang ini berniat untuk segera memperbaiki diri. Ada beberapa kondisi yang berpotensi membuat lo bisa masuk dalam Parents Trap di waktu yang akan datang :
Jadi sebelum sampai ketemu 3 kejadian di atas, segera NGOBROL dengan orang tua kita. It’s the hardest thing ever! Ngobrol uang dengan pacar aja susah. Ngobrol uang dengan suami atau istri sendiri aja susah. Apalagi ngobrol uang dengan orang tua kita. Selama ini ortu kita adalah orang-orang yang bertanggung jawab atas kelayakan hidup yang kita nikmati. Kalau lo udah umur di atas 18 tahun, lo udah jadi orang dewasa. Mungkin sudah waktunya lo sedikit terlibat dalam hidup orang tua lo – kebalikan dari kondisi selama ini. Mungkin sudah waktunya kita yang bertanggung jawab atas kelayakan hidup orang tua kita. Let’s not forget that for my Dad, I will forever be 13 years old :) anak SMP Taruna Bakti Bandung – pindahan dari SulawEsi, geek dengan rok dan kaos kaki kepanjangan, rambut sebahu berponi. Jadi sebuah prestasi besar ketika kemudian Papah nanya, “Teh, Teh, jadi uangku harus diapain?” Jreeeeeeng...
Paling gak, jadi lo bisa antisipasi.
STEP1 : Talk to your parents Pendekatan ini bisa dilakukan terutama untuk kasus ortu yang terlilit utang. Contohnya, gue pernah ketemu kasus seorang Bapak punya utang kartu kredit Rp 150 juta – ceritanya uang ini dipakai untuk berbisnis. Tentu saja kalau bisnisnya lancar dan mampu membayarkan cicilan utangnya, keluarga gak akan “panic mode”. Tapi ini jadi masalah besar ketika si Ibu yang biasa ada di rumah mulai didatangi debt collector. Anak-anak pun berkumpul dan melakukan intervensi masalah utang ini dengan si Bapak. Anak-anak tentu saja keberatan ketika hidup si Ibu jadi gak tenang dan nangis-nangis setiap hari gara-gara urusan utang kartu kredit Bapak. Gue pikir si Bapak akan tersinggung karena anak-anaknya melakukan intervensi. Ternyata gak. Si Bapak keliatan malu. Si Bapak akhirnya mau duduk berembuk bersama dengan semua anggota keluarganya. Bapak malah merasakan dukungan moral yang sangat besar dan terharu karena ketiga anaknya mau ikut membantu menyelesaikan masalah.
STEP 4 : Get The Numbers Out Jadi, coba buat perhitungan-perhitungan sederhananya! Kalau problemnya adalah Dana Pensiun, buat perhitungan Pengeluaran Bulanan dan Tahunan. Kalau problemnya adalah Utang, buat daftar semua utang yang ada dan termin pembayarannya. Kalau problemnya biaya kesehatan, ayo tanya-tanya berapa perkiraan biaya kesehatan orang-orang di sekitar kita!
Dengan cara ini paling tidak lo jadi tahu sebetulnya sebesar apa sih problem keuangan keluarga lo.
Satu hal ya... |
| < Prev | Next > |
|---|


Articles